TRIBUN-BALI.COM - Ratusan pusaka tradisional ditampilkan dalam Pameran Keris yang digelar di Museum Semarajaya mulai 28 April hingga 1 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Semarapura Festival serta peringatan Hari Puputan Klungkung.
Panitia pameran, Gede Adinata, mengungkapkan, kegiatan ini terselenggara atas kolaborasi Paiketan Keris Smara Dwija Kabupaten Klungkung dengan Dinas Kebudayaan melalui UPTD Museum Semarajaya.
“Total ada sekitar 120 keris dan dua mata tombak yang kami tampilkan. Seluruh koleksi berasal dari anggota paiketan, masyarakat Klungkung, hingga koleksi dari puri,” jelasnya, Selasa (28/4/2026).
Baca juga: JEMBATAN Bilukpoh Bakal Dibangun Ulang, Struktur Direncanakan di Sebelah Utara dan Lebih Tinggi
Baca juga: TERBUKTI Tipu Mantan Putri Indonesia Minta Uang Miliaran, Togar Situmorang Divonis 2,5Tahun Penjara
Beragam keris yang dipamerkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat makna filosofis.
Salah satu yang menarik perhatian, adalah keris dengan bentuk simbol Kala Wisesa yang merepresentasikan kekuatan naga, serta keris luk tiga dengan hiasan kinatah yang mencerminkan kehalusan seni ukir tradisional Bali.
"Kalau berbicara unik, tentu keris yang berbeda dengan yang lain. Misal keris kala wisesa dan hiasan kinatah ini," ungkapnya sembari menunjukan keris yang tersimpan rapi di estalase.
Tak hanya itu, pengunjung juga dapat melihat keris-keris tua yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-16 atau kisaran tahun 1500-an.
Sementara itu, beberapa koleksi lainnya berasal dari masa yang lebih muda, termasuk periode sekitar Puputan Klungkung pada abad ke-19.
Adinata menegaskan, seluruh keris yang dipamerkan merupakan benda pusaka yang tidak diperjualbelikan. “Ini warisan budaya yang memiliki nilai spiritual dan historis tinggi,” ujarnya.
Sementara untuk bursa keris, disiapkan tempat di teras museum untuk jual-beli keris Kamardikan.
Melalui pameran ini, ia berharap masyarakat dapat lebih mengenal dan menghargai keris sebagai bagian dari identitas budaya Bali, sekaligus memperkuat upaya pelestarian warisan leluhur. (mit)