Eks Hotel Sahid Jadi Mal Megah, Dilengkapi Ballroom dan Apartemen 10 Lantai
Abdul Azis Alimuddin April 29, 2026 01:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar akan tampil dengan wajah baru yang lebih modern dan terintegrasi.

Transformasi ini ditandai dengan groundbreaking pengembangan kawasan mixed-use di eks Hotel Sahid, Jl Ratulangi, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (28/4/2026).

Prosesi peletakan batu pertama dihadiri sejumlah pimpinan KALLA, di antaranya President Commissioner Fatimah Kalla, Chief Executive Officer Solihin Jusuf Kalla, Finance & Legal Director Imelda Jusuf Kalla, Marketing, Strategy & Digitalization Director Zumadi Setiawan Anwar, Chief Executive Officer Kalla Land & Property Ricky Theodores.

Turut hadir Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin bersama jajaran Forkopimda.

Hotel Sahid yang telah dirobohkan 2025 akan menjadi pusat aktivitas modern yang semakin memperkuat posisi Makassar sebagai hub kawasan Indonesia Timur.

Pengembangan MaRI dirancang dalam dua tahap.

Tahap pertama, fokus pada area parkir existing.

Termasuk perluasan gedung parkir untuk meningkatkan kapasitas dan kenyamanan pengunjung.

Tahap kedua, pengembangan akan diarahkan pada perluasan area mal dengan luasan yang dirancang setara dengan mal yang ada saat ini.

Konsep yang diusung akan menghadirkan pengalaman ritel dan gaya hidup yang lebih modern serta terintegrasi dengan berbagai fungsi dalam kawasan.

Baca juga: Kisah Keringat

Tak kalah menarik, kawasan ini juga akan dilengkapi dengan hunian vertikal berupa apartemen 10 lantai didukung 9 lantai parkir khusus penghuni.

HOTEL SAHID - Hotel Sahid Makassar berdampingan Mall Ratu Indah tahun 2016. Hotel Sahid akan disulap menjadi Mall Ratu Indah 2.
HOTEL SAHID - Hotel Sahid Makassar berdampingan Mall Ratu Indah tahun 2016. Hotel Sahid akan disulap menjadi Mall Ratu Indah 2. (TRIBUN-TIMUR.COM / SANOVRA)

Apartemen berkapasitas sekitar 230 unit dengan konsep kombinasi antara hunian investasi dan serviced apartment.

Fasilitas penunjang juga akan dihadirkan, termasuk ballroom yang berlokasi di area rooftop parkir.

Chief Executive Officer KALLA, Solihin Kalla (49) mengatakan pengembangan MaRI tidak sekadar pembangunan fisik.

Tetapi merupakan langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan kota yang lebih terintegrasi dan berdaya saing.

“Insya Allah, ini akan menjadi salah satu kawasan termegah di Kota Makassar,” kata Solihin.

Secara keseluruhan, proyek ini ditargetkan rampung dalam kurun waktu sekitar 2,5 tahun hingga 3 tahun.

Kehadiran pengembangan ini juga menjadi bagian dari strategi regenerasi MaRI yang telah beroperasi sejak tahun 2000 dan dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan pertama di Indonesia Timur.

Setelah pengembangan baru rampung, bangunan lama juga direncanakan akan direnovasi.

KALLA menargetkan kawasan ini tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga mengusung konsep ramah lingkungan dengan standar green building.

Upaya tersebut dilakukan melalui efisiensi energi, pemilihan material yang berkelanjutan, serta desain yang memperhatikan dampak lingkungan.

Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Wali Kota Makassar Munafri ‘Appi’ Arifuddin (50) mendukung penuh pengembangan area mixed-use MaRI.

Ia menilai kehadiran investasi tersebut akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Makassar.

"Kami dari Pemerintah Kota Makassar akan memberikan dukungan semaksimal mungkin agar pembangunan ini bisa cepat terlaksana," kata Appi.

Menurutnya, pengembangan MaRI merupakan bagian dari investasi swasta strategis yang akan memperkuat posisi Makassar sebagai kota dengan pertumbuhan ekonomi yang progresif.

Politisi Golkar ini menegaskan peningkatan investasi akan berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

Ia berharap proyek pengembangan area mixed-use MaRI dapat diselesaikan tepat waktu agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat.

Appi menekankan potensi besar penyerapan tenaga kerja dari kehadiran pusat perbelanjaan modern tersebut.

Menurutnya, pembangunan mal tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.

Appi menggambarkan aktivitas Kota Makassar yang semakin padat, terutama pada hari kerja.

Ia menyebut, jumlah penduduk yang pada malam hari sekitar 1,4 juta jiwa, meningkat hingga sekitar 2 juta jiwa pada siang hari akibat mobilitas pekerja dari daerah sekitar.

Akhir pekan, Makassar juga menjadi tujuan masyarakat dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan untuk berbelanja dan mencari hiburan.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa Makassar adalah kota yang sangat dinamis. Kehadiran mall seperti ini menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat, baik untuk berbelanja maupun rekreasi," kata Ketua IKA Fakultas Hukum Unhas itu.

Pemerintah Kota Makassar, kata dia, telah menerapkan sistem perizinan satu pintu yang transparan dan bebas dari praktik perantara.

"Kami memastikan seluruh proses perizinan dilakukan secara terbuka dan profesional, tanpa ada ruang bagi praktik percaloan," ujarnya.

Ia berharap pengelola mal dapat memberikan ruang bagi pelaku UMKM lokal agar bisa berkembang dan naik kelas dengan hadir di pusat perbelanjaan modern.

Minimal harus ada ruang bagi UMKM kita, agar mereka bisa ikut berkembang dan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi di mall ini.

Appi juga mengulas sejarah MaRI sebagai salah satu pusat perbelanjaan pertama dan ikon Kota Makassar pada masanya.

Dia menilai pengembangan kawasan ini menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut sekaligus menciptakan destinasi baru di kota.

"Dengan lokasi yang strategis dan luas kawasan sekitar 3 hektare, ini akan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Makassar," jelas mantan Bos PSM ini.

Ia mengapresiasi Kalla Group yang terus berkontribusi dalam investasi di Makassar.

Appi memaparkan capaian realisasi investasi Kota Makassar sepanjang tahun 2025 yang mencapai Rp5,29 triliun.

Nilai tersebut terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)  Rp4,15 triliun atau 78,57 persen, serta Penanaman Modal Asing (PMA) Rp1,13 triliun atau 21,43 persen.

Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan 2024 Rp3,82 triliun, atau tumbuh sekitar 38,48 persen.

"Sektor yang paling dominan meliputi perumahan, kawasan industri, dan perkantoran, disusul perdagangan dan reparasi, serta transportasi dan telekomunikasi," kata Appi.

"Ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan mixed-use seperti Mal Ratu Indah sangat relevan dengan tren investasi di Makassar," lanjutnya.

Appi menambahkan, pengembangan kawasan mixed-use merupakan bagian dari visi besar Pemerintah Kota Makassar, yakni Makassar MULIA (Unggul, Inklusif, Aman, dan Berkelanjutan).

"Proyek ini bukan hanya menghadirkan ruang ekonomi baru, tetapi juga menjadi simbol modernisasi kota yang inklusif dan berkelanjutan," katanya.

Solihin Kalla: Eks Lahan Hotel Sahid Disiapkan Jadi Kawasan Multifungsi

Lahan bekas Hotel Sahid di Jl Ratulangi, Makassar, Sulsel akan dikembangkan menjadi kawasan mixed use.

Mixed use merupakan konsep pengembangan kawasan atau bangunan multifungsi.

Menggabungkan hunian (apartemen/kondominium), komersial (mal/ritel), dan fasilitas dalam satu area.

Proyek ini menjadi bagian dari pengembangan Mal Ratu Indah (MaRI) di bawah naungan KALLA, yang ditargetkan memperkuat posisi Makassar sebagai pusat aktivitas di Indonesia Timur.

Chief Executive Officer KALLA, Solihin Kalla (49) mengatakan proyek berdiri di atas lahan sekitar 3 hektare.

Lokasi yang sebelumnya ditempati hotel bintang 4 yang pernah jadi ikon kota Makassar sejak 1998.

Hotel ini memiliki sekitar 220 kamar, dilengkapi berbagai fasilitas seperti restoran, kafe 24 jam, kolam renang, serta ruang pertemuan berkapasitas hingga 1.000 orang.

Hotel Sahid berhenti berperasi pada 2019 dan dirobohkan pada 2025.

Meski memiliki nilai historis dan menyimpan kenangan bagi masyarakat, Solihin mengatakan transformasi kawasan merupakan bagian dari dinamika perkembangan kota.

"Yang punya kenangan zaman dulu di Hotel Sahid, kenangan hanya tinggal kenangan. Past is the past, yang lalu kita harus buang dan kita akan membangun sesuatu yang baru yang lebih megah," kata Solihin, saat peletakan batu pertama pengembangan MaRI, Selasa (28/4/2026).

Pengembangan mal yang beroperasi sejak tahun 2000 itu akan menjadi menjadi mal megah di Makassar.

“Ini akan menjadi salah satu kawasan termegah di Kota Makassar,” ujar Solihin.

Ia menilai proyek ini tidak hanya sekadar pengembangan properti.

Tetapi juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran Makassar sebagai hub kawasan Indonesia Timur.

Hal itu seiring meningkatnya kebutuhan akan pusat aktivitas modern yang terintegrasi.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.