Kenapa Gerbong KRL Khusus Perempuan Ada di Ujung? Ini Penjelasan KAI Usai Insiden Tabrakan di Bekasi
khairunnisa April 29, 2026 12:06 AM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Inilah penjelasan terkait dengan alasan gerbong KRL khusus perempuan ada di depan dan belakang rangkaian kereta.

Penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian KRL Commuter Line kembali menjadi sorotan usai kecelakaan antara KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam. 

Penjelasan mengenai posisi gerbong tersebut sebenarnya sudah pernah disampaikan PT KAI setelah insiden benturan dua rangkaian KRL di Stasiun Juanda pada 2015. 

Saat itu, Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Muhammad Nurul Fadhila menjelaskan bahwa penempatan gerbong khusus perempuan di bagian depan dan belakang rangkaian merupakan hasil pertimbangan operasional serta aksesibilitas penumpang di stasiun-stasiun Jabodetabek yang padat. 

Menurut dia, posisi di ujung rangkaian justru memudahkan penumpang perempuan, termasuk ibu hamil, membawa anak, maupun lansia, untuk mengakses gerbong. 

“Kalau ditaruh di tengah mereka sulit untuk mencapainya. Bisa dibayangkan di Tanah Abang yang orangnya sangat ramai. Kalau yang sekarang kan lebih mudah,” kata Fadhila di Gedung Jakarta Railway Center, September 2015. 

Baca juga: Ain Karyawan Kompas TV Tewas dalam Insiden Tabrakan Kereta di Bekasi, Sang Adik Ungkap Curhatan Pilu

Ia mencontohkan, penumpang di stasiun besar seperti Kota atau Tanah Abang akan lebih cepat keluar jika berada di gerbong ujung. 

“Seperti misalnya ada yang sampai di Kota di kereta paling depan, tentu mereka akan lebih cepat turunnya,” ujarnya. 

Fadhila menegaskan, insiden kecelakaan KRL pada 2015 tidak mengubah kebijakan penempatan gerbong khusus perempuan tersebut. 

Menurutnya, skema itu sudah mempertimbangkan aspek keselamatan dan kebutuhan penumpang sejak awal. 

“Karena pada saat ini direncanakan dulu tentu kita tidak menginginkan terjadinya kecelakaan,” katanya. 

Sementara itu, kecelakaan terbaru di Bekasi Timur yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek mengakibatkan 15 penumpang KRL meninggal dunia dan 84 orang mengalami luka-luka. 

Para korban dievakuasi ke sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat. 

Adapun sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat dalam insiden tersebut. 

Sebanyak 10 kantong jenazah korban kecelakaan kereta itu kemudian di bawah ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan identifikasi.  

Berikut 10 dari 15 korban yang teridentifikasi di RS Polri Kramat Jati: 

  • Anita Sari (31), Cikarang Barat, Bekasi 
  • Harum Anjasari (27), Cipayung, Jakarta Timur 
  • Nur Alimantun Citra Lestari (19), Pasar Jambi 
  • Faridha Utami (50), Cibitung, Bekasi 
  • Fika Aknia Pratiwi (23), Cikarang Barat 
  • Ida Nuraida (48), Cibitung, Bekasi 
  • Gita Septia Wardani (20), Cibitung, Bekasi 
  • Fatmawati Rahmayani (29), Bekasi Selatan, Kota Bekasi 
  • Rinjani Novitasari (25), Tambun Selatan, Bekasi 
  • Nur Ainia Eka Rahmadhynna (32), Tambun Selatan, Kota Bekasi

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.