Di usia yang baru 17 tahun, ruang kembangnya masih sangat luas. Veda bukan lagi partisipan yang meramaikan grid, tapi pembalap yang mulai diperhitungkan oleh tim-tim elit Eropa.
Jakarta (ANTARA) - Dua puluh enam tahun lalu, di tahun 2000, masyarakat Indonesia punya tontonan yang ditunggu-tunggu pada akhir pekan di layar kaca. Bukan, bukan sinetron atau film kungfu, apalagi telenovela. Ini tentang olahraga.
Namun, bukan sepak bola, bukan juga bulu tangkis --dalam dua cabang ini seperti wajib nobar bagi Warga Negara Indonesia..Olahraga ini adalah balap motor. Ya, MotoGP. Jagoannya? Valentino Rossi!
Bagi masyarakat Indonesia saat itu, menonton MotoGP dengan sosok Valentino Rossi di tiap balapannya itu sama serunya dengan nonton Piala Dunia. Rossi di MotoGP itu seperti sang jagoan pemeran utama yang gonta-ganti "musuh" untuk dikalahkan. Max Biaggi, Sete Gibernau, Casey Stoner, Jorge Lorenzo, hingga yang paling kontroversial dan menjadi rival abadi hingga saat ini, Marc Marquez.
Drama. Penampilan Rossi di MotoGP memang berlimpah drama. Oleh karena itulah dia banyak diidolakan oleh fans MotoGP di tanah air.
Maaf untuk penggemar Marc Marquez, Rossi terbukti lebih digemari oleh masyarakat dengan seringnya pembalap Italia itu berkunjung ke Indonesia, jadi duta salah satu jenama sepeda motor, dan tidak sedikit tampil bersama Komeng di layar kaca. Bahkan hingga saat ini, BUMN migas Indonesia, Pertamina, menjadi sponsor utama VR46 Racing Team.
Namun, ketika masa keemasan sang peraih enam gelar juara MotoGP itu mulai memudar dan akhirnya pensiun di tahun 2021, lamat-lamat gairah menonton MotoGP mulai berkurang bagi sebagian orang.
Tinggal fans Marc Marquez yang terhibur lantaran hanya dia yang bisa menyamai panjangnya karier balap dan gelar juara dunia MotoGP yang diraih oleh Rossi. Masih ada yang menonton MotoGP, tapi tidak semasif era Rossi dulu. Pokoknya sepi.
Tapi kini, di tahun 2026, gairah menonton MotoGP bagi masyarakat Indonesia seperti kembali ke masa tahun 2000-an. Fans Valentino Rossi berbondong-bondong balik menonton balapan motor itu. Tapi bukan untuk menanti balapan di kelas utama MotoGP, melainkan Moto3, dengan jagoan baru yang kali ini asli Indonesia, remaja 17 tahun dari Gunungkidul Yogyakarta bernama Veda Ega Pratama.
Veda bukanlah pembalap Indonesia pertama yang mewakili Merah Putih di ajang balap motor Grand Prix. Ada nama-nama yang sudah lebih dulu sering masuk pemberitaan seperti Doni Tata, Rafid Topan, Dimas Ekky Pratama, Andi Gilang, hingga Mario Aji yang saat ini masih balapan di kelas Moto2. Tapi, dengan tidak merendahkan pembalap-pembalap terdahulu, baru Veda Ega yang bisa menyedot perhatian warga Indonesia untuk kembali menonton balap motor, meski itu di kelas terendah, Moto3.
Apa yang dilakukan Veda Ega Pratama di awal musim 2026 bukan cuma lumayan bagus untuk ukuran debutan. Ini bukan cerita adaptasi biasa yang butuh satu-dua musim untuk sekadar bertahan di papan tengah. Veda langsung menusuk ke rombongan depan, dan dalam percakapan komentator tentang perebutan podium.
Di seri kedua musim ini, di Autodromo Internacional Ayrton Senna, Brasil, ia finis di posisi ketiga. Sebuah hasil yang, kalau dilihat sekilas, mungkin terasa seperti satu kejutan. Tapi kalau ditarik ke belakang, sejarah yang ditulis oleh Veda itu buah dari hasil latihannya balapan di parkiran pasar sapi Gunungkidul sejak usianya lima tahun.
Dalam sejarah panjang pembalap Indonesia di Grand Prix, pencapaian Veda Ega adalah pendobrak.
"Indonesia, kalian memiliki bintang!" kata komentator MotoGP saat Veda mencatat sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang berhasil naik podium Grand Prix.
Satu Indonesia bangga. Media sosial dan media massa ramai dengan remaja 17 tahun dari Gunungkidul sang pencetak sejarah bagi Indonesia di dunia balap.
Tapi, itu tidak berhenti di Brasil. Veda bukan tipe pembalap yang naik sekali lalu hilang. Ia start kelima di Buriram pada debutnya di Moto3, dan finis di urutan yang sama. Ini pencapaian yang sudah sangat bagus bagi seorang pembalap pemula di Moto3.
Lalu Veda konsisten dua kali start dari posisi keempat pada GP Brasil dan Amerika. Sederhananya dalam bahasa balap, Veda cukup cepat. Adaptasinya dengan motor Honda NSF250RW milik Honda Team Asia berjalan lebih cepat dari kebanyakan rookie lain yang menunggangi motor serupa.
Tapi kecepatan saja tidak cukup untuk menjelaskan kenapa Veda begitu seru ditonton. Ada satu hal lain yang terasa familiar bagi para penggemar MotoGP, yakni cara Veda balapan: Agresif, berani, sedikit nekat
Gaya seperti ini bukan hal baru di MotoGP. Dulu, Valentino Rossi dijuluki The Doctor karena kepiawannya dalam hal-hal teknis terkait mekanis motor yang diterjemahkan sempurna saat balapan. Sementara Marc Marquez datang dengan gaya yang lebih ekstrem, yaitu late braking, menusuk ke celah sempit yang hampir tidak ada jalur untuk menyalip, dan agresif. Veda, dalam skalanya di Moto3, memperlihatkan pola yang mirip dengan Marquez.
Laiknya semua pembalap dengan gaya seperti itu, risikonya juga serupa. Di Austin, saat berada di grup depan, Veda mengalami high side keras. Sama seperti kebanyakan jenis kecelakaan yang dialami idolanya, Marc Marquez.
Veda tanpa poin di balapan ketiganya di Moto3. High side itu kembali terulang di Jerez, Spanyol, saat kualifikasi kedua yang membuat Veda harus memulai balapan dari posisi 17. Tapi ceritanya berbeda.
Start dari posisi ke-17 yang secara realistis membuat banyak pembalap hanya berharap masuk sepuluh besar. Tapi Veda tetap balapan dengan cara yang sama. Menyalip satu per satu lawannya, total 11 pembalap dilewati, dan finis keenam. Bukan podium, memang. Tapi sebuah pesan kuat bahwa kegagalan seri sebelumnya tidak sedikit pun menggerus nyalinya.
Kini, dengan koleksi 37 poin dan bertengger di peringkat keenam klasemen sementara, Veda menjadi kandidat terkuat untuk gelar Rookie of the Year 2026. Di usia yang baru 17 tahun, ruang kembangnya masih sangat luas. Veda bukan lagi partisipan yang meramaikan grid, tapi pembalap yang mulai diperhitungkan oleh tim-tim elit Eropa.
Seri balapan baru empat kali digelar. Musim masih panjang. Dengan jadwal balapan yang akan segera memasuki sirkuit-sirkuit klasik Eropa seperti Le Mans dan Mugello, konsistensi Veda dalam meraih poin akan menjadi penentu posisinya nanti. Dan itulah alasan mengapa saat ini menunggu balapan MotoGP kembali menyenangkan lagi.





