Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Harapan sederhana disampaikan Adi, pedagang gorengan di Jalan Merapi, Kelurahan Bandar Jaya Timur, Lampung Tengah. Ia ingin perbaikan ruas Bandar Jaya–Mandala benar-benar mengakhiri banjir yang kerap datang saat hujan deras, sekaligus mendongkrak kembali omzet dagangannya yang menurun selama bertahun-tahun.
"Terima kasih kalau mau diperbaiki. Semoga tidak banjir lagi dan ada peningkatan omzet," ujarnya saat ditemui di sela berjualan, Senin (27/4/2026).
Sejak mulai berjualan pada 2000, Adi menggantungkan penghasilan dari lalu lintas warga yang melintas di jalur tersebut. Namun kondisi jalan yang rusak membuat pembeli enggan berhenti.
"Ngaruh sih (ke usaha). Karena jalannya jelek, omzet kita bisa menurun," katanya.
Selain berlubang dan bergelombang, persoalan lain yang dihadapi adalah genangan air saat hujan. Saluran drainase yang tidak berfungsi membuat air kerap meluap ke badan jalan dan memperparah kerusakan.
"Hujan deras pasti banjir karena drainasenya sudah mampet. Dari dulu kalau hujan deras selalu banjir," tambahnya.
Kondisi itu kini mulai mendapat perhatian. Pemerintah Provinsi Lampung memulai pembangunan ruas Bandar Jaya–Mandala yang selama ini dikeluhkan warga karena menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, menyambut dimulainya proyek tersebut dengan optimistis. Ia menilai pembangunan ini menjadi langkah strategis untuk memperbaiki konektivitas wilayah.
Menurut Komang, dukungan anggaran dari pemerintah provinsi mencapai Rp306 miliar pada tahun ini, jumlah yang dinilai signifikan bagi pembangunan infrastruktur daerah.
"Ini bentuk perhatian serius dari provinsi terhadap kebutuhan masyarakat Lampung Tengah," ujarnya, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan ruas Bandar Jaya–Mandala memiliki peran penting karena menghubungkan dua jalan nasional dan menjadi jalur alternatif untuk mengurangi kemacetan di kawasan Terbanggi Besar.
Pemerintah daerah juga mengalokasikan anggaran melalui APBD untuk memperbaiki sedikitnya 13 ruas jalan lain. Program prioritas seperti "Jalan Tidak Berlubang" dan "Kampungnya Terang" turut didorong untuk meningkatkan kualitas infrastruktur.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela Chalim, mengatakan percepatan pembangunan tidak lepas dari banyaknya keluhan masyarakat, termasuk yang viral di media sosial.
"Laporan masuk hampir setiap hari. Lampung Tengah paling sering disorot, sehingga kami terdorong mengambil langkah konkret," katanya.
Ia menargetkan tingkat kemantapan jalan di Lampung Tengah meningkat dari 89,15 persen menjadi 96,03 persen pada akhir 2026.
Jihan menegaskan pembangunan jalan harus disertai pembenahan drainase agar tidak kembali rusak akibat genangan air. Karena itu, proyek ini juga mencakup perbaikan sistem saluran air.
Pemerintah turut mengajak masyarakat menjaga kebersihan drainase agar tidak tersumbat. Dengan perbaikan yang menyeluruh, diharapkan akses semakin lancar dan aktivitas ekonomi warga kembali tumbuh.
Bagi Adi, hasil pembangunan nanti bukan sekadar jalan mulus, tetapi peluang agar pembeli kembali datang dan usahanya bisa bertahan.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)