Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MADINAH - "Ya Allah, jadikanlah langkahku ke masjid ini bernilai pahala Umrah, terimalah amal ibadahku, dan ampunilah segala dosa-dosaku."
Itu doa pertama kali setelah salat dua rakaat di Masjid Quba, Madinah, masjid pertama dibangun Nabi Muhammad SAW.
Masjid Quba dibangun di atas kebun kurma Bani Amru bin Auf.
Saat jauh, masjid ini sudah terasa sangat hangat.
Memasuki ruang wudhu, airnya hangat.
Suasananya tenang.
Ada puluhan anak-anak bermain di area pekarangan masjid.
Memasuki masjid pun terasa tenang.
Jamaah berlomba-lomba untuk memilih saf terdepan.
Mereka salat dua rakat.
Karena ada hadis:
“Siapa yang bersuci di rumahnya, lalu ia mendatangi Masjid Quba’, lantas ia melaksanakan shalat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.” (HR. Ibnu Majah)
Dalam riwayat hadits lainnya juga Rasulullah bersabda,
“Shalat di Masjid Quba’, (pahalanya) seperti umrah.”(HR. Tirmidzi)
Hal itu menjadi pegangan umat muslim ketika mengunjungi masjid yang berjarak tiga kilometer dari Masjid Nabawi ini.
Beberapa saat kemudian, magrib tiba.
Imam memerintahkan: Istawu wa ta'dilu sufufakum.
Jamaah semakin sesak.
Ada Malaysia, Pakistan, Turkiye, hingga negara-negara Eropa dan Afrika.
Hingga, siku antar jamaah bertemu.
Sampai-sampai, kita bisa merasakan nafas jamaah di samping kiri kanan.
Sehabis salat ada ceramah.
Ceramah ini membahas soal musim haji.
"Anda sedang bepergian, jadi jangan mempermalukan diri sendiri di depan orang lain, tetapi mandirilah.
Allah Yang Maha Kuasa tidak memerintahkan orang beriman untuk melaksanakan haji jika ia mampu, dan Allah telah memerintahkan manusia untuk melaksanakan haji ke Baitullah bagi mereka yang mampu menemukan jalan ke sana."
Isi potongan ceramah dari seorang syekh senior.
Syekh ini membahas panjang soal tata cara haji. (hasim arfah)