Firasat Suami: Kepulangan Larut Malam Ibu Guru Nurlaela Berakhir Duka dalam Tragedi KRL
Hilda Rubiah April 29, 2026 12:11 PM

TRIBUNJABAR.ID - Tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur masih menyimpan duka bagi keluarga para korban meninggal dunia.

Duka tersebut juga menyelimuti keluarga Ibu Guru Nurlaela (39), seorang pendidik berstatus ASN di SDN 11 Pulo Gebang, Jakarta Timur.

Nurlaela menjadi korban kecelakaan kereta yang melibatkan Commuter Line Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Kepergian almarhumah menyisakan duka mendalam, terutama bagi sang suami yang sempat merasakan firasat tidak tenang.

Pada hari kejadian, Nurlaela mengubah jadwal pulangnya hingga larut malam. Padahal, biasanya Nurlaela sosok yang disiplin waktu dan selalu pulang sore hari.

Setiap harinya, ia berangkat pukul 05.00 subuh dari rumahnya di Bekasi menuju Stasiun Cikarang, lalu melanjutkan perjalanan dengan KRL hingga Stasiun Cakung. 

Baca juga: Takziah, Dedi Mulyadi Angkat Anak Nurlaela Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Jadi Anak Asuh

Menurut sang suami, Nurlaela biasanya sudah tiba di rumah paling lambat saat waktu Maghrib.

Namun, pada hari nahas tersebut, beban pekerjaan akhir semester memaksa Nurlaela untuk tetap tinggal di sekolah hingga malam hari. 

"Pas kejadian kemarin itu kebetulan dia memang lagi ada pekerjaan, sibuk menjelang akhir semester, ngerjainnya di sekolahan," ungkap sang suami, dikutip dari tayangan Youtube Dedi Mulyadi, Rabu (29/4/2026).

Saat kejadian, almarhumah Nurlaela diketahui baru meninggalkan sekolah sekitar pukul 20.30 WIB.

Komunikasi Terakhir

Rasa cemas mulai menyelimuti hati sang suami ketika istrinya belum juga sampai di rumah. 

Sekitar pukul 20.30 WIB, sang suami meminta anaknya untuk mengirim pesan WhatsApp (WA) menanyakan keberadaan ibunya. 

Nurlaela sempat membalas bahwa ia masih berada di Pulo Gebang dan akan pulang malam.

Sang suami pun segera mencoba menghubungi ponsel istrinya. 

Meski nada sambung terdengar aktif, panggilan tersebut tidak kunjung diangkat. 

Baca juga: Foto-foto Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Tewaskan 14 Penumpang

Kronologi Pencarian

Karena cemas menantikan kabar istrinya, tanpa menunggu lama, suami Nurlaela itu berinisiatif langsung mendatangi lokasi kejadian yang sudah dipenuhi petugas evakuasi dan ambulans. 

Di sana, ia diarahkan untuk mencari informasi di empat rumah sakit berbeda, yaitu RSUD Kota Bekasi, RSUD Cibitung, RS Juanda, dan RS Medika.

Keluarga pun berpencar melakukan pencarian. Awalnya, mereka hanya menyisir ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena menolak untuk percaya bahwa Nurlaela telah tiada. 

"Saya juga enggak ngarepin ke situ, makanya enggak mau nyari ke kamar jenazah," kenang sang suami dengan haru. 

Harapan itu pupus saat seorang rekan guru mengabari bahwa jenazah Nurlaela berada di kamar jenazah RSUD Bekasi.

Dapat Santunan dari Dedi Mulyadi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengunjungi rumah duka ibu guru Nurlaela itu di Kampung Ceger, RT 02/RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Dedi Mulyadi menyebut almarhumah sebagai "tokoh pendidik yang gugur setelah menunaikan tugas", terlebih kejadian ini berdekatan dengan Hari Pendidikan Nasional. 

Sebagai bentuk simpati, Dedi Mulyadi memberikan bantuan pendidikan sebesar Rp50 juta dan berkomitmen menjadikan anak tunggal almarhumah yang masih kelas 6 SD sebagai anak asuhnya hingga sukses.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.