Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, menegaskan bahwa akses keluar masuk Pintu Magangan Keraton Solo tidak memerlukan pergantian atau kepemilikan kunci pribadi.
Melainkan, cukup dengan berkomunikasi langsung kepada petugas penjaga yang bertugas.
Pernyataan ini disampaikan di tengah polemik gembok pintu Magangan yang sempat membuat sejumlah kendaraan di area Keraton Kasunanan Surakarta, termasuk milik GKRP Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, tidak bisa keluar.
KPH Eddy Wirabhumi menekankan bahwa sistem akses di lingkungan keraton sudah memiliki aturan baku yang harus dipatuhi semua pihak.
Menurutnya, pintu Magangan dijaga oleh petugas khusus atau pejagen yang bertugas selama 24 jam.
“Itu bukan ngunci atau gembok mobil Gusti Timoer tapi pintu itu buka tutup kuncinya petugas jaga atau pejagen yang tanggung jawab. Jadi tidak bisa kunci dibawa sembarang orang misal sopir Gusti Timoer atau Gusti Timoer. Keraton tidak bisa diperlakukan seperti rumah pribadi, ada aturannya,” ujar Eddy, Selasa (28/4/2026).
Lebih lanjut, LDA menilai persoalan akses sebenarnya tidak perlu menjadi polemik berkepanjangan.
Eddy menyebut, GKRP Timoer hanya perlu melakukan komunikasi dengan penjaga yang sedang bertugas jika ingin keluar atau masuk area keraton.
“Bisa (mengakses) hanya perlu bilang ke penjaga. Pejagen 24 jam ada. Tapi balik lagi keraton ada aturan jam buka jam tutup. Dia tahu itu,” jelasnya.
Baca juga: Geger Lagi Drama Gembok Keraton Solo, LDA : Kunci Tak Bisa Diberikan Sembarangan
Sebelumnya, konflik akses Pintu Magangan mencuat setelah sejumlah kendaraan milik pengageng di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta sempat terjebak di dalam area akibat pergantian gembok yang tidak disertai penyerahan kunci secara konsisten.
GKRP Timoer sendiri sempat mengaku harus mengganti gembok agar kendaraan bisa keluar.
Namun kemudian menghadapi kondisi serupa karena gembok kembali diganti oleh pihak lain tanpa koordinasi yang jelas.
“Maksudnya kalau saya kan, saya ganti gembok kemudian satu kunci saya berikan mereka supaya mereka juga tetap bisa mengakses. Nah, kalau mereka nggak seperti itu. Mereka ganti gembok tapi tapi saya nggak dikasih kunci,” ungkapnya
(*)