Soal Ucapan Arifah Fauzi: Reza Indragiri Sebut Absurd, AHY Tekankan Sistem Keselamatan
Satrio Sarwo Trengginas April 29, 2026 02:54 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, terkait usulan pemindahan gerbong khusus perempuan ke bagian tengah rangkaian KRL menuai beragam tanggapan.

Kritik datang dari Ahli Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, yang menilai usulan tersebut tidak tepat.

Reza menyebut gagasan tersebut sebagai sesuatu yang "absurd", terutama jika dikaitkan dengan penanganan situasi kecelakaan.

Menurutnya, pendekatan berbasis jenis kelamin tidak relevan dalam menghadapi risiko fatal seperti tabrakan kereta.

"Betapa absurdnya usulan Menteri PPPA ini. Dalam situasi kecelakaan seberat ini, penanganan tidak sepatutnya didasarkan pada jenis kelamin penumpang."

"Seolah Menteri ingin mengatakan, ketika terjadi tabrakan kereta, jumlah korban perempuan harus dikurangi dan penumpang lelaki juga patut menjadi korban dengan jumlah yang setara," kata Reza kepada Tribunnews.com, Selasa (28/4/2026).

Ia menegaskan, baik laki-laki maupun perempuan memiliki risiko yang sama saat terjadi kecelakaan.

Oleh karena itu, menurutnya, keselamatan penumpang tidak bisa dipilah berdasarkan gender.

Meski demikian, Reza mengaku memahami latar belakang keberadaan gerbong khusus perempuan, yakni untuk meminimalisir potensi pelecehan seksual di transportasi umum.

Namun, ia mengingatkan bahwa semua penumpang memiliki nilai keselamatan yang sama.

"Saya berempati terhadap penumpang perempuan yang berulang menjadi korban pelecehan seksual, walau kita juga harus insafi bahwa penumpang lelaki juga bisa bahkan telah menjadi korban pidana serupa."

"Karena itulah Commuter Line sudah mengambil ikhtiar menurunkan risiko yang patut didukung, yakni dengan mengadakan kereta khusus perempuan."

"Tapi, sekali lagi, ketika terjadi benturan fatal yang bisa memakan korban jiwa, lelaki dan perempuan sama-sama memiliki cuma satu nyawa. Menjadi penumpang di kereta yang dihantam rangkaian lain, akan menghadap-hadapkan mereka pada risiko maut yang sama."

"Penumpang lelaki yang berada di kereta paling depan dan paling belakang berhadapan dengan kekritisan yang sama dengan penumpang perempuan di posisi kereta yang sama," jelas Reza.

Respons AHY

Respons juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Ia menekankan bahwa fokus utama seharusnya berada pada sistem keselamatan transportasi, bukan pada perbedaan jenis kelamin penumpang.

Menurut AHY, keselamatan publik harus menjadi prioritas utama dalam setiap moda transportasi.

Ia mengingatkan pentingnya menghadirkan sistem yang aman, nyaman, dan mampu melindungi seluruh penumpang tanpa terkecuali.

"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman, nyaman, dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon, tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik," ucap AHY di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026) sore. 

Meski begitu, AHY mengaku memahami kekhawatiran terkait tingginya risiko yang dialami kelompok rentan, termasuk perempuan, dalam insiden tertentu.

"Memang belum pernah terjadi sebelumnya ada tumbukan dari KRL dari belakang dihantam. Dan kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita. Jadi pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan risiko yang paling tinggi," jelas AHY. 

Berita terkait

  • Baca juga: SOSOK Harum Korban Tragedi KRL Bekasi, Pekerja Keras dan Berbakti Pada Orangtua
  • Baca juga: KDM Datangi Rumah Duka Nur Aini, Karyawan Kompas TV Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi
  • Baca juga: SOSOK Menteri PPPA Arifah Fauzi yang Disorot Negatif Usai Usul Gerbong KRL Perempuan di Tengah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.