Kisah Yati Suryati, Berdayakan Ibu Rumah Tangga Lewat Usaha Sotong dan Tahu Bulat di Cijulang Ciamis
Dedy Herdiana April 29, 2026 04:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Di tengah dinamika usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemberdayaan perempuan menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.

Hal itu terlihat dari usaha milik Yati Suryati (41), owner Sotong Queen di Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis. 

Sejak merintis usaha camilan sotong dan tahu bulat pada akhir 2019, Yati konsisten melibatkan ibu-ibu rumah tangga dalam proses produksinya.

“Memang dari awal cita-cita saya ingin memberdayakan ibu-ibu supaya bisa punya penghasilan sendiri," ujar Yati saat ditemui di Pabrik Produksi Sotong dan Tahu Bulat, Rabu (29/4/2026).

Baca juga: Dinsos Ciamis Latih 15 PPKS Memotong Rambut, Dibekali Skill hingga Mental Usaha

Kini, usahanya telah menyerap sekitar 30 tenaga kerja, yang mayoritas merupakan perempuan dari lingkungan sekitar. 

Mereka terlibat dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pengolahan adonan, pencetakan, hingga pengemasan produk.

Produk yang dihasilkan berupa sotong berbahan dasar aci (tapioka) dan tepung terigu, serta tahu bulat berbahan kedelai. 

Seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual, sehingga membuka lebih banyak peluang lapangan kerja bagi masyarakat, khususnya perempuan.

Dalam sehari, produksi sotong bisa mencapai 160–170 kilogram, sementara tahu bulat sekitar 2,5 kuintal. 

Aktivitas produksi pun berjalan hampir setiap hari tanpa libur panjang.

“Produksi kita setiap hari, hampir tidak ada libur. Setelah Lebaran juga H+3 sudah mulai  produksi lagi,” katanya.

Tak hanya menyerap tenaga kerja lokal, Yati juga membangun jejaring kemitraan dengan puluhan pelaku usaha lain. 

Tercatat, ia memiliki sekitar 89 mitra usaha di wilayah Bandung serta beberapa mitra di Cisarua dan Ciamis.

Hasil produksinya dipasarkan hingga ke wilayah Jabodetabek, dengan harga mulai dari Rp1.900 per pack sotong (isi 10) dan Rp9.500 per pack tahu bulat (isi 50), namun harga tersebut bisa berbeda tergantung jumlah pesanan.

Meski fokus pada pemberdayaan perempuan, Yati mengakui usahanya tidak lepas dari tantangan, terutama kenaikan harga bahan baku seperti plastik kemasan.

“Harga plastik untuk sotong dari Rp27 ribu sekarang jadi Rp51 ribu per kilogram. Untuk tahu juga naik jadi Rp50 ribu,” ungkapnya.

Kenaikan tersebut berdampak pada meningkatnya biaya produksi. Namun, demi menjaga daya beli pasar dan keberlangsungan usaha para mitra, Yati memilih untuk tidak langsung menaikkan harga jual atau mengurangi kualitas produksi.

“Kalau harga dinaikkan takut pembeli lari. Jadi sementara ini masih kita tanggung,” katanya.

Ia juga sempat mencoba menyiasati dengan mengubah jumlah isi per kemasan sotong, namun ditolak oleh para pedagang karena dinilai sulit dijual.

Akibatnya, margin keuntungan pun ikut tertekan. Padahal, dalam kondisi normal omzet kotor usahanya bisa mencapai Rp70 juta hingga Rp85 juta per pekan.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Yati tetap berkomitmen untuk mempertahankan usahanya sebagai wadah pemberdayaan perempuan di lingkungan sekitarnya.

“Mudah-mudahan usaha ini terus berjalan, dan ibu-ibu di sini tetap bisa bekerja dan punya penghasilan,” harapnya.(*)

 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.