TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltara, Peter Setiawan, menilai peluang ekspor langsung dari Tarakan ke China maupun Hongkong semakin terbuka lebar.
Peter Setiawan menegaskan masih ada persoalan krusial yang perlu segera diselesaikan, terutama terkait tingginya biaya logistik kontainer yang dinilai belum kompetitif.
Menurut Peter Setiawan, kegiatan akselerasi ekspor langsung yang mulai didorong pemerintah patut diapresiasi. Ia menyebut langkah tersebut penting agar pelaku usaha di daerah tidak terus bergantung pada jalur ekspor melalui daerah lain.
“Kalau saya tentu apresiasi, karena memang kita harus ekspor langsung. Kenapa kita tidak seperti Batam atau daerah lain? Harusnya kita bisa, supaya nilai tambahnya tinggal di Tarakan dan hasil laut kita lebih menguntungkan nelayan,” ujarnya.
Baca juga: Akselerasi Ekspor Langsung dari Tarakan, BKHIT Dorong Produk Unggulan Kaltara Tembus Pasar Global
Ia menjelaskan, selama ini banyak komoditas unggulan Kaltara khususnya hasil laut seperti udang dan ikan justru diekspor melalui negara tetangga, seperti Malaysia. Kondisi ini bermula sejak kebijakan larangan ekspor benih lobster dan kepiting pada masa Menteri Kelautan dan Perikanan sebelumnya, yang membuat pelaku usaha asing memindahkan basis operasional ke Tawau.
“Dulu pengusaha China banyak buka kantor di Tawau. Dari sana mereka ekspor ke Kuala Lumpur, lalu ke China. Akibatnya, produk kita dikenal dari Tawau, bukan dari Tarakan. Ini yang sayang,” jelasnya.
Peter Setiawan menilai, jika ekspor langsung dari Tarakan ke kota-kota besar di China seperti Shanghai dapat berjalan optimal, hal itu akan menarik minat investor asing untuk masuk ke Kaltara.
“Kalau kita bisa ekspor langsung, otomatis investor China akan datang ke Tarakan. Ini peluang besar,” katanya.
Namun demikian, ia menyoroti perbedaan biaya logistik yang sangat mencolok. Saat ini, biaya pengiriman kontainer langsung dari Tarakan ke China bisa mencapai sekitar Rp150 juta. Sementara jika melalui Surabaya, biaya dari Surabaya ke China hanya sekitar Rp50 juta per kontainer.
Baca juga: Distribusi Logistik di Nunukan Disorot, Kepastian Kontainer dan Tarif Tol Laut Dipertanyakan
“Masalahnya di sini. Dari Tarakan ke Surabaya bisa Rp100 juta, lalu dari Surabaya ke China Rp50 juta. Totalnya sama Rp150 juta, tapi akhirnya banyak yang pilih ekspor lewat Surabaya. PAD kita tidak dapat, yang dapat justru daerah lain,” ungkapnya.
Ia menegaskan, persoalan ini menjadi tantangan utama yang harus segera dipecahkan jika pemerintah serius ingin mendorong ekspor langsung dari daerah.
“Kalau dari pengusaha, sederhana saja. Kami maunya dua. Pertama, harga murah dan kedua, waktu pengiriman cepat. Itu saja,” tegasnya.
Selain biaya logistik, Peter Setiawan menyinggung dampak kondisi global terhadap kegiatan ekspor. Ia menyebut kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik dan kemasan, serta biaya kontainer yang terus meningkat, mulai memengaruhi margin pelaku usaha.
“Sekarang harga packaging naik, kontainer juga naik. Tapi harga jual ekspor tidak ikut naik. Ini pasti berpengaruh,” katanya.
Meski begitu, ia memastikan permintaan pasar internasional masih cukup stabil, terutama dari negara-negara seperti Belanda dan Amerika Serikat. Komoditas utama yang diekspor tetap didominasi hasil laut. Komoditas dikirim seperti udang beku.
“Permintaan masih ada. Kita kirim ke Belanda, Amerika, dan lainnya. Tapi memang untuk Timur Tengah saat ini belum ada,” ujarnya.
Di sisi lain, Peter Setiawan melihat peluang lebih luas dari konektivitas internasional, tidak hanya untuk ekspor barang tetapi juga pergerakan orang. Ia berharap ke depan Tarakan dapat membuka jalur penerbangan internasional langsung, sehingga mampu menarik wisatawan mancanegara.
“Kalau wisatawan masuk, ekonomi langsung bergerak. Hotel hidup, UMKM jalan, semua sektor ikut bergerak. Kita punya potensi itu,” katanya.
Ia mencontohkan aktivitas di Tawau yang mampu mendatangkan ribuan wisatawan dari China setiap hari. Menurutnya, Tarakan seharusnya bisa mengambil peluang serupa dengan memanfaatkan posisi geografis yang strategis.
“Intinya kalau mau maju, arus barang dan orang harus lancar. Dari situ baru PAD bisa meningkat,” pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah