Tokoh Nasional dan Lintas Lembaga Bersatu Dukung Gerakan anti-TPPO dari Sulawesi Utara
Frandi Piring April 29, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Gerakan pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang lahir dari akar rumput di Sulawesi Utara kini mulai mendapat dukungan luas dari berbagai tokoh nasional, lembaga kemanusiaan, aparat penegak hukum, hingga jaringan perlindungan pekerja migran Indonesia.

Pertemuan yang berlangsung di Bandara Internasional Sam Ratulangi antara Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang (Jarnas APO) Rahayu Saraswaty Djojohadikusomo bersama Komunitas Lingkungan Peduli TPPO Sulut menjadi simbol kuat bahwa upaya pencegahan perdagangan orang kini tidak lagi hanya bertumpu pada pemerintah, namun telah berkembang menjadi gerakan kolaboratif lintas elemen masyarakat.

Founder komunitas Antonius Sangkay sebagai sosok low profile dan dekat dengan kalangan media di Sulawesi Utara memaparkan program “Gerakan 1.000 Jaringan Lawan TPPO” yang saat ini sedang dibangun hingga ke wilayah pesisir dan pelosok desa.

Program tersebut diperkuat melalui pembentukan sistem pelaporan cepat berbasis WhatsApp Group yang melibatkan ketua lingkungan, relawan milenial, Gen Z, tokoh masyarakat, hingga para orang tua di wilayah rawan perekrutan PMI non prosedural.

Dalam kesempatan itu, Antonius menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang  Rahayu Saraswaty Djojohadikusomo yang telah meluangkan waktu berdialog bersama komunitas Lingkungan peduli TPPO di Sulawesi Utara.

“Bagi kami ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan bentuk dukungan moral yang sangat besar bagi gerakan masyarakat di daerah untuk terus melawan perdagangan orang dan melindungi generasi muda dari jerat TPPO,” ujar Antonius, Rabu (29/4/2026)

Kata Antonius, dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari Marthinus Gabriel Goa selaku Tenaga Ahli Kementerian HAM Bidang Human Trafficking dan Instrumen Internasional HAM yang juga merupakan Direktur PADMA Indonesia serta salah satu pendiri dan pengawas Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang.

“Saat di hubungi via telepon selulurnya beliau mengatakan penguatan komunitas lokal merupakan salah satu langkah paling efektif dalam mendeteksi dan mencegah praktik perdagangan orang sejak dari tingkat bawah masyarakat,” tuturnya.

Lanjut Antonius mengatakan, selain itu, dukungan aktif juga diberikan oleh Winda Winotan selaku Direktur Eksekutif Yayasan Kasih Yang Utama (YKYU) sekaligus Sekretaris Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang yang sejak awal turut membangun koordinasi dan penguatan jaringan perlindungan korban TPPO di Sulawesi Utara telah  melakukan pertemuan serta mendukung kegiatan Komunitas lokal tersebut.

Di sisi perlindungan pekerja migran, Kepala BP3MI Sulawesi Utara, M. Syahcrul Afriady. S.Kom. M.A.P pada berbagai kesempatan menyampaikan apresiasi terhadap gerakan komunitas ini yang dinilai sangat membantu negara dalam upaya sosialisasi migrasi aman dan pencegahan PMI non prosedural.

“Kehadiran komunitas lokal seperti ini sangat membantu memberikan edukasi langsung kepada masyarakat terkait bahaya PMI non prosedural dan risiko perdagangan orang. Kolaborasi seperti ini harus terus diperkuat,” ungkap Syahcrul.

Diketahui, selama hampir satu tahun berjalan, Komunitas Lingkungan Peduli TPPO Sulut diketahui aktif turun langsung ke titik-titik rawan perekrutan tenaga kerja ilegal, melakukan sosialisasi migrasi aman, hingga mendampingi keluarga PMI bermasalah di luar negeri agar berani melapor kepada pemerintah dan aparat penegak hukum.

Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian publik nasional ialah kasus PMI asal Sulawesi Utara di Libya, MD alias Meylani. 

Dalam penanganan kasus tersebut, komunitas memainkan peran strategis dengan membangun koordinasi lintas instansi dari daerah hingga pusat, termasuk komunikasi dengan pihak KBRI, sehingga korban akhirnya berhasil dipulangkan ke Indonesia dengan selamat, ajakan bergabung dalam WA grup Komunitas Lingkungan Peduli TPPO Sulut Program  Gerakan 1.000 Jaringan Lawan TPPO dengan cara ketik " Gabung TPPO " kirim wa/sms ke 085298077707 

Kini, Bandara Internasional Sam Ratulangi disebut sebagai salah satu titik penting pengawasan (transit monitoring) calon korban human trafficking di wilayah Indonesia Timur.

Dari Sulawesi Utara, gerakan perlawanan terhadap perdagangan orang mulai membangun kekuatan nasional.

Kolaborasi antara tokoh nasional, komunitas lokal, aparat, relawan muda, dan lembaga perlindungan migran kini menjadi harapan baru dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari ancaman TPPO. (Edi)

Baca juga: Meylani Korban TPPO di Libya Akhirnya Pulang ke Manado, Menangis Peluk Sang Adik di Bandara

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.