Harga Emas di Aceh Kompak Melemah, Ada yang Jebol ke Rp 7 Jutaan! Berikut Rinciannya 29 April 2026
SERAMBINEWS.COM – Pergerakan harga emas di sejumlah wilayah di Aceh pada Rabu (29/4/2026) menunjukkan tren yang beragam, namun secara umum masih berada dalam tekanan.
Penurunan harga terjadi di beberapa daerah, meski ada juga wilayah yang mencatat harga stabil. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global, termasuk konflik geopolitik yang berdampak pada harga emas dunia.
Berikut rangkuman perkembangan harga emas di beberapa kabupaten/kota di Aceh:
Baca juga: Usai Merosot, Harga Emas di Langsa Kembali Bertahan, Ini Rinciannya pada 29 April 2026
Harga emas di Lhokseumawe tercatat mengalami penurunan dibandingkan hari sebelumnya.
Pedagang emas di kawasan Jalan Perniagaan menyebutkan bahwa harga emas murni maupun emas london sama-sama turun.
Harga emas murni pada Selasa (28/4/2026) berada di Rp 7.401.000 per mayam, kemudian turun menjadi Rp 7.350.000 per mayam pada Rabu (29/4/2026). Penurunan ini setara Rp 51.000 per mayam atau Rp 17.000 per gram.
Sementara itu, emas london juga mengalami penurunan dari Rp 6.901.000 per mayam menjadi Rp 6.850.000 per mayam.
Untuk emas jenis 22 atau emas paon, harganya relatif stabil tergantung bentuk perhiasan, dengan kisaran Rp 2.200.000 hingga Rp 3.000.000 per gram.
Menariknya, dalam sepekan terakhir, aktivitas transaksi didominasi oleh penjualan dibandingkan pembelian.
Baca juga: Harga Emas LM dan Antam di Aceh Timur Kembali Merosot, Perhiasan Stagnan
Di Banda Aceh, harga emas juga masih melanjutkan tren penurunan.
Harga emas per mayam kini berada di level Rp 7.950.000, turun Rp 60.000 dari sebelumnya Rp 8.010.000 per mayam.
Penurunan ini menunjukkan bahwa tekanan pasar masih berlanjut dan belum ada tanda pemulihan yang kuat.
Jika dikonversikan, harga emas per gram berada di kisaran Rp 2.387.000.
Meski demikian, harga tersebut belum termasuk ongkos pembuatan perhiasan yang berkisar Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per mayam.
Baca juga: Harga Emas di Lhokseumawe Turun Lagi, Cek Rinciannya pada 29 April 2026
Di Aceh Timur, harga emas menunjukkan pola berbeda antara emas batangan dan perhiasan.
Emas logam mulia (LM) mengalami penurunan, sementara emas perhiasan cenderung stagnan.
Harga emas LM lokal turun dari Rp 2.520.000 menjadi Rp 2.495.000 per gram. Sementara emas Antam juga turun dari Rp 2.814.000 menjadi Rp 2.784.000 per gram.
Untuk emas perhiasan, tipe 99 masih berada di Rp 8.300.000 per mayam, dan tipe A di Rp 8.000.000 per mayam.
Penurunan ini dipengaruhi oleh harga emas dunia yang melemah hingga sekitar 2 persen, dengan harga spot di kisaran US$ 4.584,5 per troy ons.
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat disebut menjadi salah satu faktor utama.
Baca juga: Harga Emas di Kabupaten Aceh Timur Merosot, Segini Harga per Mayam
Berbeda dengan daerah lain, harga emas di Kota Langsa justru terpantau stabil setelah sebelumnya mengalami penurunan.
Harga emas perhiasan 99,5 persen saat ini bertahan di Rp 8.600.000 per mayam, sementara emas 97 persen berada di Rp 8.350.000 per mayam. Ongkos pembuatan dipatok sekitar Rp 50.000 per mayam.
Untuk emas kadar 70 persen, harga masih berada di Rp 2.300.000 per gram.
Di Kabupaten Bener Meriah, harga emas murni kembali mengalami penurunan tipis.
Harga per gram turun dari Rp 2.400.000 menjadi Rp 2.390.000, atau setara Rp 7.170.000 per mayam.
Sementara emas london tidak mengalami perubahan dan tetap berada di Rp 2.350.000 per gram atau Rp 7.050.000 per mayam.
Meski harga mengalami perubahan, aktivitas transaksi di daerah ini justru didominasi pembelian, dengan perbandingan sekitar 75 persen pembeli dan 25 persen penjual.
Secara keseluruhan, harga emas di Aceh masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di sebagian besar wilayah.
Faktor global seperti konflik geopolitik dan pergerakan harga emas dunia masih menjadi pemicu utama.
Namun, kondisi pasar lokal juga turut memengaruhi, terutama dari sisi permintaan dan penawaran di masing-masing daerah.
Baca juga: Harga Emas di Langsa Stagnan, Per Mayam Dijual Rp 8,7 Juta, Ini Datanya
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)