SURYA.co.id – Dunia sempat bernapas lega ketika Iran mengajukan proposal pembukaan Selat Hormuz dan penghentian konflik pada Senin (27/4/2026), melalui mediator Pakistan.
Namun harapan itu runtuh setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru menunjukkan sinyal penolakan.
"Dia (Trump) tidak puas dengan proposal Iran tersebut," kata pejabat yang diberi informasi soal diskusi di Gedung Putih, seperti dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Laporan CNN juga menegaskan bahwa tawaran Iran, termasuk pencabutan blokade pelabuhan, tidak menjawab kekhawatiran mendasar Washington terkait nuklir.
Di balik penolakan ini, muncul pertanyaan besar: mengapa peluang damai di jalur energi paling vital dunia justru ditolak?
Jawabannya bukan sekadar diplomasi biasa, melainkan kalkulasi strategis jangka panjang tentang dominasi, keamanan, dan pengaruh global.
Bagi Washington, stabilitas global tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional.
Proposal Iran yang memprioritaskan perdamaian cepat dan pembukaan Selat Hormuz memang terlihat menguntungkan dunia, namun belum tentu bagi strategi Amerika Serikat.
Trump sejak awal dikenal dengan pendekatan “deal-maker” yang keras: semua kesepakatan harus memberi keuntungan maksimal bagi AS, terutama dalam isu nuklir Iran yang dianggap ancaman eksistensial bagi sekutu-sekutu regional seperti Israel dan negara Teluk.
Jika AS menerima proposal tanpa jaminan penghentian total program nuklir, maka:
Dengan kata lain, bagi Trump, menerima “damai parsial” justru membuka risiko konflik yang lebih besar di masa depan.
Baca juga: Benarkah Pejabat Iran Sedang Terpecah Soal Perang? Ucapan Trump Terbukti, Ini Beda Pendapat Mereka
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar sepertiga pasokan minyak dunia melewati titik sempit ini, menjadikannya “leher botol” energi global.
Iran memahami betul posisi strategis ini.
Dalam proposalnya, pembukaan Selat Hormuz dijadikan sebagai tawaran utama, sebuah sinyal stabilitas yang menggoda pasar global.
Namun dalam kacamata Washington, ini juga bisa dibaca sebagai bentuk “diplomasi tekanan”:
Pendekatan seperti ini bertolak belakang dengan gaya diplomasi Trump yang cenderung menolak negosiasi berbasis tekanan.
Alih-alih melihatnya sebagai peluang damai, AS justru melihat potensi jebakan strategis yang dapat mengurangi pengaruhnya di kawasan.
Sementara Washington bersikap keras, Iran bergerak cepat. Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi, melakukan diplomasi maraton selama 72 jam ke Pakistan, Oman, hingga Rusia.
Ia bahkan bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, di St. Petersburg untuk membangun dukungan atas proposal tersebut.
Namun menariknya, dalam berbagai pertemuan itu, isu nuklir justru dikesampingkan.
Fokus utama tetap pada:
Strategi ini memperkuat dugaan bahwa Iran berusaha “mengunci” stabilitas kawasan lebih dulu, sebelum masuk ke isu paling sensitif: nuklir.
Penolakan Trump terhadap proposal ini menegaskan satu hal: Amerika Serikat tetap berada di jalur “maximum pressure” terhadap Iran.
Alih-alih tergoda oleh stabilitas jangka pendek, Washington memilih mempertahankan tekanan demi tujuan jangka panjang, yakni penghentian total program nuklir Iran dan perlindungan penuh terhadap sekutu regionalnya.
Di papan catur global 2026, Selat Hormuz tetap menjadi titik paling panas.
Dunia kini hanya bisa menunggu: apakah ketegangan ini akan memicu inovasi energi baru, atau justru menyeret ekonomi global ke jurang resesi akibat harga minyak yang semakin tak menentu.
Ucapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya bukan sekadar retorika.
Di tengah perpanjangan gencatan senjata, laporan dari Al Jazeera mengungkap adanya perdebatan sengit di dalam lingkar kekuasaan Iran, khususnya di ibu kota Teheran.
Bukan lagi sekadar menghadapi Amerika Serikat, kini elit politik Iran justru saling berhadapan satu sama lain.
Pertanyaannya pun bergeser drastis: bukan lagi “kapan perang dimulai”, melainkan “apakah Iran harus berdamai atau hancur bersama?”.
Retakan di Teheran secara garis besar terbagi dalam dua faksi utama.
1. Kelompok Garis Keras (Pro-Perang)
Kelompok ini identik dengan kekuatan militer dan lingkar pengaruh IRGC (Garda Revolusi Iran). Mereka memandang gencatan senjata sebagai bentuk kelemahan.
Tokoh-tokoh yang cenderung berada di garis ini:
Narasi utama mereka:
Parade militer di Teheran dengan rudal Khorramshahr-4 menjadi simbol nyata kekuatan faksi ini.
2. Kelompok Realistis (Pro-Negosiasi)
Kelompok ini lebih pragmatis, mempertimbangkan tekanan ekonomi dan kondisi domestik.
Tokoh kunci:
Mereka tidak sepenuhnya “lemah”, namun lebih strategis dalam membaca situasi global.
Ghalibaf bahkan mengakui realitas kekuatan.
"Kita tidak lebih kuat dari AS dalam kekuatan militer. Jelas bahwa mereka memiliki lebih banyak uang, peralatan, dan fasilitas." ujarnya.
"Tidak, kita tidak menghancurkan mereka, tetapi kita adalah pemenang di medan perang ini." tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa tujuan utama bukan kemenangan absolut, melainkan kepentingan rakyat.
Berikut peta posisi para elit Iran yang kini saling berhadapan:
Saeed Iravani
→ Pro-negosiasi dengan syarat pencabutan blokade
→ Membuka opsi perundingan di Pakistan
Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
→ Garis keras
→ Menolak AS menentukan arah Iran
Mohammad Bagher Ghalibaf
→ Posisi tengah (realistis)
→ Tidak menyerah, tapi sadar keterbatasan militer
Masoud Pezeshkian
→ Ambigu (nasionalis-moderat)
→ Dukung perlawanan, tapi ingin perang dihentikan
Di akar rumput, propaganda negara juga memperlihatkan kesiapan rakyat untuk bertempur, termasuk perempuan bersenjata, menambah tekanan psikologis dalam pengambilan keputusan elite.