Oleh: Dr Sampara Halik SPd Mag
Pemerhati Demokrasi Pemilu dan Pendidikan Islam / Dosen di beberapa Perguruan Tinggi Swasta nasional di Kawasan Timur Indonesia
TRIBUN-TIMUR.COM - Hari Lahir ke-163 Butta Turatea Jeneponto kembali diperingati.
Momentum ini tidak semestinya hanya dipahami sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi sebagai ruang refleksi bersama untuk menilai sejauh mana nilai-nilai kearifan lokal masih hidup dalam kehidupan masyarakat.
Tema “A’bulosibatang: Ikhlas dan Bahagia” yang diangkat tahun ini terasa sangat relevan.
Ia bukan sekadar slogan, melainkan pesan moral yang kuat di tengah perubahan sosial yang kian cepat.
Persatuan, ketulusan, dan kebahagiaan adalah fondasi yang tidak boleh terlepas dari arah pembangunan daerah.
A’bulosibatang, yang berarti bersatu seperti sebatang bambu, menjadi simbol penting dalam kehidupan masyarakat Jeneponto.
Filosofi ini mengajarkan bahwa kekuatan terletak pada kebersamaan.
Bambu yang kokoh bukan karena satu ruas, tetapi karena banyak ruas yang saling menopang.
Nilai ini sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Turatea.
Tradisi gotong royong, solidaritas dalam menghadapi kesulitan, hingga kebersamaan dalam kegiatan adat adalah cerminan nyata dari semangat A’bulosibatang.
Namun, tantangan zaman mulai menguji kekuatan nilai ini.
Di tengah arus modernisasi, individualisme perlahan tumbuh.
Kepentingan pribadi dan kelompok terkadang lebih dominan dibanding kepentingan bersama.
Perbedaan pandangan pun tidak jarang berujung pada konflik.
Jika kondisi ini dibiarkan, semangat persatuan bisa semakin melemah.
Karena itu, peringatan hari jadi ini harus menjadi pengingat bersama.
Persatuan tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Musyawarah yang mengedepankan kebersamaan, sikap saling menghargai, serta kesediaan untuk bekerja sama menjadi kunci dalam menjaga nilai A’bulosibatang tetap hidup.
Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam hal ini.
Namun, pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan dari atas.
Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penentu.
Ketika masyarakat merasa dilibatkan, maka rasa memiliki terhadap daerah akan tumbuh dengan sendirinya.
Selain persatuan, nilai “ikhlas” menjadi dimensi penting dalam tema peringatan tahun ini.
Ikhlas bukan hanya konsep religius, tetapi juga prinsip etika dalam kehidupan sosial.
Ia menuntun seseorang untuk bekerja dengan tulus, tanpa pamrih, dan penuh tanggung jawab.
Dalam konteks pelayanan publik, keikhlasan menjadi fondasi kepercayaan.
Masyarakat tentu berharap pelayanan yang jujur, adil, dan profesional.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada praktik yang jauh dari nilai tersebut.
Orientasi pada kepentingan pribadi dan lemahnya etika pelayanan menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Mengembalikan nilai ikhlas dalam setiap pengabdian menjadi hal yang penting.
Ini bukan hanya tanggung jawab aparatur pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Nilai ini bisa dimulai dari hal sederhana: bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, dan membantu sesama tanpa pamrih.
Masyarakat Jeneponto sejatinya memiliki modal sosial yang kuat dalam hal ini.
Tradisi saling membantu masih terjaga, empati sosial masih hidup, dan rasa kebersamaan masih terasa.
Tinggal bagaimana nilai-nilai ini terus dipelihara agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Dimensi ketiga dalam tema ini adalah “bahagia”.
Selama ini, pembangunan seringkali diukur dari capaian fisik dan ekonomi.
Padahal, tujuan utama pembangunan adalah menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat.
Kebahagiaan tidak selalu identik dengan kemewahan.
Dalam konteks masyarakat Jeneponto, kebahagiaan sering ditemukan dalam kesederhanaan, kebersamaan, dan kehidupan yang harmonis.
Hubungan sosial yang hangat dan rasa aman menjadi bagian penting dari kualitas hidup.
Karena itu, pembangunan ke depan perlu lebih berorientasi pada manusia.
Pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang merata, serta lingkungan sosial yang kondusif harus menjadi prioritas.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya sejahtera secara materi, tetapi juga bahagia secara batin.
Kearifan lokal menjadi kunci dalam mewujudkan hal tersebut.
Nilai-nilai seperti siri’, pacce, dan A’bulosibatang bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pedoman hidup yang relevan.
Mengabaikan nilai ini dalam pembangunan hanya akan membuat kita kehilangan arah.
Pemerintah daerah perlu mengintegrasikan nilai budaya dalam setiap kebijakan.
Penguatan pendidikan berbasis karakter, pemberdayaan ekonomi lokal, serta pelestarian tradisi adalah langkah yang dapat dilakukan.
Dengan cara ini, identitas daerah tetap terjaga di tengah arus globalisasi.
Di usia ke-163 ini, Jeneponto memang masih menghadapi berbagai tantangan.
Namun, peluang untuk berkembang juga terbuka lebar.
Generasi muda memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan.
Dengan bekal pendidikan dan pemahaman budaya yang kuat, mereka dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.
Keseimbangan antara keduanya menjadi kunci.
Modernisasi tidak boleh menghapus identitas, dan tradisi tidak boleh menghambat kemajuan.
Jika keduanya berjalan seiring, maka Jeneponto dapat berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Akhirnya, Hari Lahir ke-163 Butta Turatea adalah momentum untuk memperkuat komitmen bersama.
A’bulosibatang mengajarkan kita untuk tetap bersatu, ikhlas menuntun kita untuk tulus dalam pengabdian, dan bahagia menjadi tujuan dari setiap upaya pembangunan.
Selamat Hari Lahir ke-163 Jeneponto.
Semoga tetap kokoh dalam persatuan, kuat dalam keikhlasan, dan tumbuh dalam kebahagiaan bersama.(*)