WARTAKOTALIVE.COM – Eskalasi konflik di Asia Barat semakin memanas, namun Iran tidak berdiri sendirian.
Dalam pertemuan tingkat tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kyrgyzstan, Cina secara terang-terangan menegaskan komitmennya untuk mendukung kedaulatan, keamanan, dan martabat nasional Iran dalam menghadapi agresi militer Amerika Serikat dan Israel yang kian brutal.
Menteri Pertahanan China, Dong Jun, memberikan pernyataan tegas saat bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaee Nik, pada Rabu (29/4/2026).
Baca juga: Trump Beri Pernyataan Rasis ke India dan Cina yang Sangat Menghina, Picu Krisis Diplomatik Global
Beijing menuntut penghentian segera serangan militer yang telah melumpuhkan kawasan tersebut dan mendesak kembalinya jalur diplomasi.
"Cina akan terus mendukung Iran dalam membela kedaulatan dan keamanan nasionalnya. Kami menyerukan pembentukan gencatan senjata penuh secepatnya dalam perang AS-Israel melawan Iran," tegas Dong Jun.
Langkah ini menandakan posisi China yang semakin aktif dalam upaya de-eskalasi konflik dan pemulihan perdamaian di Timur Tengah.
Pakar: AS Adalah Akar Kekacauan Timur Tengah
Seiring dengan pernyataan resmi pemerintah, para pakar internasional di Cina menyoroti peran destruktif Washington di kawasan tersebut.
Zhu Yongbiao, Dekan Sekolah Politik dan Hubungan Internasional Universitas Lanzhou, menyatakan bahwa perdamaian hanya bisa terwujud jika Amerika Serikat berhenti mencampuri interaksi antarnegara Timur Tengah.
"Akar penyebab masalah di Timur Tengah adalah intervensi AS. Washington secara konsisten mencoba menabur perselisihan dan memperkuat ketidakpercayaan strategis antarnegara kawasan. Keluar dari campur tangan eksternal ini adalah satu-satunya jalan realistis menuju perdamaian," ungkap Zhu.
Runtuhnya "Payung Keamanan" Amerika
Krisis ini juga memicu perubahan paradigma besar.
Serangan balasan Iran terhadap basis militer AS di Teluk menunjukkan bahwa ketergantungan negara-negara Arab terhadap "payung keamanan" Amerika Serikat kini telah usang.
Para ahli menilai, negara-negara seperti Arab Saudi kini lebih memilih meningkatkan otonomi strategis dan memperkuat kerja sama dengan Cina.
Baca juga: Vladimir Putin Sanjung Ketangguhan Iran dalam Perang dengan AS
Beijing kini tidak hanya menjadi mitra energi tradisional, tetapi juga penyeimbang kekuatan militer dan diplomatik.
Dengan posisi yang adil terhadap isu Selat Hormuz, Cina berkomitmen menjaga keamanan jalur logistik global tanpa menggunakan kekuatan koersif, sebuah kontras tajam dengan blokade yang dipaksakan oleh armada Barat.
Pandangan senada juga disampaikan pengamat dari Shanghai International Studies University, Liu Zhongmin.
Ia menilai serangan militer terhadap Iran telah mengganggu proses rekonsiliasi yang sebelumnya mulai terbangun antara Iran dan negara-negara Teluk.
Bahkan, ketegangan tersebut memicu serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk Persia—mendorong situasi semakin tidak stabil.
Dalam konteks ini, Cina mendorong negara-negara Timur Tengah untuk memperkuat kemandirian strategis dan mengurangi ketergantungan pada 'payung keamanan' Amerika Serikat yang dinilai semakin usang.
Lebih jauh, Beijing juga melihat peluang memperdalam kerja sama dengan negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, dalam sektor energi, ekonomi, hingga pertahanan.
Bagi banyak pihak, sikap Cina bukan hanya soal dukungan diplomatik. Ini adalah sinyal kuat bahwa peta kekuatan global tengah bergeser—dan Timur Tengah kembali m