USAI Tragedi Anjing Serang Anak Hingga Tewas di Bangli, Vaksinasi Anti Rabies Sasar 46.707 Ekor HPR!
Anak Agung Seri Kusniarti April 30, 2026 01:03 AM

TRIBUN-BALI.COM - Nasib tragis dialami seorang anak berusia 4 tahun di Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Adalah Ni Made Sukma Diatmika, asal Banjar Ulun Danu, Desa Songan yang diduga tewas karena bagian lehernya digigit anjing pada Senin (27/4). 

Bahkan rupanya korban tewas bukan karena digigit seekor anjing, melainkan diduga ada sekitar tiga ekor anjing liar. Kerabat korban, I Nyoman Muliawan mengatakan, lokasi kejadian berada di warung ibu korban yang berada di jalur pendakian Gunung Batur, yang dikenal sepi. Saat itu, seusai dimandikan ibunya, korban mendengar ada anjing ribut, lalu iapun keluar untuk melihat.

Muliawan menuturkan tidak ada yang tahu secara percis terkait bagaimana korban bisa digigit. Namun informasinya, ada yang melihat anak tersebut dikerubungi sekitar tiga ekor anjing. Di mana semua anjing tersebut merupakan anjing liar.

“Katanya ada yang melihat ada sekitar 3 ekor yang mengerubuti korban. Salah satu bulunya dilihat warna putih,” ucapnya, Selasa (28/4).

Baca juga: LUKA di Leher & Wajah Sebabkan Sukma Meninggal Dunia, Anak di Songan Tewas Dikeroyok 3 Anjing Liar!

Baca juga: TRAGIS! Diduga 3 Anjing Keroyok Anak 4 Tahun Sampai Tewas di Songan Kintamani, Warga Minta Eliminasi

Vaksinasi: Kegiatan vaksinasi rabies di Kabupaten Bangli, Bali, Rabu 29 April 2026. Pasca Bocah Tewas Digigit Anjing, Pemkab Bangli Gencarkan Vaksinasi Rabies hingga ke Monyet
Vaksinasi: Kegiatan vaksinasi rabies di Kabupaten Bangli, Bali, Rabu 29 April 2026. Pasca Bocah Tewas Digigit Anjing, Pemkab Bangli Gencarkan Vaksinasi Rabies hingga ke Monyet (Istimewa)

Pasca kejadian itu, korban yang merupakan anak paling bungsu dari lima saudara ini, mengalami luka serius pada leher dan wajah. “Setelah dilarikan ke rumah sakit, dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya.

Pasca dinyatakan meninggal, pada Senin (27/4) sekitar pukul 22.00 Wita, jenazah korban telah dimakamkan di Setra Desa Songan. “Kami tidak menyangka kalau korban akan pergi dengan secepat itu, dan dengan jalan yang memilukan,” ujarnya dengan nada sedih.

Masyarakat yang resah dengan adanya anjing liar di seputaran lokasi, meminta dinas terkait melakukan eliminasi. Sebanyak sembilan ekor anjing liar telah dieliminasi oleh Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP2) Bangli per Selasa (28/4).

Sementara itu, instansi terkait di Pemkab Bangli dan aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait hal ini. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Bangli, I Dewa Gede Oka Darsana saat dikonfirmasi, Selasa (28/4) membenarkan adanya peristiwa tersebut. Kata dia, kejadian tersebut terjadi pada Senin (27/4) kemarin. “Ya benar, kejadiannya terjadi kemarin,” ujarnya. 

Diketahui bahwa anak tersebut digigit anjing saat bermain di depan warung. Korban mengalami luka serius di leher dan wajah. Oka Darsana menjelaskan, kejadian terjadi pada Senin (27/4) sekitar pukul 16.30 Wita. Saat itu, kata dia, korban setelah mandi bersama ibunya, langsung pergi bermain di depan warung. Sementara anak tersebut ditinggal mandi oleh ibunya. 

“Pasien sehabis dimandikan oleh ibunya main di depan warung, dan ditinggal mandi oleh ibunya sekitar 10 menit. Sehabis mandi, ibunya sudah melihat anaknya terkapar di depan warung yang saat itu sudah ada anjing disampingnya,” ungkap Oka Darsana.

Diduga saat digigit anjing, anaknya telah menangis minta tolong. Namun karena saat itu sedang hujan lebat, sehingga tangisannya tidak terdengar. “Saat itu hujan sangat deras sehingga tidak kedengaran suara anaknya saat digigit anjing,” ujarnya.

Pasca kejadian itu, sekitar pukul 16.30 Wita, korban langsung dibawa ke Puskesmas Kintamani V, untuk mendapatkan pertolongan dan selanjutnya di rujuk ke RSUD Bangli. “Tiba di IGD RSUD Bangli pukul 18.05 Wita, kondisi pasien sangat lemah, tidak sadar, nadi sangat lemah, dan mengalami henti jantung,” ungkapnya.

Saat itu, pihak medis telah memberikan tindakan resusitasi. Namun pasien tidak ada respon dan dinyatakan meninggal pukul 18.20 Wita. “Ditemukan luka robek diduga karena gigitan anjing yang luas di sekitar leher dan wajah yang mengakibatkan perdarahan massif,” ungkap Oka Darsana.

Tim lintas sektor di Pemkab Bangli juga telah menindaklanjuti kasus ini. Oka Darsana mengatakan, pihaknya bersama Dinas PKP2 Bangli, serta pihak kecamatan dan Puskesmas sedang turun ke lokasi kejadian, untuk memastikan kejadian tersebut. “Hari ini (kemarin) tim dari Dinkes, Dinas PKP, Kecamatan, dan Puskesmas sedang turun melakukan penelusuran,” ujarnya.

Terkait apakah anjing itu rabies atau tidak, pihaknya masih menunggu hasil penelusuran dan penyelidikan tim di lapangan. “Hal ini masih kita selidiki,” jelasnya.

Dalam mengantisipasi rabies, pihak terkait melakukan eliminasi terhadap anjing di seputar rumah duka. Pasca kejadian tersebut, Dinas PKP Bangli melakukan eliminasi terhadap sejumlah anjing di sekitar TKP.

“Tim PKP Bangli sudah melakukan eliminasi terbatas pada anjing di sekitar rumah duka, 9 ekor sudah dieliminasi. Tim di sekitar rumah duka sudah melakukan KIE untuk penanggulangan rabies termasuk edukasi agar anak di bawah umur perlu pengawasan yang baik,” jelas Oka Darsana.

Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma mengatakan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangli telah turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Di sana, pihaknya mendapati warga setempat resah terhadap keberadaan anjing liar di seputaran lokasi. Merekapun meminta agar anjing liar tersebut dieliminasi.

Dan, pihaknya telah melakukan eliminasi. Total ada sembilan ekor anjing liar yang telah dieliminasi. “Tidak ada indikasi rabies. Eliminasi dilakukan atas permintaan masyarakat untuk mengurangi risiko penularan rabies dan gangguan keamanan,” ujarnya. (weg)

Vaksinasi di Bangli 

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli mengintensifkan vaksinasi rabies terhadap hewan penular rabies (HPR). Hal ini menyusul peristiwa seorang anak berusia 4 tahun di Desa Songan, Kecamatan Kintamani meninggal dunia setelah digigit anjing liar.

Langkah percepatan vaksinasi ini dilakukan sebagai upaya pencegahan, meskipun hasil uji laboratorium terhadap anjing yang menggigit korban belum memastikan adanya infeksi rabies. Dinas PKP Bangli memilih langkah antisipatif untuk menekan potensi penyebaran penyakit mematikan tersebut.

Berdasarkan data Dinas PKP Bangli per Rabu (29/4), program vaksinasi menyasar total 46.707 ekor hewan penular rabies (HPR), yang meliputi anjing, kucing, dan monyet. Hingga saat ini, realisasi vaksinasi mencapai 2.647 ekor anjing, 56 ekor kucing, serta satu ekor monyet, atau sekitar 5,7 persen dari total target.

Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma mengatakan, vaksinasi akan terus digencarkan hingga menjangkau seluruh populasi hewan berisiko. “Cakupan vaksinasi masih terus kami tingkatkan. Ini menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan rabies di masyarakat,” ujarnya.

Selain vaksinasi, Sarma menekankan pentingnya peran pemilik hewan dalam mencegah penyebaran rabies. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak melepasliarkan hewan peliharaan, serta memastikan hewan dirawat dengan baik dan mendapatkan pakan yang cukup.

“Hewan peliharaan sebaiknya dikandangkan dan tidak dibiarkan berkeliaran bebas. Kontak dengan hewan liar sangat berisiko menularkan rabies, tidak hanya membahayakan pemilik, tetapi juga masyarakat luas,” tegasnya.

Ia juga menyoroti praktik pembuangan hewan peliharaan yang masih kerap terjadi. Menurutnya, anjing yang dibuang cenderung mengalami stres, kesulitan mendapatkan makanan, dan kehilangan tempat berlindung, sehingga lebih rentan terpapar rabies.

“Kami minta masyarakat tidak membuang hewan peliharaan sembarangan. Jika sudah tidak mampu merawat, sebaiknya diserahkan kepada pihak lain yang bersedia memelihara,” tandasnya. (weg)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.