TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, kembali menjadi sorotan publik setelah muncul polemik terkait pemindahan posisi gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian kereta.
Kebijakan tersebut sempat menuai kritik karena dinilai berpotensi menimbulkan kekhawatiran terkait aspek keselamatan penumpang lain.
Menurut sebagian warganet, pemindahan gerbong wanita ke tengah bukan solusi, bahkan hal itu juga dinilai mengabaikan keselamatan penumpang lain.
Menanggapi hal itu, Menteri PPPA memberikan klarifikasi resmi untuk meluruskan berbagai persepsi yang berkembang di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut sama sekali tidak memiliki maksud untuk mengabaikan atau mengurangi prioritas keselamatan penumpang wanita.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari penyesuaian operasional transportasi yang mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan kenyamanan.
Kementerian PPPA juga disebut telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan perlindungan bagi seluruh penumpang tetap menjadi prioritas utama.
Klarifikasi ini diharapkan dapat meredam kesalahpahaman yang terlanjur berkembang di ruang publik dan media sosial.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan keamanan serta layanan transportasi yang inklusif dan ramah bagi perempuan.
Baca juga: Drama Berlanjut! Penahanan Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia Arafiq Diperpanjang, KPK Dalami Kasus
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengatakan, tidak ada maksud usulannya yang meminta gerbong KRL khusus perempuan dipindah ke tengah sebagai upaya pengabaian keselamatan penumpang lain.
"Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya," kata Arifah dalam dalam tayangan video sosial media Kementerian PPPA, Rabu (29/4/2026).
Hal ini disampaikan Arifah berkaitan dengan pernyataannya yang mengusulkan agar gerbong KRL khusus wanita dipindah ke tengah setelah tragedi tabrakan KRL Commuter dan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Senin ( 27/4/2026).
Ia menegaskan, semua orang sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas utama dalam sebuah kebijakan, baik perempuan maupun laki-laki.
Arifah juga secara langsung meminta maaf kepada seluruh masyarakat dan para korban dan keluarga korban atas usulan tersebut.
"Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini yang menjadi fokus utama adalah keselamatan penanganan korban serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak," ucapnya.
Arifah mengatakan, saat ini prioritas utama pemerintah adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka.
Kementerian PPPA dalam hal ini hadir untuk memastikan hak korban dan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya dalam tragedi tabrakan kereta tidak terabaikan.
"Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis perlindungan serta dukungan yang diperlukan khususnya bagi anak-anak dan keluarga korban yang mengalami trauma akibat peristiwa ini," ucapnya.
Ia mengajak kepada seluruh pihak untuk memusatkan perhatian kepada penanganan korban dan perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar tragedi serupa tak terjadi.
Pernyataan Arifah Terkait Pemindahan Gerbong
Sebelumnya, Arifah mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindah ke tengah rangkaian kereta.
Usulan itu muncul setelah insiden kecelakaan KRL Commuter dan KA Argo Bromo menimbulkan korban jiwa, termasuk penumpang di gerbong KRL khusus perempuan yang selama ini berada di bagian ujung kereta.
“Jadi yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Menurut Arifah, posisi gerbong di bagian depan dan belakang memiliki risiko lebih tinggi saat terjadi tabrakan.
Meski demikian, ia menegaskan usulan tersebut masih bersifat awal dan belum dibahas lebih lanjut.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)