TRIBUN-TIMUR.COM - Ketua Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) DPRD Sulsel, Andi Nirawati, mengajak perempuan lebih berani terjun ke dunia politik.
Ia menilai perempuan harus siap mengambil peran strategis dalam proses pengambilan keputusan.
Hal itu disampaikannya saat tampil sebagai pembicara dalam talkshow Makkunrai di Phinisi Point, Makassar, Jumat (24/4/2026).
Talkshow Makkunrai 2026 ini rangkaian peringatan Hari Kartini.
Andi Nirawati tampil bersama Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang.
Perempuan dan politik menjadi tema.
Sebagai Ketua KPP DPRD Sulsel, Andi Nirawati mengaku memikul tanggung jawab besar dalam mendorong keterwakilan perempuan di parlemen.
Salah satu target utamanya adalah menambah jumlah perempuan yang duduk di lembaga legislatif.
Diskusi ini dipandu host Tribun Timur Fiorena Jieretno.
Bagaimana satu tahun kepemimpinan membentuk cara pandang Ibu?
Husniah: Spesial sekali setahun kepemimpinan saya di Kabupaten Gowa, tentunya ini sangat luar biasa.
Karena perempuan hadir di tengah-tengah para pemimpin laki-laki.
Ini bukti perempuan sudah bisa bangkit dari “habis gelap terbitlah terang”.
Bisa mewakili kaumnya untuk bisa menjadi pemimpin masa depan.
Pemimpin itu tidak hanya yang mendirikan perusahaan, tetapi di eksekutif juga perempuan bisa mewakili kaumnya sendiri.
Ini menjadi bagian dari perempuan-perempuan yang lain untuk bisa termotivasi.
Karena jamannya sekarang kita harus bersaing.
Apalagi perempuan sekarang sudah mulai bebas dan sudah mulai cerdas.
Nirawati: Kalau kita memandang dari sesuatu yang lebih spesial atau yang lebih khusus adalah saya sebagai pemimpin di kaukus ini diberi tanggung jawab yang lebih luas.
Dalam satu tahun terakhir ini kaukus belum efektif karena kami sendiri belum raker sebab terpotong kemarin dari masa pelantikan pusat sehingga kami mengalami keterlambatan.
Jadi efektifnya Kaukus baru dua tiga bulan belakangan ini.
Insya Allah ke depan rencana kerja fokus pada memberdayakan perempuan.
Momen kartini ini memang sangat spesial bahkan sampai kaukus parlemen perempuan sendiri tidak punya kesempatan untuk membuat eventnya sendiri.
Tetapi karena begitu tingginya permintaan untuk kita sharing, jadi momen-momen ini kami memang harus lebih banyak fokus untuk memotivasi kaum perempuan agar bisa lebih tertarik menghadapi perpolitikan dan lebih kuat menyelesaikan atau menghadapi tantangan perempuan dalam berpolitik.
Bagaimana Ibu menanggapi anggapan bahwa perempuan kurang rasional dalam politik?
Husniah: Perempuan tidak hanya mengandalkan logika, tetapi juga melibatkan perasaan atau hati dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Justru dengan memadukan keduanya, perempuan menghasilkan pemikiran lebih matang, tepat, dan menyeluruh, karena mempertimbangkan berbagai aspek dari tingkat atas hingga ke lapisan masyarakat paling kecil.
Inilah salah satu kelebihan perempuan: kepekaan yang sering dianggap “baper” sebenarnya dapat menjadi kekuatan dalam konteks pemerintahan, bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai nilai positif yang menghadirkan kebijakan yang lebih empatik dan berpihak pada kepentingan bersama.
Apa makna politik yang ideal di mata Ibu?
Nirawati: Menurut saya, politik sebenarnya hadir di mana-mana karena jika dimaknai secara luas, hampir seluruh lini kehidupan mengandung unsur politik.
Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun, kita membutuhkan strategi yang bisa disebut sebagai bentuk politik, misalnya bagaimana sepasang suami istri menyusun langkah bersama untuk mencapai tujuan hidup mereka.
Dalam konteks lebih besar, perempuan sering disebut sebagai tiang negara; ketika perempuannya rapuh, negara pun ikut rapuh.
Karena itu, untuk menilai kemajuan suatu negara, kita bisa melihat bagaimana kondisi dan peran perempuannya.
Di sinilah pentingnya kehadiran perempuan dalam ranah politik, yakni untuk melengkapi dan menyempurnakan pemikiran laki-laki sehingga tercipta keseimbangan dalam pengambilan keputusan.
Bagaimana keterwakilan perempuan di pemerintahan?
Husniah: Perempuan itu lebih tekun dalam bekerja. Kita punya kekuatan yang lebih kuat daripada laki-laki.
Namun, keterwakilan perempuan di lembaga eksekutif dan pemerintahan daerah masih bervariasi.
Jumlah menteri perempuan dalam kabinet relatif lebih sedikit dibandingkan laki-laki, sementara di tingkat daerah, hanya sebagian kecil perempuan yang menduduki posisi kepala daerah.
Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab belum optimalnya keterwakilan perempuan, di antaranya budaya patriarki, keterbatasan akses terhadap sumber daya politik dan finansial, serta belum maksimalnya dukungan partai politik dalam mendorong kader perempuan.
Meski demikian, pemerintah dan berbagai organisasi masyarakat sipil terus mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam politik.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat peran perempuan dalam proses pengambilan kebijakan publik.
Bagaimana menarik perempuan agar tertarik untuk masuk ke politik?
Husniah: Memang kalau kita memandang politik secara tunggal akan kelihatan berat.
Tapi ketika kita bisa menghadapi tantangan itu berarti kita sudah bisa menilai bahwa sebenarnya kita berada di politik yang paling bagus.
Menarik perempuan untuk tertarik masuk ke politik bukan soal “membujuk,” tapi soal menghilangkan hambatan dan membuat jalurnya terasa relevan, aman, dan berdampak.
Banyak perempuan sebenarnya sudah peduli pada isu publik—hanya saja lingkungan politik sering terasa eksklusif atau tidak ramah.
Hambatan praktis seperti keterbatasan waktu, beban domestik, hingga minimnya dukungan lingkungan masih menjadi kendala nyata.
Sejumlah pihak mendorong adanya kebijakan yang lebih fleksibel, termasuk dukungan terhadap keseimbangan antara kehidupan pribadi dan aktivitas politik.
Di tingkat pendidikan, pengenalan politik sejak dini melalui organisasi pelajar dan komunitas juga dinilai efektif untuk membangun minat.
Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, diharapkan semakin banyak perempuan yang melihat politik sebagai ruang yang terbuka dan relevan bagi mereka.
Upaya ini dianggap penting tidak hanya untuk meningkatkan angka keterwakilan, tetapi juga untuk memastikan bahwa kebijakan publik mencerminkan kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.
Sejauh mana aspirasi perempuan berdampak pada kebijakan?
Husniah: Sebagai kepala daerah, saya sangat berharap adanya keterwakilan perempuan di daerah saya.
Aspirasi yang disampaikan diharapkan benar-benar mencerminkan suara perempuan di Kabupaten Gowa.
Dalam lingkup Kabupaten Gowa, perempuan telah dilibatkan dalam berbagai kegiatan, seperti Musrenbang, pelatihan usaha UMKM, aktivitas parlemen, hingga keikutsertaan dalam reses.
Melalui ruang-ruang ini, perempuan dapat menyuarakan kebutuhan dan harapan mereka, sehingga tidak lagi merasa terpinggirkan oleh pemerintah.
Suara yang muncul dari bawah, dari akar rumput, menjadi bagian penting dalam memperkuat representasi perempuan.
Dengan demikian, aspirasi tersebut dapat mewakili masyarakat Kabupaten Gowa secara lebih utuh dan membantu mewujudkan harapan bersama.
Bagaimana mendorong perempuan lebih percaya diri berpolitik?
Husniah: Ada satu pesan yang sangat membekas bagi saya, yaitu bahwa dengan terjun ke dunia politik, kita memiliki kesempatan untuk membantu banyak orang secara lebih luas dan terstruktur.
Melalui politik, kita bisa ikut serta dalam menyelesaikan berbagai persoalan, mulai dari bidang kesehatan hingga berbagai isu sosial lainnya, sekaligus membantu pemerintah dalam merumuskan dan mengawasi kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Hal ini juga berkaitan erat dengan sinergi antara lembaga legislatif dan eksekutif yang jika berjalan baik akan menghasilkan keputusan yang lebih tepat sasaran dan bermanfaat bagi rakyat.
Karena itu, anak-anak muda saat ini sebaiknya tidak memandang politik secara sebelah mata atau dengan rasa enggan.
Justru di dalam politik terdapat banyak hal yang bisa dipelajari dan dilakukan, mulai dari belajar tentang kehidupan, memahami aturan dan sistem, hingga belajar menjadi manusia yang lebih peka terhadap kebutuhan sesama.
Dari pengalaman itu, muncul rasa kepuasan tersendiri ketika kita bisa hadir membantu orang lain yang sedang berada dalam kesusahan, karena pada akhirnya politik bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tentang pengabdian dan kebermanfaatan bagi banyak orang.(*)