Emiten Prajogo Pangestu hingga Salim Group Terpuruk, Saham Boy Thohir Tampil Perkasa
Abdul Rosid April 30, 2026 02:03 AM

TRIBUNBANTEN.COM - Mayoritas saham milik konglomerat Tanah Air terpantau tertekan sepanjang tahun 2026 berjalan, seiring pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 17,88 persen secara year to date (YTD) ke level 7.101,22 per Rabu (29/4/2026).

Tekanan paling dalam dialami emiten milik Prajogo Pangestu. Berdasarkan catatan pasar, seluruh saham dalam portofolionya kompak terkoreksi tajam.

Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) menjadi yang paling tertekan dengan penurunan mencapai 52,23 persen YTD ke level Rp5.350. 

Disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang melemah 51,11 persen ke Rp4.730, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang turun 43,23 persen sepanjang tahun ini.

Baca juga: Pemkot Serang Tarik Saham Rp10 Miliar dari Bank BJB, Fokus Percepat Pembangunan Infrastruktur

Kondisi serupa juga terlihat pada saham milik Grup Salim yang cenderung bergerak di zona merah. 

Dari sejumlah emiten yang terafiliasi, hanya PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang mampu mencatatkan penguatan terbatas sebesar 2,62 persen YTD.

Sementara itu, kinerja saham milik TP Rachmat menunjukkan tren beragam. Di tengah tekanan pasar, emiten sektor crude palm oil (CPO) justru mencatatkan kinerja positif. 

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menguat 38,41 persen, diikuti PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang naik 22,92 persen.

Berbeda dengan mayoritas konglomerat lainnya, portofolio milik Garibaldi “Boy” Thohir justru tampil perkasa sepanjang 2026. 

Saham-saham yang berada di bawah kendalinya mencatatkan penguatan signifikan, ditopang oleh sektor energi dan komoditas.

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi bintang dengan lonjakan 68,44 persen ke level Rp9.475. 

Selain itu, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 60,28 persen ke Rp11.300, sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 45,92 persen.

Penguatan juga terjadi pada sejumlah saham Grup Sinarmas milik keluarga Widjaja, seperti PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) yang naik 38,95 persen dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) yang menguat 16,38 persen.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah, menjelaskan bahwa pergerakan saham konglomerasi pada awal 2026 sempat terdorong oleh ekspektasi masuk ke indeks global seperti MSCI.

Namun, setelah MSCI menunda rebalancing, sentimen pasar berbalik arah dan memicu penurunan minat investor.

“Saham-saham yang sudah masuk atau diharapkan masuk MSCI mengalami perubahan narasi yang drastis, sehingga permintaan di pasar menurun,” ujarnya.

Fath juga menyoroti saham BREN dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC), masing-masing sebesar 97,31 persen dan 95,76 persen. Keduanya bahkan telah dikeluarkan dari indeks LQ45 oleh Bursa Efek Indonesia.

Di sisi lain, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai tekanan terhadap saham konglomerasi lebih dipengaruhi faktor eksternal, seperti depresiasi rupiah dan arus keluar dana asing (net sell).

“Ini lebih ke risk-off global, bukan semata penurunan fundamental,” katanya.

Meski demikian, portofolio Boy Thohir dinilai mampu mencatatkan kinerja unggul karena memiliki eksposur kuat pada komoditas seperti emas dan batu bara yang masih berada dalam tren positif.

“Selama siklus komoditas masih berlanjut, sektor ini tetap menarik meski volatilitas tinggi,” ujar Sukarno.

Ia menambahkan, koreksi yang terjadi pada saham konglomerasi dapat menjadi peluang akumulasi bagi investor, khususnya pada emiten dengan fundamental yang masih solid.

Sebagai contoh, PT Petrosea Tbk (PTRO) tetap mencatatkan kinerja keuangan positif pada kuartal I-2026. Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$284,13 juta atau tumbuh 84,24 persen secara tahunan, serta laba bersih yang meningkat 50,54 persen menjadi US$1,39 juta.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.