Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Terungkap kalimat terakhir Hasan (37) sebelum tewas kehabisan darah karena ususnya terburai akibat luka bacok oleh komplotan orang tak dikenal di Jalan Wonokusumo Jaya Baru Gang 2, Pegirian, Semampir, Surabaya, pada Rabu (29/4/2026) pagi.
Menurut kakak kandung korban, Hotimah (43), adiknya itu sempat menatap wajah si pelaku pembacokan tersebut pada pagi hari tadi.
Karena, pada saat itu, sekitar pukul 07.30 WIB, Hasan sedang berjalan kaki sendiri untuk berangkat ke tempat kerjanya.
Hasan selama kurun waktu hampir tiga bulan terakhir bekerja sebagai kuli bangunan membantu proses pembangunan rumah miliknya pribadi.
Lokasi rumah Hotimah yang sedang direnovasi tersebut berada di Jalan Sidotopo Sekolahan Gang VIII.
"Biasanya sama temannya. Tapi tadi sendirian," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di kediamannya.
Berdasarkan cerita para tetangga yang didengarnya langsung.
Baca juga: Kuli Bangunan yang Jadi Korban Pembacokan di Wonokusumo Surabaya Dikenal Pendiam dan Rajin Mengaji
Hotimah mengungkapkan, Hasan berjalan dari Jalan Wonokusumo Jaya Baru Gang 2 menuju ke rel kereta api yang membelah permukiman Kelurahan Pengirian tersebut.
Saat hendak menyeberangi rel KA tersebut, Hasan sempat melihat ada seorang pria misterius duduk di pinggiran Jalan Sidotopo Sekolahan Gang XII yang berbatasan langsung dengan perlintasan rel.
Posisi Hasan berjalan terbilang dekat dengan posisi pria misterius tersebut. Kemudian, Hasan sempat menyampaikan ucapan permisi berjalan di dekat pria misterius.
Tak dinyana-nyana, si pria misterius beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu mengeluarkan sebilah celurit dari balik pakaian, dan menyabetkan ke tubuh Hasan.
"Pelaku awalnya duduk duduk di rel. Korban; amit mas. Langsung dibacok," katanya.
Pada momen tersebut, Hotimah mengungkapkan, Hasan sempat berteriak karena merasa kaget dengan aksi penyerangan yang serba mendadak tersebut.
Bahkan, Hasan sempat menanyakan alasan si pria misterius tersebut melukai dirinya.
Lalu, Hasan berlari kembali masuk ke dalam gang yang baru saja dilaluinya, dan terkapar akibat luka parah pada perut.
"Salahku opo mas, kata Hasan. Langsung udah gak ada (tewas)," katanya.
"Enggak ngerti pisan. Iku si amit jarene, saat liwat. Amit Mas, ngene. Langsung ngene. Lah po Mas kok sampeyan nggepok aku, kata warga," tambah Hotimah.
Memperoleh kabar mengejutkan pada pagi hari tadi, bak pepatah 'petir menyambar di siang bolong' bagi Hotimah.
Ia baru tahu sang bungsu mengalami nasib nahas tersebut, setelah para tetangga berlarian menuju ke rumah kontrakannya.
Hotimah semula mengira adiknya itu, baru saja terlibat kecelakaan tersambar KA yang melintas.
Namun, setelah mendengar kesaksian beberapa warga dan para tetangganya yang menyebut nyawa sang adik ditumbangkan oleh pria misterius yang belum diketahui alasannya.
Tangis Hotimah pun pecah, saat meratapi tubuh sang adik terkapar bersimbah darah ditutupi kain sarung warna cokelat.
"Nah, ada tetangga teriak; mbak Hasan mbak.
Kenopo Hasan, ketabrak sepur ta, kata saya.
Enggak, pokoknya ikut saya, kata tetangga.
Di sana, korban sudah gak ada, ada darahnya. Kaget aku pak, wong aku enggak eroh opo-opo. Enggak ngerti masalah e opo," pungkasnya.
Di lain sisi, warga Siswanto (62) mengatakan, Polisi menemukan sarung pembungkus celurit yang tergeletak di dekat jenazah korban.
Kemudian, benda tersebut diamankan untuk menjadi barang bukti penyelidikan kasus kriminal yang menggegerkan permukimannya.
"Pakai celurit. Selongsongannya dibawa anggota Polres," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di lokasi
Siswanto tidak mengetahui pasti kronologi kejadian tersebut. Namun, kata beberapa warga yang didengarnya bahwa korban sempat berlarian meminta tolong ke dalam gang sebelum akhirnya ambruk tak bernyawa.
"Saya kurang tahu, apakah korban melawan. Tahunya saya. Korban lari, ke sini, dan roboh. Di sini, ujung," pungkasnya seraya menunjuk lokasi tempat korban ambruk berkalang luka parah di perut.
Sementara itu, Kapolsek Semampir Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Kompol Herry Iswanto mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut.
Personilnya sedang melakukan olah TKP dan mencari para saksi untuk mencari petunjuk ciri-ciri para pelaku dalam kasus penganiayaan berujung meninggalnya korban.
"Masih dalam proses lidik. Nanti perkembangan secara resmi akan disampaikan oleh Kasihumas Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com.