TRIBUNNEWSMAKER.COM - Langkah mengejutkan datang dari Uni Emirat Arab (UEA) yang memutuskan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Keputusan tersebut langsung menuai respons dari Rusia.
Pemerintah Rusia menilai, langkah UEA berpotensi memicu perubahan besar di pasar energi global.
Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov, menyebut keluarnya UEA dari OPEC bisa berdampak pada meningkatnya produksi minyak oleh negara-negara penghasil.
Kondisi itu, menurutnya, berpeluang menekan harga minyak dunia di masa mendatang.
Diketahui, Rusia sendiri merupakan bagian dari kelompok OPEC+, yang selama ini bekerja sama dengan negara-negara anggota OPEC dalam mengatur kebijakan produksi minyak.
Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Pengacara, Nadiem Dipaksa Hadiri Sidang Meski Sakit, Jaksa Tegas Membantah
Koordinasi tersebut dilakukan guna menjaga stabilitas harga minyak di pasar internasional.
Di sisi lain, Moskwa selama ini dipandang sebagai salah satu pihak yang diuntungkan dari lonjakan harga minyak global.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh ketegangan dan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Situasi ini membuat dinamika pasar energi dunia semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
"Hari ini kita mendengar bahwa salah satu negara, Uni Emirat Arab, meninggalkan OPEC,” kata Siluanov pada Rabu (29/4/2026), dilansir Reuters.
“Apa artinya ini? Artinya negara tersebut dapat memproduksi minyak sebanyak yang memungkinkan kapasitas produksinya dan melepaskannya ke pasar," lanjut dia.
Baca juga: Gencatan Senjata dengan AS Segera Berakhir! Iran Siapkan Kejutan Besar di Medan Perang
Siluanov mengatakan bahwa keluarnya UEA dapat potensi menurunkan harga minyak dunia ke depannya dalam kondisi tertentu.
"Jika negara-negara OPEC menjalankan kebijakan mereka secara tidak terkoordinasi (setelah keluarnya UEA) dan memproduksi minyak sebanyak kapasitas produksi mereka dan sebanyak yang mereka inginkan, harga akan turun sesuai dengan itu," ujarnya.
Dia menekankan bahwa untuk saat ini harga minyak didukung oleh blokade Selat Hormuz, dan prediksinya mengenai kelebihan pasokan mengacu pada situasi ketika jalur tersebut dibuka kembali di masa mendatang.
Komentar Siluanov menandai reaksi pertama Rusia terhadap keputusan keluarnya UEA secara mengejutkan.
Kremlin dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan UEA dan pemimpin OPEC, Arab Saudi.
Rusia berencana untuk tetap berada di OPEC+ meskipun UEA keluar, dan berharap aliansi produsen minyak tersebut akan terus beroperasi di tengah gejolak di pasar energi global.
Sebelumnya, UEA mengumumkan akan keluar dari OPEC dan OPEC+ pada 1 Mei 2026, di di tengah kondisi krisis bagi pasar energi global karena perang di Iran.
Keputusan ini sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA serta pengembangan sektor energinya, termasuk percepatan investasi dalam produksi energi domestik.
(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)