TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEKASI – Duka mendalam akibat kecelakaan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin (27/4/2026) malam meninggalkan jejak kesedihan yang luar biasa bagi keluarga Arinjani Novitasari (25).
Gadis muda yang dikenal sebagai auditor berdedikasi di perusahaan EY Indonesia ini menjadi salah satu dari sepuluh korban jiwa dalam tragedi memilukan tersebut.
Di rumah duka yang berlokasi di Villa Bekasi Indah 2, Tambun Selatan, arus pelayat seolah tak kunjung putus sejak jenazah Arin tiba dari RS Polri Kramat Jati hingga dimakamkan pada Rabu (29/4/2026).
Baca juga: Penumpang KRL Letakkan Bunga untuk Korban Tragedi Kereta Api di Stasiun Bekasi Timur
Tangis Sang Ayah: "Iringan ke Pemakaman Tidak Berhenti"
Riki, ayah kandung Arin, tak mampu membendung air mata saat mengenang putri keduanya itu. Ia mengaku terenyuh melihat betapa banyaknya orang yang merasa kehilangan sosok Arin.
Mulai dari teman masa kecil, rekan kuliah, kolega kantor, hingga klien perusahaan tempatnya bekerja hadir memberikan penghormatan terakhir.
"Subhanallah mas, anak saya tuh ya, saya juga sangat terharu mas enggak tahu dia di luarnya kayak seperti apa, tapi demi yang mengantar dia, dari rumah sakit sampai ke pemakaman terus berdatangan, bahkan sampai kliennya dia itu datang," ungkap Riki sambil mengusap air mata.
Bahkan, seorang bapak penjaga penitipan motor di Stasiun Tambun pun turut hadir melayat. Arin dikenal sering menitipkan motornya di sana hingga berhari-hari jika harus lembur dan pulang menggunakan taksi fasilitas kantor.
Dedikasi Tinggi dan Julukan 'Budak Corporate'
Di mata keluarga, Arin adalah sosok wanita pekerja keras yang sangat mencintai kariernya. Sebagai auditor di kawasan SCBD, Arin kerap menghabiskan waktu dengan bekerja lembur.
Saking fokusnya pada pekerjaan, sepupu Arin bahkan sempat melontarkan candaan tentang kegigihannya bekerja.
"Makanya sepupunya itu sampai bilang, lu budak corporate banget sih, mending keluar aja," kenang Riki menirukan ucapan keponakannya.
Kegigihan ini juga yang membuat Arin tampak belum memikirkan urusan asmara meski usianya akan menginjak 26 tahun pada November mendatang.
Riki menyebut Arin belum pernah memperkenalkan sosok pria ke keluarga karena waktunya habis untuk mengejar karier.
"Masih dalam pendekatan ya. Jadi kita enggak ini (enggak dianggap serius). Tapi emang anak ini, kalo saya perhatiin mas enggak ada waktunya buat cowok, dia emang anak ini sepertinya emang gila kerja mas," tutur pria berpeci hitam tersebut.
Ceria dan Suka Bercanda di Rumah
Meski tampak serius dalam pekerjaan, Arin adalah sosok yang ceria dan sering menggoda ayahnya saat berada di rumah.
Riki mengenang saat-saat terakhir sebelum kecelakaan terjadi, tidak ada firasat apa pun karena semua berjalan normal seperti biasa.
Arin dikenal sangat dekat dengan kakak perempuannya. Sang kakaklah yang biasanya mampu membujuk Arin untuk keluar kamar dan berkumpul bersama keluarga di teras rumah.
"Kita di teras kumpul sama keluarga, dia enggak akan keluar, kecuali kakaknya dateng, diomelin dan selalu dipanggil, 'nyet keluar lu ngobrol lu', baru ngobrol tuh, ketawa-ketawa, sejam masuk lagi ke kamar," kenang Riki dengan senyum getir.
Kenangan Tetangga: "Setiap Pagi Selalu Menyapa"
Kehilangan ini juga dirasakan oleh para tetangga. Eyit, salah satu tetangga Arin, mengingat almarhumah sebagai sosok yang sopan.
"Setiap pagi itu, dia selalu sapa saya, pukul 06.00 WIB dia sudah jalan kerja karena naik kereta," kata Eyit.
Kini, bunga-bunga duka cita bersandar di Stasiun Bekasi Timur dan rumah duka sebagai saksi bisu kepergian seorang perempuan hebat. Riki dan keluarga hanya bisa berdoa agar kebaikan Arin semasa hidup membawanya pada tempat terbaik di sisi-Nya.
"Saya hanya berharap kebaikan anak saya bisa mendapat tempat di surga dan wafat dalam keadaan khusnul khotimah," pungkas Riki.
Laporan: Miftahul Munir/Wartakotalive.com