TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEKASI – Duka menyelimuti Perum Depsos, Telagaasih, Cikarang Barat. Salah satu warganya, Tutik Anitasari (31), menjadi korban dalam kecelakaan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Kepergian Tutik menyisakan luka mendalam, terutama bagi putra kecilnya yang baru berusia satu tahun empat bulan.
Di balik tragedi yang merenggut nyawa pekerja bidang kecantikan ini, terselip kisah-kisah memilukan dan firasat tak biasa yang dirasakan orang-orang terdekatnya.
Baca juga: Keinginan Terakhir Vica Korban Tragedi KRL Bekasi: Ingin Bunga Tanpa Diminta
Firasat Ganjil: Tatapan Kosong di Hari Minggu Terakhir
Sri Untung (48), tetangga yang paling sering menjadi tempat curhat Tutik, tak kuasa menahan tangis saat mengenang gelagat aneh almarhumah sehari sebelum kecelakaan terjadi.
Pada Minggu (26/4/2026), Tutik yang biasanya ceria dan gemar bercanda saat mengasuh anak, tiba-tiba menunjukkan sikap yang berbeda.
"Aku baru sadar kok ini anak beda ya, aku tanya diam aja biasa ngobrol atau gimana. Terus waktu itu mukanya seperti pucat gitu," ungkap Sri lirih.
Sri menceritakan bahwa saat itu Tutik hanya terdiam dengan tatapan kosong di pinggir jalan, bahkan tidak bereaksi ketika anaknya bermain di dekat kompor.
Padahal, biasanya Tutik selalu bersemangat menceritakan keinginannya untuk memiliki rumah sendiri di perumahan tersebut agar tidak lagi mengontrak.
Tangis Balita yang Mencari Sang Ibu
Kepergian Tutik meninggalkan duka yang teramat berat bagi Aji, sang suami, dan putra kecil mereka. Tetangga lainnya, Suprapto (55), menceritakan bahwa sejak sang ibu dikabarkan hilang hingga jenazahnya ditemukan, balita tersebut terus-menerus menangis.
Diketahui, sang anak selama ini masih bergantung pada ASI. Tutik yang bekerja di Tebet, Jakarta, setiap hari berangkat pukul 06.00 WIB dan baru kembali pukul 22.00 WIB, namun selalu menyempatkan diri menyetok ASI di rumah.
"Anaknya nangis terus soalnya kan memang masih ASI ya. Kalau kerja juga katanya suka stok ASI dulu di rumahnya," kata Suprapto.
Dimakamkan di Wonogiri
Jenazah Tutik sempat dibawa ke rumah duka di Cikarang pada Rabu (29/4/2026) malam pukul 21.00 WIB usai diidentifikasi di RS Polri Kramat Jati.
Setelah disalatkan, jenazah langsung diberangkatkan ke kampung halamannya di Wonogiri, Jawa Tengah, untuk dikebumikan.
Meski jenazah dimakamkan di luar kota, warga Perum Depsos tetap berinisiatif menggelar tahlilan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi sosok yang dikenal baik dan sopan tersebut.
"Ya tahlilan di sini juga sama warga-warga di sini," pungkas Suprapto.
Berdasarkan data terbaru hingga Rabu siang, jumlah korban meninggal dunia akibat insiden di Bekasi Timur ini telah bertambah menjadi 16 orang, sementara puluhan lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Laporan: Muhammad Azzam/TribunBekasi.com