TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEKASI – Sebuah pesan singkat di layar ponsel menjadi kenangan terakhir yang tak terlupakan bagi anak tunggal Nurlaela (40).
Guru PNS di SDN Pulogebang 11 Jakarta Timur itu menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam.
Di rumah duka yang berlokasi di Kampung Ceger, Desa Tanjungbaru, Cikarang Timur, sang anak menceritakan komunikasi terakhirnya dengan sang ibu kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM, yang datang melayat pada Selasa (28/4/2026) sore.
Pesan Terakhir: "Pulang Malam"
Sore itu, sekitar pukul 17.30 WIB, sang anak sempat mengirimkan pesan menanyakan keberadaan ibunya. Tak disangka, jawaban singkat almarhumah menjadi kalimat pamungkas bagi keluarga.
"Iya, mamah dimana. Iya (dijawab) masih di sekolah pulang malam," ujar anak almarhumah menirukan pesan sang ibu.
Adik kandung korban, Ade Shofyan (35), menambahkan korban biasa berangkat pukul 05.00 WIB ke Stasiun Cikarang menuju ke Jakarta. Dia membawa motor untuk dititipkan di dekat stasiun Cikarang.
"Biasanya sebelum magrib tiba di rumah, mungkin ada kegiatan tambahan dari sekolah jadi pulang malam," kata Ade saat diwawancara pada Selasa (28/4/2026).
Saat telepon genggamnya dikontak, Nurlaela tidak menjawab. Tak berapa lama, pihak berwenang lalu memberikan kabar bahwa ponsel tersebut ditemukan, namun keberadaan pemiliknya masih misterius.
"Pas dihubungi berdering tapi engga ada yang angka. Terus satu jam kemudian dihubungi lagi langsung ada yang angkat dari rescue Damkar," ujarnya.
Petugas Damkar menyarankan agar keluarga datang ke Stasiun Bekasi Timur untuk mengeceknya. Ade langsung berangkat ke Stasiun Bekasi Timur.
Karena belum ada ruang informasi atau posko pengaduan dari PT KAI, Ade mencari tahu keberadaan kakaknya dengan cara mengecek satu per satu korban yang hendak dibawa ke ambulan.
"Baru jam setengah 1 malam ada posko pengaduan informasi. Ada rilis nama-nama, tapi di situtidak ada nama kakak saya," kata dia.
Berdasarkan informasi para korban yang dibawa ke rumah sakit, teman-teman almarhumah lalu mendatangi keempat rumah sakit rujukan.
"Akhirnya kakak saya ada di RSUD Kota Bekasi dan keadaan meninggal," ucap Ade.
Almarhumah mengalami patah tulang, memar dan luka dibeberapa bagian tubuh. Jenazah almarhum dipulangkan ke rumah duka pada pukul 03.00 WIB dini hari.
Ade menyebut, pihaknya jarang mengobrol dengan kakaknya. Komunikasi dengan kakaknya sebatas saat menyuruh menjemput anaknya.
"Memang almarhum jarang ngomong, ke saya biasa minta tolong jemput anaknya. Terakhir percakapan ke saya ingetin salat, engga ada firasat," jelas Ade.
Dedikasi Sang Guru yang Baru Meraih Gelar Magister
Nurlaela bukan sekadar guru biasa. Di sekolahnya, ia memegang tanggung jawab besar sebagai bendahara dan pengelola perpustakaan.
Dedikasinya terhadap pendidikan sangat tinggi; bahkan ia baru saja menyelesaikan pendidikan Magister (S2) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tiga bulan yang lalu.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, yang turut hadir di rumah duka, memberikan kesaksian atas profesionalisme almarhumah.
“Dedikasi almarhum menurut kesaksian kepala sekolah, teman-temannya beliau sangat bertanggung jawab. Jadi kita doakan Insyaallah almarhuma khusnul khotimah,” kata Nahdiana.
KDM Beri Santunan dan Angkat Sang Anak Jadi Anak Angkat
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang datang bersama jajaran Pemprov Jabar, tampak sangat tersentuh dengan nasib anak tunggal korban yang kini masih duduk di bangku kelas 6 SD tersebut.
Spontan, KDM menyatakan akan menjamin masa depan bocah tersebut.
Selain memberikan uang santunan sebesar Rp 50 juta, KDM berkomitmen untuk menjadikan anak Nurlaela sebagai anak angkatnya dan menjamin biaya sekolah hingga jenjang kuliah.
"Saya dan atas nama pemerintah provinsi mengucapkan rasa duka kami. Kepada keluarga almarhuman Nurlaela dan juga korban lainnya baik yang meninggal, luka-luka yang masih dirawat maupun sudah pulang," ucap Dedi Mulyadi.
Ia juga mendesak agar investigasi menyeluruh dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Isak Tangis di Pemakaman
Nurlaela (30) telah dimakamkan di Kampung Ceger, RT 02/RW 02, Desa Tanjungbaru, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Jenazah dimakaman di pemakaman tak jauh dari rumah duka.
Berdasarkan pantauan pukul 11.00 WIB pada Selasa (28/4/2026), keluarga, kerabat, teman sesama guru ikut ke lokasi pemakaman. Tangis histeris suami dan ibu korban tak terbendung saat jenazah mulai dimasukkan ke liang lahat.
Paman korban, Mulyadi, menuturkan kondisi jenazah almarhumah saat tiba di rumah dalam keadaan utuh, meski mengalami patah kaki dan diduga luka dalam.
“Kondisi tubuhnya utuh, tidak ada luka yang mengkhawatirkan. Cuma kakinya patah dan mungkin ada luka dalam,” kata Mulyadi.
Nurlaela meninggalkan seorang anak yang kini duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar.
Tragedi ini menambah daftar panjang korban meninggal dalam kecelakaan kereta di Bekasi yang hingga Selasa pagi dilaporkan telah mencapai 15 orang. (MAZ)
Laporan: Muhammad Azzam/TribunBekasi.com