SERAMBINEWS.COM - Kasus kekerasan terhadap anak kembali menyita perhatian publik. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman justru menyisakan trauma, tak hanya bagi anak, tetapi juga bagi para ibu. Mirisnya, peristiwa ini terjadi di tempat penitipan anak atau daycare.
Kasus kekerasan terhadap anak di Daycare tidak hanya terjadi di Jogja tetapi juga di Kota Banda Aceh, Babypreneur DayCare, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.
Akai kekerasan yang dilakukan oleh pengasuh terekam di dalam CCTV dan menuai kecaman publik usai viral di media sosial.
Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang pengasuh tengah menyuapi makanan kepada seorang bayi perempuan berusia 18 bulan.
Namun, di tengah aktivitas tersebut, pengasuh diduga melakukan tindakan kekerasan berupa menjewer telinga, menepis wajah, hingga membanting korban.
Kejadian ini terungkap sudah dua kali, yakni pada tanggal 24 dan 27 April 2026.
Baca juga: Temanku Ditampar & Berkat Ucapan Balita Bongkar Borok Daycare di Aceh: Ortu Syok Cek CCTV 27 April!
Terbaru, polisi menetapkan tiga pengasuh tempat penitipan anak (daycare) Yayasan BD di Banda Aceh sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap balita. Ketiganya masing-masing berinisial DS (24), RY (25), dan NS (24).
Penetapan tersangka disampaikan Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono. Ia menjelaskan, DS lebih dahulu ditetapkan sebagai tersangka, sebelum penyidikan berkembang dan menyeret dua pengasuh lainnya.
“Setelah dilakukan rangkaian penyelidikan dan penyidikan serta gelar perkara, ditemukan fakta dan minimal dua alat bukti sehingga ditetapkan dua tersangka tambahan,” ujarnya, Rabu kemarin.
Peristiwa seperti ini tentu tidak hanya meninggalkan luka pada anak sebagai korban utama, tetapi juga menyisakan dampak psikologis yang mendalam bagi orangtua, terutama ibu.
Dalam banyak kasus, ibu menghadapi tekanan emosional yang kompleks, mulai dari shock, rasa bersalah, hingga kecemasan berlebih.
Menurut psikolog anak Vera Itabiliana melalui Kompas.com, reaksi emosional tersebut merupakan respons yang wajar ketika orangtua mengetahui anaknya mengalami perlakuan buruk di tempat yang seharusnya aman.
Baca juga: Tiga Pengasuh Daycare Jadi Tersangka, Motif Kekerasan Kesal karena Bayi tak Mau Makan
Saat pertama kali mengetahui kejadian, ibu umumnya mengalami shock emosional.
Perasaan ini sering diikuti dengan kesedihan mendalam, kemarahan, dan kecemasan yang sulit dikendalikan.
“Ibu juga bisa mengalami kehilangan rasa aman dan kepercayaan, karena tempat yang sebelumnya dipercaya justru mencelakai anak,” jelas Vera, dikutip dari Kompas.com, Kamis (30/4/2026).
Kondisi ini bisa membuat ibu terus-menerus memikirkan kejadian, sulit tidur, hingga merasa waspada berlebihan terhadap lingkungan sekitar.
Salah satu respons yang paling umum muncul adalah self-blame atau menyalahkan diri sendiri.
Banyak ibu merasa telah gagal menjalankan perannya sebagai pelindung anak.
Baca juga: Sudah 5 Tahun! Daycare Baby Preneur Banda Aceh Nekat Beroperasi Meski Tak Berizin, Kini Berkasus
Padahal, secara objektif, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku.
Namun secara psikologis, menyalahkan diri sendiri kerap menjadi cara untuk mencari penjelasan dan rasa kendali atas situasi yang tidak terduga.
“Ini adalah respons emosional yang umum dalam situasi traumatis, meskipun tidak selalu rasional,” tambah Vera.
Menghadapi situasi ini tidak mudah, tetapi ada beberapa langkah awal yang bisa dilakukan untuk membantu pemulihan:
1. Izinkan diri merasakan emosi
Jangan menekan atau menyangkal perasaan sedih, marah, atau kecewa. Memberi ruang pada emosi adalah bagian penting dari proses penyembuhan.
2. Pastikan anak dalam kondisi aman
Fokus utama tetap pada keamanan dan kebutuhan anak, termasuk jika perlu mendapatkan bantuan medis atau psikologis.
3. Cari dukungan
Berbagi cerita dengan pasangan, keluarga, atau teman dekat dapat membantu meringankan beban emosional.
4. Batasi paparan informasi yang memicu stres
5. Pertimbangkan bantuan profesional
Jika perasaan cemas, takut, atau sedih tidak kunjung membaik, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog.
Dalam proses pemulihan, peran keluarga dan lingkungan sangat penting.
Dukungan sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, membantu kebutuhan sehari-hari, atau sekadar hadir menemani bisa memberikan dampak besar.
Sebaliknya, ada beberapa hal yang perlu dihindari karena dapat memperburuk kondisi psikologis ibu, seperti menyalahkan, meremehkan perasaan, atau memaksa untuk “cepat move on”.
Pendekatan yang empatik akan membantu ibu merasa tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini.
Di tengah perhatian publik, tidak sedikit komentar netizen yang justru menyudutkan orangtua, terutama ibu.
Padahal, komentar negatif ini dapat memperparah kondisi mental.
Komentar yang menyalahkan dapat memperkuat rasa bersalah, memicu kecemasan, hingga membuat ibu menarik diri dari lingkungan sosial.
Dalam beberapa kasus, tekanan dari media sosial bahkan menjadi trauma kedua setelah kejadian utama.
Penting untuk dipahami bahwa tidak ada orangtua yang menitipkan anak dengan niat mencelakakan.
Banyak keluarga memilih daycare karena kebutuhan bekerja dan kepercayaan bahwa anak akan dirawat dengan baik. Karena itu, alih-alih bertanya “mengapa anak dititipkan?”, masyarakat perlu mulai menggeser perspektif menjadi “apa yang bisa dilakukan untuk membantu keluarga ini pulih?”.
Fokus seharusnya diarahkan pada pelaku dan sistem pengawasan yang lalai, bukan pada menyalahkan orangtua.
Dengan empati, masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pemulihan, bukan justru menambah luka. (*)