TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 100 delegasi dari Welcome Clubs International (WCI) Biennial Conference menyambangi Kampung Batik Giriloyo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Rabu (29/4/2026).
Kunjungan para delegasi yang berasal dari belasan klub perempuan mancanegara ini merupakan rangkaian konferensi internasional, di mana Women’s International Club (WIC) Jakarta bertindak sebagai tuan rumah.
Mengusung tema 'Bridging Traditions and Transformations: Empowering Women through Education and Cultural Heritage in a Changing World,' para delegasi diajak melihat langsung bagaimana batik menjadi motor penggerak ekonomi dan ruang pemberdayaan bagi perempuan di akar rumput.
Ketua WCI Biennial Conference, Dr Nina Handoko, menjelaskan Yogyakarta dipilih untuk memberikan perspektif berbeda bagi para delegasi setelah sebelumnya menjalani agenda padat di metropolitan Jakarta.
"Setelah tiga hari berada di Jakarta, kami ingin mengajak para peserta melihat wajah Indonesia yang berbeda melalui Yogyakarta. Kontras ini selaras dengan tema konferensi kami, Bridging Traditions and Transformations," ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Di Giriloyo, para delegasi dapat menyaksikan bagaimana batik terus bertransformasi, dari warisan budaya yang dijaga turun-temurun menjadi living heritage yang hidup di tengah masyarakat, sekaligus sumber penguatan ekonomi yang mampu mengangkat harkat komunitas.
Baca juga: Pemkot Yogyakarta Mulai Alihkan Korban Little Aresha Daycare ke Penitipan Anak Lain
Para peserta pun tampak antusias mengikuti sesi membatik, mulai dari memegang canting, hingga belajar menorehkan malam di atas kain bersama para perajin lokal.
Melalui pengalaman langsung ini, para delegasi diperkenalkan pada nilai kesabaran, ketelitian, hingga filosofi ketahanan ekonomi yang terkandung dalam setiap helai kain batik.
Nina menambahkan, status batik sebagai warisan budaya tak benda UNESCO harus dilihat sebagai sebuah proses yang dinamis, bukan sekadar komoditas semata.
"Jadi, di Giriloyo, para peserta menyaksikan batik sebagai sebuah proses, dari goresan canting, kesabaran para perajin, hingga nilai-nilai yang diwariskan antar generasi. Inilah batik sebagai living heritage, warisan yang terus hidup, memberi makna, sekaligus membuka jalan kemandirian bagi masyarakat," imbuhnya.
Kegiatan diperkuat dengan diskusi panel yang menghadirkan pakar pelestarian budaya, Dr. Ir. Laretna Adhisakti, arsitek sekaligus Ketua 1 PPBI Sekar Jagad, yang memaparkan bagaimana perempuan pembatik di Imogiri bangkit dari keterpurukan pasca gempa bumi 2006 melalui kemandirian ekonomi berbasis budaya.
Senada, praktisi batik Afif Syakur menyoroti pentingnya inovasi dan edukasi dalam menjaga tradisi melalui program pengembangan kapasitas agar perempuan semakin kreatif dan mandiri secara finansial.
Sementara itu, Ketua Program WCI Biennial Conference di Yogyakarta, Danie Prakosa, mengapresiasi antusiasme para tamu internasional yang bersedia masuk ke pelosok desa untuk belajar langsung dari perajin.
"Kami sangat menghargai kehadiran para delegasi dari mancanegara yang telah meluangkan waktu untuk datang ke Giriloyo dan belajar langsung dari para perajin batik. Kehadiran ini menjadi bentuk penghormatan yang bermakna bagi masyarakat lokal, sekaligus membuka ruang dialog budaya antara komunitas internasional dan para pelaku budaya di Yogyakarta," katanya. (*)