Ketika Panggilan Hati untuk Haji Kalahkan Himpitan Ekonomi
adisaputro April 30, 2026 05:44 PM

TRIBUNWOW.COM - Bergelut dengan panas terik matahari sudah risiko yang harus diambil dua orang pengais rezeki di Karesidenan Solo demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Dari pagi buta, mereka keluar rumah untuk coba cari peruntungan di setiap harinya.

Tak jarang, cuaca buruk hujan deras hingga petir dan badai jadi teman mereka berpeluh di tengah kerasnya kehidupan.

Di tengah himpitan ekonomi dan kesulitan tersebut, justru terbesit asa yang tak pernah diduga oleh banyak orang.

Asa bertamu ke rumah Allah untuk menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji.

Di tengah kebutuhan ekonomi, dua pejuang nafkah asal Dibal dan Kadipiro Kota Karesidenan Solo ini masih bisa sisihkan penghasilan untuk wujudkan mimpi itu.

Dan kini, keduanya sukses menginspirasi dengan menjawab keraguan di benak masyarakat jika himpitan ekonomi tak surutkan mimpi untuk pergi ke tanah suci.

Tukang Bakso Bakar di Dibal Naik Haji

Sosok tukang bakso bakar asal Dibal Boyolali, Lukman Busra ketika tengah menunaikan ibadah haji pada Juni 2024 lalu.
Sosok tukang bakso bakar asal Dibal Boyolali, Lukman Busra ketika tengah menunaikan ibadah haji pada Juni 2024 lalu. (HO TribunWow.com)

Tentu, tak ada yang menyangka sosok penjual bakso bakar asal Dibal, Boyolali, Lukman Busra bisa tunaikan haji di tengah kehidupan sederhananya.

Lukman Busra berhasil menjawab pikiran skeptis khalayak luar mengenai profesinya sebagai tukang bakso bakar yang berpendapatan tak sebesar pegawai kantoran.

Namun, berkat tekada dan perjuangan keras dari Lukman, angannya untuk pergi haji dan jawab keraguan orang terbantahkan.

Dikit demi sedikit, laba dari hasilnya berjualan bakso bakar ditabungkan.

Nominalnya memang tak seberapa, namun, berkat ketekunannya menabung itu lah Lukman bisa merealisasikan keinginan masa kecilnya pada Juni 2024 lalu.

"Untuk ibadah haji, alhamdulilah saya berkesempatan untuk beribadah ke tanah suci berkat bantuan dari Allah."

 "Jalannya sampai bisa ibadah haji itu ya dari cita-cita semasa kecil,  saat itu di TPA saya sudah diajari doa haji, jadi doanya itu 'Allahumma ballighna Makkata wal Madiinata wal 'Arafata wa Ruzqnal hajjal mabruuro wardha 'anna wahgfirlanaa warhamnaa Anta Maulaana fanshurnaa 'Alal qoumil Kaafiriina, nah doa itu saya panjatkan terus sampai sekarang ini."

"Dan akhirnya, alhamdulilah kini benar-benar terlaksana, meski hanya dengan berjualan bakso bakar, Allah menolong saya, setiap habis berjualan, saya upayakan bisa menyisihkan Rp 50-100 ribu," ungkapnya lagi kepada TribunWow.com, Senin (21/4/2026).

Lukman juga menceritakan awal mula dirinya mendaftarkan haji di tahun 2013 lalu.

"Setelah bakso bakar booming, namanya rezeki mungkin ini jalan saya untuk haji, saya langsung mendaftar untuk kursi haji, setelah mendaftar, tinggal menunggu, nah menunggu itu juga sembari mengumpulkan uang untuk haji, karena kan haji itu panggilan khusus dari Allah, kalau kita tidak berusaha ya tidak mungkin, dan juga haji itu kan membutuhkan biaya yang tidak sedikit," lanjutnya.

Keberhasilannya menunaikan ibadah haji di usia yang terbilang muda membuat Lukman sampai saat ini masih merasa tak menyangka.

"Saya bersyukur bisa berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji karena tidak semua umat islam bisa melaksanakan ibadah haji."

"Di tahun 2024 ini jumlah jamaah haji terbilang jadi yang terbanyak sepanjang masa. Jadi, saat menunaikan ibadah haji, saya bertemu dengan banyak jamaah yang pastinya menguras fisiknya karena saling berdesakan," ucap Lukman.

Di sisi lain, Lukman merasa terkesan dengan fasilitas haji yang sudah disiapkan pemerintah Indonesia.

Baik dari segi fasilitas maupun sampai dengan pelayanan administrasinya.

"Untuk fasilitas baik, untuk pelaksanaan ibadah haji Indonesia itu sudah baik jadi ya tinggal dilaksanakan dengan baik dan pelayanannya juga sudah bagus," bebernya.

Tukang Gali Kubur-Kuli Bangunan di Kadipiro, Solo Naik Haji

Profesi tukang gali kubur yang juga serabutan menjadi kuli bangunan dianggap sulit untuk bisa tunaikan mimpi bertamu ke rumah Allah di Baitullah.

Akan tetapi, semua itu berhasil terbantahkan berkat kegigihan tukang gali kubur serta kuli bangunan asal Kadipiro, Solo, Temon Kartosoemito.

Temon menceritakan perjuangannya dalam mencari nafkah sebagai tukang gali kubur.

Menurutnya, upah yang didapatkannya pun kadang tak langsung diberikan.

Semua tergantung dari kondisi keluarga masing-masing yang meminta bantuan jasanya.

 “Kalau untuk gali kubur, kalau ada yang meninggal khususnya kampung sini, sekitar sini, kalau dikuburkan di tempat makam Bayan itu, saya istilahnya termasuk tukang gali nya. Ada rombongan 5 orang, istilahnya kalau sudah selesai terkadang langsung dikasih terkadang di lain hari baru dikasih,” ujar Temon kepada TribunWow.com pada Senin (6/4/2026).

Meski begitu, upah Rp130.000 biasa didapatkannya dari jasanya menggali kubur.

Itu pun tak lantas dihabiskan semuanya.

Melainkan, Temon sisihkan Rp100.000 ditabung untuk bisa mendaftarkan haji dan sisanya digunakan untuk pegangan.

“Bagian saya sekitar Rp130 ribu, 100 saya sisihkan saya celengin, yang 30 untuk pegangan, itu kalau ada, kadang seminggu 3 kali, kadang 2 bulan tidak ada,” jelasnya.

Tak hanya bergantung sebagai tukang gali kubur semata, pria paruhbaya berusia 73 tahun itu juga berikhtiar kumpulkan uang demi haji dengan menjadi kuli bangunan.

Uang pendapatannya dari kuli bangunan pun juga turut disisihkan demi bisa berangkat ke Baitullah.

“Untuk kerja sebagai kuli, bayaran saya Rp110.000 per hari. Kalau ada gajian malam minggu sebagian saya sisihkan, sebagian buat pegangan, kan untuk makan sudah diurusin sama anak, saya pakai untuk jajan dan kebutuhan lainnya, setiap harinya seperti itu,” ungkapnya.

Meski menjadi kuli bangunan, tak lantas membuat Temon menyisihkan pekerjaannya sebagai tukang gali kubur.

“Kalau untuk kerjaan tukang bangunan itu, alhamdulilah kerja di Payaman itu sampai 7 bulan itu alhamdulilah rutin kerja, tapi kalau ada yang layatan atau ada yang membutuhkan saya ambil libur dulu,” ungkap bapak 4 orang anak tersebut.

Selain menyisihkan uang dari pekerjaanya, Temon juga turut menjual aset warisan pemberian dari ayahnya demi bisa bertamu ke rumah Allah di tanah suci Mekkah.

Sementara kekurangan biaya lainnya Temon ambil dari pinjaman sanak saudara.

Dengan dikembalikan secara cicilan yang dibantu oleh beberapa anaknya.

“Waktu mendaftarkan punya tanah yang lumayan, saya bilang ke anak-anak untuk haji, anak-anak memperbolehkan, saya jual di tahun 2012 dan 2025 bisa naik haji, alhamdulilah sehat dan barokah.”

“Saya bisa nyelengin sedikit demi sedikit, saya sebelum naik haji itu sudah ada tabungan sedikit demi sedikit, terus pinjam sedikit yang penting saya bisa naik haji, saya pinjam adik ipar, sebenarnya mau dipakai naik haji juga, namun akhirnya diberikan saya terlebih dahulu, lalu saya cicil. Nanti untuk melunasi hutang bisa dicarikan dikit demi sedikit,” kata Temon seraya mengingat masa perjuangannya untuk haji.

(TribubWow.com/Adi Manggala S)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.