TRIBUNKALTARA.COM,TARAKAN- Wali Kota Tarakan Khairul turut memberi opsi solusi keluhan warga terkait harga ikan di pasaran terus alami kenaikan.
Menurut orang nomor satu di Tarakan ini, solusi agar warga tetap konsumsi ikan di tengah harga ikan naik, yaitu konsumsi ikan hasil tambak. Sebab ikan hasil tambak ini lebih murah darpada ikan hasil laut. Bisa juga diselang seling konsumsi ikan hasil tambak dan ikan hasil laut.
"Sekarang ini ikan bandeng agak naik, sudah di Rp30 ribuan. Mungkin gara-gara permintaan Makan Bergizi Gratis (MBG)," ucap Khairul, Kamis (30/4/2026).
Khairul mengatakan, kenaikan harga ikan bandeng juga saat ini sudah punya nilai jual. Dikarenakan selain permintaan MBG di ekspor keluar, terutama ikan bandeng tanpa duri.
Baca juga: BBM Non Subsidi Naik, Warga Tarakan Keluhkan Harga Ikan Mahal, Begini Penjelasan Anggota DPR RI
Dikatakan Khairul, jika ingin harga ikan lebih murah, harus perbanyak jenis ikan dibudidayakan di tambak selain ikan bandang. Misalnya saja ikan kakap yang bisa dibudidayakan selain di laut.
Kemudian ikan bawal sebenarnya bisa dibudidayakan. Sehingga nanti menjadi tugas Dinas Kelautan dan Perikanan untuk memgedukasi petambak supaya membudidayakan tidak hanya ikan bandeng.
"Nah supaya harganya mungkin bisa agak murah saya kira perlu dibantu dengan bibit. Bisa melalui aspirasi DPR RI termasuk dari kami. Pemkot tiap tahun berikan bantuan bibit," ujarnya.
Khairul juga membagikan cerita ada dua sisi yang membuat dilema kenaikan harga ikan. Pertama, persoalan petambak. Harga ikan bandeng misalnya dinilai murah. Namun muncul informasi terjadi kenaikan alias mahal.
Artinya harus ditelusuri. Ternyata yang justru mahal adalah ikan nelayan tangkap. Maka lanjutnya, ia juga tak menampik. Karena lokasi mencari ikan semakin jauh salah satunya.
Baca juga: Warga Pasir Putih di Tarakan Antusias Antre Dapat Ikan Bandeng Beku Gratis, Bulan Mutu Ikan 2026
"Mereka agak jauh ngambilnya sekarang, nelayan tangkap. Karena sekarang ini, rata-rata, ikan selalu diambil, ikan di pinggir laut hampir habis. Jadi memang ini, para nelayan kitanya lebih banyak sekarang ini k melaut agak jauh," ujarnya.
Dulu rerata nelayan bertunggu. Namun saat ini tidak begitu banyak. Dan ikan di pesisir tidak banyak. Sehingga nelayan melaut sampai ke perairan Bunyu dan wilayah lainnya. Ketika melaut jaraknya cukup jauh, operasionalnya penggunaan BBM cukup tinggi ditambah risiko cuaca.
Hanya saja tahun ini anggaran bantuan dikurangi karena terjadi pemangkasan di pusat.
"Sekarang diefisiensi. Jadi saya juga minta maaf dengan para kelompok-kelompok pertanian, kelompok-kelompok nelayan ini mau tidak mau kami juga mohon maaf, bantuan kita tidak seperti tahun-tahun sebelumnya karena memang kita juga efisiensi, ada tapi tidak banyak," terangnya.
Kemudian opsi lain untuk nelayan tangkap bisa diberikan subsidi BBM. Dulu Pemkot Tarakan memberlakukan subsidi BBM saat pertalite naik.
"Sempat kita subsidi 3 bulan kami kasih setiap nelayan itu sekitar ada 2 ribu orang kalau tidak salah waktu itu kita kasih setiap bulan itu uang Rp.500.000-Rp.600.000 saya ingat-ingat untuk selisih antara harga BBM yang mereka beli awal dengan kenaikan itu supaya harapan kami waktu itu para nelayannya tidak menaikkan harga ikan," jelasnya.
Saat ini harga BBM jenis pertalite belum naik di Tarakan termasuk Pertamax. Yang naik hanya dexlite dan solar subsidi juga belum naik.
"Kelihatannya kalau ikan naik, sebenarnya bersyukur jadi petambak ekonominya naik. Di sisi lain masyarakat umum yang beli. Apalagi kalau pendapatan masyarakat tidak naik ini jadi problem," urainya.
Ia melanjutkan lagi itu opsi yang bisa diterapkan saat ini dan sembari pihaknya akan berdiskusi lagi dengan nelayan tangkap dan budidaya.
"Jadi perlu dibudidayakan juga. Dan pemerintah mudahan bisa bantu bibit, pupuk, supaya kurangi biaya operasional," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah