TRIBUN-TIMUR.COM - Senin (27/4/2026) siang di lorong sempit Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Ujung Bulu, Bulukumba, Sulsel, seharusnya menjadi waktu istirahat yang tenang setelah kumandang azan zuhur.
Namun, bagi Nurfatmawati (23), suasana syahdu itu seketika pecah oleh teriakan histeris yang akan terus membekas di ingatannya.
Di depan kamar kosnya, sebuah drama keluarga berakhir tragis.
Ahmad Faisal (25) yang datang membawa niat baik untuk mengantarkan makanan bagi mantan istrinya, justru terlibat duel maut dengan mantan mertuanya sendiri, Haji Herman (49).
Nurfatmawati masih mengingat jelas bagaimana ketenangan siang itu berubah menjadi horor.
"Siang-siang, baru selesai zuhur," kenangnya dengan nada suara yang masih menyiratkan kecemasan.
Baca juga: Dua Remaja Asal Herlang Bulukumba Ditangkap Curi Motor Emak-emak
Ia menceritakan betapa cepatnya peristiwa itu terjadi, hanya dalam kurun waktu kurang dari lima menit.
Dari balik dinding bangunan, ia mendengar suara teriakan yang memilukan.
"Suaranya berteriak histeris, itu istrinya pelaku (anak korban). Saya takut sekali, suasana sangat ribut," ujar Nurfatmawati.
Pemandangan setelah keributan itu jauh lebih menyakitkan.
Haji Herman tergeletak bersimbah darah, tangannya terus memegangi perut yang robek akibat tusukan badik.
Warga yang mulai berkerumun sempat dilanda kebimbangan dan ketakutan untuk menolong.
"Mau diangkat ke mobil, tapi orang-orang masih takut karena pelaku mungkin masih ada. Kebetulan juga tidak ada yang bisa bawa mobil (milik korban)," tambah Nurfatmawati.
Ia bahkan tak sanggup melihat luka yang diderita pria paruh baya itu.
"Saya perhatikan, pokoknya saya tidak mau lihat, Pak," ujarnya.
Kasat Reskrim Polres Bulukumba, AKP Andi Imran, mengungkapkan bahwa insiden berdarah ini dipicu oleh pertemuan yang tidak terduga antara pelaku dan korban.
Menurutnya, Ahmad Faisal datang ke kos mantan istrinya murni untuk menyimpan makanan.
"Entah kenapa, tiba-tiba korban datang membawa parang dan mempertanyakan kehadiran pelaku, 'Apa kau ambil di sini?'" jelas AKP Andi Imran menirukan ucapan korban saat itu.
Situasi cepat memanas. Haji Herman yang tersulut emosi mengayunkan parang ke arah mantan menantunya tersebut, mengenai betis bagian belakang Ahmad Faisal.
Merasa terdesak dan terancam, Faisal lari ke arah dapur dan meraih sebilah badik yang tersimpan di sana.
"Saat korban mengayunkan parang untuk kedua dan ketiga kalinya, pelaku menangkis dan memegang pergelangan tangan korban, lalu menusuk perut korban sebanyak satu kali," lanjut Andi Imran.
Di balik pertikaian fisik tersebut, tersimpan luka lama tentang hubungan yang tak lagi direstui.
Polisi mengidentifikasi bahwa motif utama pelaku sebenarnya adalah pertahanan diri, namun akar permasalahannya adalah keinginan untuk kembali membina rumah tangga yang kandas.
"Pelaku ini sebenarnya berusaha untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya (rujuk), tetapi kedua orang tua dari istrinya sudah tidak menerima lagi," ungkap AKP Andi Imran.
Kini, niat memperbaiki hubungan itu justru berakhir di balik jeruji besi.
Haji Herman menghembuskan napas terakhirnya sebelum sempat mendapat perawatan medis di rumah sakit.
Sementara itu, Ahmad Faisal harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan ancaman hukuman di atas 10 tahun penjara.