Istirahat Sebentar di Travoy 65, Terbang Kemudian dari Kualanamu
Ayu Prasandi April 30, 2026 08:27 PM

TRIBUN-MEDAN.C0M,MEDAN- Singgah sejenak, lalu terbang kemudian. Kalimat itu menjadi alasan para pelancong untuk beristirahat sejenak di Rest Area Travoy 65 di Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tingi (MKTT) sebelum terbang dari Bandara Internasional Kualanamu.

Setelah menempuh perjalanan sepanjang hari dari berbagai kota di Sumut, mereka punya tempat untuk melepas lelah di rest area yang dikembangkan PT Jasamarga itu.

Saat pagi tiba Senin, (27/4/2026), orang-orang turun dari berbagai kendaraan yang berhenti di Rest Area Travoy 65 B.

Mereka bergegas ke toilet, masjid, tempat makan, pendopo hingga melepas lelah di kursi pijit.

Rest Area Travoy 65 yang hanya terpaut 30 menit dari Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang, membuat perjalanan para pelancong memiliki kenangan hangat yang penuh arti.

Rest area ini masuk kategori tipe A, yang artinya memiliki fasilitas lengkap dan modern.

Seorang petugas keamanan sedang membantu pengunjung memarkirkan kendaraan di Rest Area Travoy 65 B di Tol MKTT Serdangbedagai, Sumut, Senin (27/4/2026). satu diantara bentuk pelayanan sepenuh hati.
Seorang petugas keamanan sedang membantu pengunjung memarkirkan kendaraan di Rest Area Travoy 65 B di Tol MKTT Serdangbedagai, Sumut, Senin (27/4/2026). satu diantara bentuk pelayanan sepenuh hati. (TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani)

Ada dua rest area yang dikelola Jasamarga yakni Rest Area Travoy 65 A (Ambon) dan 65  B (Bandung) yang luas areanya masing-masing mencapai 5 Ha.

Rest area ini menjadi penghubung berbagai kota di Sumut ke bandara. Untuk yang menuju Bandara Intenasional Kualanamu, dinamakan Rest Area Travoy 65 B. 

Jarak rest area travoy 65 B menuju Bandara Internasional Kualanamu sekitar 30-35 KM. Untuk itu, rest area ini didesain bagai batas antara jalan bebas hambatan dan kenyamanan terminal udara menjadi samar.

Ini satu di antara cara Jasamarga dalam peningkatan kualitas layanan travoy rest yang berkelanjutan.

Ada berbagai fasilitas yang sama seperti di bandara dengan harga yang lebih murah dan terjangkau. Misal dari segi makanan dan minuman.

Berbagai jenis makanan dan minuman yang  cukup populer ada di sini. Selain itu, ada 63  tenant UMKM yang menghadirkan berbagai makanan Indonesia dan makanan khas daerah Sumut dan Aceh, membuat pengunjung bisa memanjakan lidahnya tanpa harus keluar dari tol MKTT.

Selain menu makanan yang lengkap, fasilitas umum, seperti kursi pijat elektrik, tempat ibadah, toilet dengan jumlah 50 bilik yang luas, bersih dan nyaman, pendopo, belasan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), tempat Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), hingga pengisian angin ban mobil juga tersedia.

Keunggulan rest  area ini dengan rest area lain di Sumut, bilik SPBU sudah permanen. Sementara di tempat lain masih portabel dan belum ada tempat pengisian SPKLU untuk kendaraan listrik. Selain itu, tenant tahu sumedang hanya disajikan disini.

Dari sisi swalayan  cukup lengkap, ada menu makanan siap saji yang bisa dibakar, direbus dan lain-lain.

Pantauan Tribun Medan, dari seratusan kendaraan yang mampir ke rest area travoy 65 B, tak ada satupun terlihat kesulitan saat memarkirkan kendaraannya. Selain karena area kantong parkir yang lebar, petugas keamanan juga terlihat sigap membantu.

Setelah memarkirkan kendaraan, para pengunjung ada yang langsung menuju toilet, ada juga yang menuju swalayan atau sekadar duduk santai bahkan ada yang langsung ke area kursi pijit elektrik yang telah disediakan.

Satu diantara pengunjung,  Syahdan Lubis (32), warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara yang hendak pergi ke Jakarta. Ini kali pertama ia berangkat ke Jakarta dari Bandara Internasional Kualanamu.

Diceritakan Syahdan, penerbangannya ke Jakarta pukul 13.3O WIB. Ia harus tiba di Bandara Kualanamu dua jam sebelum keberangkatan atau pukul 11.00 WIB.

Sementara ia tiba di rest area 65 B pukul 08.00 WIB. Sehingga masih memiliki waktu 2 jam  lagi untuk bersantai di rest area.

“Saya baru pertama mesan tiketnya dari Bandara Kualanamu biasanya saya langsung dari Bandara Udara Dr Ferdinand Lumban Tobing, Tapteng. Tapi kata kawan saya sekarang, di tol MKTT ada rest area yang bisa untuk rehat tanpa perlu sewa hotel dan lain-lain.

Tadi agak deg-degan, karena takut telat. Rupanya  saya tanya satpam dari sini ke bandara hanya 30 menit. Malah saya ada waktu 2 jam lagi,”jelasnya kepada Tribun Medan.

Dikatakannya, sebelum ada rest area, ia harus berangkat, satu hari sebelum jadwal penerbangannya. Kemudian, harus rehat ke Medan, untuk cari penginapan.

Sementara jarak dari Medan Kota, ke Bandara Kualanamu juga habiskan waktu perjalanan 1 jam.

“Walaupun sekarang sudah ada tempat penginapan ketika keluar tol, kami memilih rehat atau nunggu sampai subuh di rest area ini. Karena kalau istirahat di bandara harganya mahal kali. Kalau rest area ini bisa dibilang singgah sejenak sebelum terbang,”ucapnya.

Menurut Syahdan, kehadiran Rest Area Travoy 65 cukup membantu mereka yang tinggal  di kabupaten/kota di Sumut. Perjalanan mereka jadi lebih hidup, hangat dan penuh arti.

“Sejak ada rest area, bisa jadi healing hemat. Kehangatan keluarga dengan makan bersama, menikmati momen, tidur dan mandi di rest area bahkan makan pop mie menjadi lebih mahal, bermakna dan penuh arti yang selalu ingin dilakukan setiap kali kembali ke Sumut. Karena petugasnya pun siap siaga membantu kita,”jelasnya.

Seorang pengunjung sedang menikmati fasilitas kursi pijat yang disediakan di Rest Area Travoy 65 B di Tol MKTT Serdangbedagai, Sumut, Senin (27/4/2026). Rest area ini  menjadi tempat istirhat pengunjung yang hendak menuju Bandara Internasional Kualanamu.
Seorang pengunjung sedang menikmati fasilitas kursi pijat yang disediakan di Rest Area Travoy 65 B di Tol MKTT Serdangbedagai, Sumut, Senin (27/4/2026). Rest area ini menjadi tempat istirhat pengunjung yang hendak menuju Bandara Internasional Kualanamu. (TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani)

Bukan Sekadar Tempat Singgah, jadi Tujuan Utama Perjalanan

Berbeda halnya dengan Syahdan, Rinaldi (24) beserta teman-temannya memilih rehat sejenak di rest area travoy 65A .

Mereka menjadikan rest area ini menjadi tujuan utama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kota Rantauparapat. Baginya rest area ini sudah menjadi tempat pemberhentian wajib para Gen-Z di Sumut.

“Kampung halaman saya di Rantauprapat, kebetulan kawan-kawan mau ikut. Sudah diagendakan lama. Sebelum ada tol, perjalanan Medan-Rantauprapat menghabiskan waktu 7-8 jam. Sekarang 5-6 jam saja. Itu cukup mengasiyikkan. Apalagi ada rest area ini, perjalanan jadi lebih terasa hangat karena ada tempat ngobrol yang santai,”ucapnya.

Menurutnya, sejak ada rest area  banyak anak-anak Gen-Z yang mengabadikan momen sehingga tempat ini jadi cukup instagramable. Bukan hanya itu, mereka juga menyukai menu makanan yang dihadirkan.

“Tempat wajib berhenti, karena ya untuk kasih makan media sosial pertama, tapi alasan lainnya, karena rest areanya cozy banget untuk disinggahi.Toiletnya juga bersih nyaman. Pastinya juga banyak tempat tempat foto yang instagramable. Jadi kalau bagi kami ini hal yang wajib dikunjungi,”jelasnya.

Perjalanan Penuh Arti Dimulai dari Petugas Melayani Sepenuh Hati

Bagi pengguna Rest Area KM 65 A dan 65 B, Perjalanan mereka di rest area menjadi penuh arti, karena hangatnya petugas dalam melayani pengunjung. Hal itu dirasakan oleh Syahdan dan Rinaldi.

Menurut mereka, petugas keamanan sangat sigap membantu bahkan sebelum mereka bertanya. 

“Saya bawa keluarga, yang bisa dibilang cukup lansia. Tetapi, petugas satpam gercep tadi membantu kami. Kami baru sampai,  satpam langsung arahin untuk parkir kendaraan. Di sini juga ada tempat pejalan kaki difabel/lansia. Begitupun di toiletnya juga ada khusus untuk mereka. satpamnya juga bantu nenek saya tadi,  jadi ini cukup berarti bagi kami,”ucap Syahdan.

Hal yang sama juga dirasakan Rinaldi, menurutnya seluruh petugas melayani sepenuh hati mulai dari petugas kebersihan hingga petugas keamanan. Membuat mereka mengenang perjalanan ini.

“Pelayanan petugasnya juga oke, Kita kalau duduk lama, gak diliatin petugas kek diburu-buruin gitu. Jadi pelayanan mereka ini sampai ke hati kami,”ucapnya.

Seorang petugas keamanan Agung mengatakan, pelayanan sepenuh hati diwujudkan dimulai dengan memasang rambu-rambu lalu lintas di setiap sudut kantong parkir, membantu masyarakat yang kebingungan hingga bekerja dengan hati yang ikhlas.

“Saya sudah bekerja di sini dari satu tahun setelah rest area berdiri. Bagi saya, pelayanan sepenuh hati membantu pengunjung, sebelum mereka bertanya dan harus peka dengan kehadiran pengunjung,”ucapnya.

Seorang pengunjung sedang duduk santai sambil menunggu makananya tiba di Rest Area Travoy 65 B di Tol MKTT Serdangbedagai, Sumut, Senin (27/4/2026). Rest area ini  menjadi tempat istirhat pengunjung yang hendak menuju Bandara Internasional Kualanamu.
Seorang pengunjung sedang duduk santai sambil menunggu makananya tiba di Rest Area Travoy 65 B di Tol MKTT Serdangbedagai, Sumut, Senin (27/4/2026). Rest area ini menjadi tempat istirhat pengunjung yang hendak menuju Bandara Internasional Kualanamu. (TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani)

Tingkatkan Kualitas Layanan Travoy Rest yang Berkelanjutan Dimulai Dari Pengolahan Sampah

Direktur Utama PT Jasamarga Kualanamu Tol (JMKT) Thomas Dwiatmanto mengatakan, saat ini pihaknya terus meningkatkan kualitas layanan travoy rest untuk mewujudkan perjalanan yang penuh arti kepada masyarakat. 

“Rest area ini sudah berjalan 6 tahun. Mereka beroperasi secara bertahap di akhir 2019 dan selesai pembangunan secara menyeluruh pada September 2020 dan setelah selesai, segala jenis pengelolaan rest area diserahkan ke PT Jasamarga Related Business (JMRB).

Kita pihak Jasamarga saat ini hanya dibagian pengawasan. Sementara untuk urusan pengisian tenant dan lain sebagainya itu diserahkan ke pihak bisnis,”jelasnya.

Dikatakannya, makna  rest area travoy berkelanjutan, tidak harus adanya pembangunan rest area baru. Tetapi perbaikan, penambahan fasilitas publik yang membuat perjalanan masyarakat menjadi penuh arti. 

“Bisa kita awali dari pengolahan sampah yang berkelanjutan. Mungkin tahun ini kita akan membuat pengelolaan sampah masih sebatas pemilahan,tapi gak tertutup kita akan melakukan pencacahan. Karena memang kami juga ditargetkan sampah yang keluar di rest area itu hanya 20 persen. Sehingga sisanya 80 persen bisa di produksi ulang.

Kita juga sudah melakukan sosialisasi dengan pelaku UMKM dan retail untuk memisah sampah dan melakukan penimbangan di rest area ini ,”ucapnya.

Selain itu lanjutnya, untuk rest area berkelanjutan, mereka berencana akan menjadikan rest area sebagai tempat belanja seperti yang ada di pulau Jawa. 

“Untuk membangun hotel belum ya, karena keluar dari tol ini sudah banyak hotel dan di bandara juga ada fasilitas hotel. Namun kita ingin, rest area ini seperti di Bandung, menjadi tempat belanja. Mungkin nanti kita akan bekerjasama dengan beberapa perusahaan baju dan tempat bermain anak. Ini akan kami bahas dengan pihak JMRB,” ucapnya.

Apalagi, katanya Rest Area 65 ini sudah dijadikan tempat menu makan siang para pekerja kantoran sekitar Kabupaten Sergai di hari kerja. Untuk itu ia ingin membuat rest area menjadi tujuan utama dalam kebutuhan sehari-hari masyarakat. 

“Kedepan juga kita akan memasang cctv traffic Count untuk menghitung jumlah pengunjung ke rest area karena setiap tahunnya, rest area ini mengalami peningkatan trafic sebesar 5 persen.”jelasnya.

Sementara Region Head VI PT Jasamarga Related Business (JMRB) David Perkasa Batubara, saat ini pihaknya terus melakukan pengembangan pengisian tenant yang sesuai dengan minat pengunjung. Ini dilakukan untuk mewujudkan travoy rest berkelanjutan.

“Saat ini memang dalam proses pembahasan dengan beberapa calon potensial tenant. Selain membuka kesempatan kepada UMKM untuk melakukan usaha di rest area, kami juga fokus pada pengembangan area lahan dengan target market tenant yang lebih besar. Dengan adanya tenancy mix yang baik dapat memenuhi ekosistem travoy yang membuat perjalanan pengunjung lebih berarti,”ucapnya.

Pengamat Ekonomi Sumut, Benjamin Gunawan menilai, kehadiran travoy rest dapat membantu peningkatan ekonomi pelaku UMKM. Hanya saja, yang perlu diperhatikan, apa yang hendak dijual dan siapa pasarannya. 

“Dari  sisi desain tempat usaha para pelaku UMKM,  rest area travoy 65 ini sudah cukup strategis dan berkelanjutan. Hanya pelaku usaha perlu lakukan kajian barang apa yang cocok dijual di sana,”tutupnya.

(cr5/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.