TRIBUNNEWS.COM – Timnas Skotlandia kembali ke panggung Piala Dunia 2026 setelah penantian panjang yang nyaris tiga dekade.
Pada era 1970-an hingga 1990-an, Skotlandia merupakan langganan tampil di Piala Dunia, dengan lolos ke enam dari tujuh edisi.
Namun sejak terakhir tampil pada 1998, mereka mengalami masa paceklik panjang dengan enam kegagalan beruntun di babak kualifikasi.
Penantian pasukan Tartan Army akhirnya berakhir pada 18 November 2025 lewat kemenangan dramatis 4-2 atas Timnas Denmark.
Kemenangan tersebut menjadi penutup sempurna perjalanan penuh liku Skotlandia menuju Piala Dunia 2026, sekaligus membuka harapan untuk mencatat sejarah baru di Amerika Utara dengan menembus fase gugur untuk pertama kalinya.
Perjalanan mereka tidak berjalan mulus. Kampanye kualifikasi dimulai dengan hasil imbang tanpa gol di markas Denmark, hasil yang solid namun jauh dari meyakinkan.
Di laga-laga berikutnya, performa Skotlandia cenderung inkonsisten.
Mereka sempat meraih kemenangan tipis dan kurang meyakinkan atas Timnas Yunani dan Timnas Belarus di Hampden Park, bahkan sempat mendapat cemoohan dari para pendukung sendiri.
Situasi semakin sulit ketika mereka tertinggal 0-3 di Athena, sementara Denmark hanya membutuhkan kemenangan atas Belarus untuk mengunci tiket otomatis.
Baca juga: Profil Timnas Bosnia & Herzegovina di Piala Dunia 2026: Penjegal Italia yang Patut Diperhitungkan
Namun, hasil tak terduga terjadi ketika Belarus berhasil mencuri satu poin di Kopenhagen, membuka kembali peluang bagi Skotlandia.
Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sempurna. Dalam laga penentuan kontra Denmark, gol-gol dari Scott McTominay, Lawrence Shankland, Kieran Tierney, dan Kenny McLean memastikan kemenangan 4-2 yang penuh drama.
Kini, dengan tiket ke Piala Dunia 2026 di tangan, Skotlandia membawa misi besar: menebus waktu yang hilang dan mencatat sejarah baru di panggung dunia untuk pertama kalinya lolos ke babak fase gugur.
Terletak di barat laut Eropa, Skotlandia mungkin tergolong kecil, namun memiliki banyak hal yang patut dibanggakan.
Negara ini menempati sepertiga bagian utara Britania Raya dan berbatasan langsung dengan Inggris di sebelah selatan, serta dikenal dengan pemandangan alamnya yang menakjubkan.
Luas wilayah Skotlandia mencapai 78.772 km⊃2;, atau sekitar tiga perempat dari ukuran Pulau Jawa.
Dari garis pantai yang liar dan pantai yang masih alami, hingga lembah bergelombang dan pegunungan yang menjulang tinggi, bentang alam Skotlandia menjadi daya tarik utamanya.
Selain daratan utama yang kaya akan destinasi, Skotlandia juga memiliki hampir 800 pulau kecil yang tersebar di sekitarnya.
Secara geografis, Skotlandia dikelilingi oleh perairan di hampir seluruh sisinya. Di bagian timur terdapat Laut Utara yang memisahkan wilayah ini dari negara-negara Skandinavia di Eropa.
Sementara di utara dan barat, Samudra Atlantik membentang hingga ke arah Islandia, Amerika Serikat, dan Kanada.
Di sisi barat daya, terdapat Laut Irlandia yang menjadi batas alami antara Skotlandia dan Irlandia.
Dikenal dengan ekspresi datar dan minim gestur di pinggir lapangan, Steve Clarke justru menjadi sosok kunci di balik kebangkitan Timnas Skotlandia sejak mengambil alih pada 2019
Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen besar ketiga di bawah arahannya, setelah sebelumnya berhasil membawa Skotlandia kembali ke pentas internasional usai penantian panjang selama 23 tahun tanpa tampil di ajang besar seperti Piala Dunia maupun Euro.
Dalam 78 laga memimpin Skotlandia, Clarke berhasil meraih 35 kemenangan, 14 imbang, dan 27 menelan kekalahan.
Kesuksesan Clarke dibangun melalui pendekatan pragmatis serta kepercayaan tinggi terhadap inti pemain yang sama.
Konsistensi dalam pemilihan skuad menjadi salah satu kunci stabilitas performa Skotlandia.
Dengan filosofi tersebut, Clarke diyakini akan tetap mengandalkan kerangka tim yang sama saat Skotlandia menjalani comeback yang telah lama dinanti di panggung dunia.
Nama Scott McTominay menjadi pemain Skotlandia yang paling disorot di Piala Dunia 2026.
Selain perannya di lini tengah, McTominay juga sering menjadi ancaman di kotak penalti lawan, terutama dalam situasi bola mati.
Pengalamannya bermain di level klub elite seperti Manchester United dan Napoli membuatnya terbiasa menghadapi tekanan besar. Hal ini menjadi modal penting di turnamen sebesar Piala Dunia 2026.
Menariknya, ia pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik Serie A 2024/2025 saat mengantarkan Napoli scudetto.
Di Timnas Skotlandia, McTominay menjadi pemain termahal dengan nilai pasaran Rp782 miliar.
Skuad Timnas Skotlandia:
Kiper:
Angus Gunn (Nottingham Forest), Zander Clark (Hearts), Liam Kelly (Rangers)
Belakang:
Andrew Robertson (Liverpool), Kieran Tierney (Celtic), Grant Hanley (Newcastle), Jack Hendry (Al-Ettifaq), Ryan Porteous (Watford), Nathan Patterson (Everton)
Tengah:
Scott McTominay (Napoli), Billy Gilmour (Napoli), John McGinn (Aston Villa), Callum McGregor (Celtic), Lewis Ferguson (Bologna)
Depan:
Lyndon Dykes (Birmingham City), Che Adams (Torino), Ryan Christie (Bournemouth), Ben Doak (Bournemouth)
#Skuad edisi FIFA Matchday Maret 2026
(Tribunnews.com/Ali)