Disbun Fakfak Catat Stabilitas Retribusi dan Perdagangan Pala Tomandin, Ini Penyebabnya
Hans Arnold Kapisa May 01, 2026 01:44 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Fakfak, Papua Barat mencatat penerimaan retribusi dan volume perdagangan komoditas pala Tomandin stabil dalam dua bulan terakhir.

Kepala Disbun Fakfak, Widhi Asmoro Jati, menyampaikan hingga akhir April 2026 penerimaan retribusi pala mencapai Rp248.465.700.

“Realisasi penerimaan bulan April sebesar Rp50.996.700, relatif sama dengan capaian bulan Maret. Ini menandakan arus perdagangan pala Fakfak ke pasar antar pulau berjalan stabil,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Berdasarkan data lalu lintas perdagangan, total produk pala yang diperdagangkan periode Januari–April 2026 mencapai 706,27 ton.

"Rinciannya terdiri dari pala kulit 515,88 ton, pala ketok 79,80 ton, dan fuly pala 110,58 ton," ujarnya.

Khusus April, volume perdagangan tercatat 104,39 ton, dengan rincian pala kulit 66,99 ton, pala ketok 10 ton, dan fuly pala 27,40 ton.

Widhi menjelaskan stabilitas penerimaan retribusi dan volume perdagangan dipengaruhi pola panen masyarakat yang merata, cuaca yang mendukung proses panen dan penjemuran, serta permintaan pasar antar pulau yang relatif konstan.

“Pelaku usaha kini semakin selektif terhadap mutu, sehingga produk yang diperdagangkan benar-benar layak jual dan memenuhi standar kualitas,” katanya.

Baca juga: Disbun Fakfak Gandeng Bank Papua Terapkan Virtual Account untuk Pembayaran Retribusi Pala

Ia menambahkan hasil uji mutu menjadi faktor penting dalam menjaga ritme perdagangan.

Pala Fakfak yang diperdagangkan menunjukkan perbaikan kualitas, terutama pada tingkat kematangan, kadar air sesuai standar, serta pemisahan komoditas yang lebih tertata.

“Hal ini berdampak pada meningkatnya kepercayaan pasar terhadap produk Fakfak,” jelasnya.

Menurutnya, kesamaan volume perdagangan dengan bulan sebelumnya juga dipengaruhi fase adaptasi pasar terhadap kebijakan penataan tata niaga pala.

Dengan demikian, pemerintah daerah mendorong perdagangan pala berkualitas, pengawasan distribusi, serta kesadaran petani untuk tidak memanen sebelum matang sempurna.

“Stabilitas produksi berarti pasokan terjaga, mutu meningkat berarti nilai jual lebih tinggi, dan perdagangan antar pulau tetap berjalan berarti ekonomi petani terus bergerak.

Ke depan, fokus kami memastikan pala Fakfak dikenal bukan hanya karena kuantitas, tetapi kualitas unggulnya sebagai rempah premium dari Papua Barat,” pungkas Widhi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.