Pendidikan Jeni Finalis Puteri Indonesia Tersangka Dokter Kecantikan Palsu, Buka Klinik Modal Ini
Musahadah May 01, 2026 12:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Terungkap pendidikan Jeni Rahmadial Fitri JRF), mantan Finalis Puteri Indonesia 2024 yang menyaru sebagai dokter kecantikan di Riau.

Ternyata, mantan Puteri Indonesia Riau 2024 ini tak memiliki latar belakang pendidikan. 

Jeni adalah lulusan S1 Sastra Inggris. 

Dia membuka klinik Arauna Beauty di Jalan Tengku Bey, Kecamatan Bukitraya, Pekanbaru hanya bermodal pelatihan estetika dan sertifikat yang dimilikinya.

Pelatihan itu bisa diikuti karena memiliki kedekatan dengan pihak penyelenggara.

Baca juga: Siasat Jeni Eks Finalis Puteri Indonesia Tersangka Dokter Kecantikan Palsu, Buat Testimoni di Medsos

Polisi juga telah menyita tiga sertifikat dari klinik tersebut sebagai barang bukti.

"Penyidik sedang melakukan penyidikan, termasuk untuk mengklarifikasi sertifikat-sertifikat yang ditemukan di klinik tersebut," kata Teddy.

Klinik Arauna Beauty milik Jenis juga tidak mengantongi izin.

Tim Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau telah melakukan penggeledahan dan menyegel tempat tersebut.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, klinik tersebut tidak memiliki izin, khususnya terkait tenaga kesehatan.

"Untuk kliniknya, memang tidak memiliki izin untuk tenaga kesehatan," kata Kepala Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Riau, AKBP Teddy Ardian saat diwawancarai Kompas.com di Pekanbaru, Jumat (1/5/2026).

Dalam menjalankan usaha klinik kecantikan, pelaku dibantu oleh sejumlah staf.

Namun, untuk tindakan operasi seperti facelift dan eyebrow facelift, pelaku melakukannya sendiri layaknya dokter profesional.

"Pelaku melakukan tindakan operasi sendiri," sebut Teddy.

Saat ini polisi sudah menerima laporan dari tiga orang yang diduga menjadi korban malpraktik di klinik tersebut. 

"Untuk perkara ini, sudah ada tiga laporan resmi yang kami terima. Saya ini kami masih melakukan penyidikan," sebut Teddy.

Pengakuan Korban Malpraktik

Novalinda Simamora, salah satu pasien yang mengaku menjadi korban klinik kedokteran kecantikan ilegal modus yang dilakukan Jeni.

Nova tak menyangka jika niat hatinya untuk mempercantik diri, malah berubah jadi petaka.

Baca juga: Sosok Jeni Rahmadial Eks Finalis Puteri Indonesia yang Ditangkap Diduga Jadi Dokter Kecantikan Palsu

Nova mengaku tidak mengenal sosok Jeni secara pribadi.

Ia mengetahui klinik milik Jeni dari media sosial Instagram yang menampilkan berbagai hasil tindakan estetika.

“Saya tidak kenal Jeni secara pribadi, saya tahu dari Instagram,” ungkap Nova saat diwawancarai Tribun, Rabu (29/4/2026).

Ketertarikan Nova muncul setelah melihat foto-foto hasil tindakan facelift dan eyebrow lift yang diunggah di akun tersebut, ditambah dengan iming-iming harga diskon yang cukup besar.

Yang membuat saya tertarik itu hasil foto atau testimoni, ditambah diskon. Harga per tindakan dari Rp27 juta menjadi Rp9 juta. Saya ambil dua tindakan, jadi total Rp16 juta,” jelasnya.

Jeni Tak Mau Perlihatkan Wajah

GADUNGAN -  Jeni Rahmadial Fitri (JRF), mantan Finalis Puteri Indonesia 2024 yang menjadi tersangka praktik kedokteran kecantikan ilegal.
GADUNGAN - Jeni Rahmadial Fitri (JRF), mantan Finalis Puteri Indonesia 2024 yang menjadi tersangka praktik kedokteran kecantikan ilegal. (Tribun Pekanbaru/nasuha nasution/instagram)

Kecurigaan Nova mulai muncul saat proses tindakan berlangsung. 

Nova menyebut sosok yang melakukan tindakan tidak pernah memperlihatkan wajahnya sejak awal hingga akhir prosedur.

“Saya sempat curiga karena dokter atau Jeni tidak pernah memperlihatkan wajahnya sama sekali saat berhadapan dengan pasien,” katanya.

Setelah menjalani operasi, kondisi Nova justru memburuk. 

Ia mengalami infeksi serius di bagian kepala dan alis yang dioperasi, hingga menimbulkan nanah dalam jumlah banyak.

“Setelah tindakan, saya mengalami infeksi di kepala kanan kiri dan alis. Nanahnya sangat banyak, dan hasilnya benar-benar tidak estetik,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, Nova mengaku mengalami tekanan mental yang berat. 

Ia harus berbulan-bulan menjalani perawatan di rumah dengan kondisi luka yang masih terbuka dan diperban.

“Saya sangat down secara mental. Berbulan-bulan di rumah pakai perban,” katanya.

Saat mencoba menghubungi pihak klinik, Nova mengaku hanya mendapatkan saran yang tidak memadai.

“Sudah saya beri tahu lewat WhatsApp, tapi responnya cuma disuruh lap bagian yang dioperasi pakai cotton bud dan air infus,” ungkapnya.

Jeni sempat menemui Nova di Batam dan menyampaikan permintaan maaf, bahkan berjanji akan mengganti biaya pengobatan.

Namun, janji tersebut hingga kini tidak terealisasi.

“Dia sempat datang ke Batam, minta maaf dan ada niat mengganti biaya operasi, tapi tidak dilaksanakan. Saya sampai merasa seperti pengemis untuk meminta hak saya,” tegas Nova.

Untuk memulihkan kondisinya, Nova akhirnya menjalani dua kali operasi rekonstruksi di rumah sakit bersama dokter spesialis bedah plastik. 

Kini, kondisinya berangsur membaik meski masih dalam masa pemulihan.

“Saya sudah dua kali operasi di rumah sakit dengan dokter spesialis, Alhamdulillah kondisi mulai membaik. Sekarang saya fokus pemulihan,” jelasnya.

Ia juga menyebut pasca kejadian, Jeni cenderung menghindar dan tidak merespons upaya komunikasi yang dilakukan. 

Nova berharap proses hukum yang berjalan dapat memberikan kejelasan serta pertanggungjawaban bagi para korban.

Dipecat dan Gelarnya Dicabut

Yayasan Puteri Indonesia secara resmi mencabut gelar Puteri Indonesia Riau 2024 dari Jeni Rahmadial Fitri. 

Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi yang diunggah akun Instagram @officialputeriindonesia pada Rabu (29/4/2026).

Dalam surat pernyataan itu, Yayasan menyampaikan bahwa keputusan diambil menyusul informasi dan temuan terkait dugaan pelanggaran hukum yang menyeret nama Jeni Rahmadial Fitri, yang sebelumnya menyandang gelar tersebut.

Pihak yayasan menegaskan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Namun, demi menjaga nama baik institusi, langkah tegas diambil dengan mencabut gelar yang bersangkutan.

“Untuk menjaga nama baik Yayasan Puteri Indonesia, maka dengan ini Yayasan Puteri Indonesia memutuskan secara resmi mencabut gelar Puteri Indonesia Riau 2024 yang sebelumnya melekat pada Sdr. Jeni Rahmadial Fitri,” lanjut pernyataan tersebut.

Yayasan juga menegaskan bahwa keputusan ini merupakan bagian dari komitmen dalam menjaga kredibilitas serta profesionalisme para pemegang gelar Puteri Indonesia di seluruh Indonesia.

“Keputusan ini diambil sebagai bentuk komitmen Yayasan Puteri Indonesia dalam menjaga kredibilitas dan profesionalisme para pemegang gelar Puteri Indonesia,” tulis mereka.

Pernyataan resmi itu ditutup dengan harapan agar informasi tersebut menjadi perhatian bersama. Surat tersebut ditandatangani di Jakarta pada 29 April 2026 oleh pihak Yayasan Puteri Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.