Kisah Afdhalul Khair Mahasiswa UIN Naik Haji Ganti Mendiang Ayah
Ari Maryadi May 01, 2026 02:07 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Nama Afdhalul Khair kini tercatat sebagai satu-satunya anggota keluarga yang tersisa di kartu keluarganya. 

Di usia yang baru menginjak 18 tahun, pemuda asal Limbung, Kabupaten Gowa itu memikul kenyataan hidup yang tak ringan.

Bagaimana tidak, ia ditinggal kedua orang tuanya dalam waktu yang berdekatan, serta adik yang lebih dulu berpulang beberapa tahun silam.

Namun di tengah duka berlapis itu, takdir membawanya ke perjalanan spiritual yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya berangkat ke Tanah Suci.

Afdhalul tergabung sebagai jamaah calon haji kloter 16 Embarkasi Makassar.

Ia menggantikan posisi almarhum sang ayah Abd Syukur (50).

Ia mengenang, jika awalnya bukan dia yang tercatat untuk berangkat haji tahun ini. 

Porsi tersebut adalah milik ayahnya, yang masuk dalam kuota tambahan. Namun takdir berkata lain.

“Bapak saya meninggal bulan Oktober 2025," katanya kepada Tribun Timur di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar, Jumat (1/5/2026).

"Dua minggu setelah itu, saya dapat telepon dari Kemenag bahwa saya bisa berangkat menggantikan bapak,” tambah dia.

Kabar itu datang di saat duka masih begitu pekat. 

Belum genap ia mengikhlaskan kepergian sang ayah, kini ia dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk menunaikan rukun Islam kelima, menggantikan orang yang paling ia hormati dalam hidupnya.

Perasaan Afdhalul pun bercampur aduk. 

Di satu sisi, ada kebahagiaan karena mendapat kesempatan berhaji di usia muda sebuah impian banyak orang. 

Namun di sisi lain, ada kesedihan mendalam yang tak bisa ia sembunyikan.

“Senang karena bisa berangkat di usia muda. Tapi sedih juga, karena harusnya almarhum bapak yang ada di posisi ini. Saya hanya menggantikan,” ujarnya dengan tatapan sedih.

Duka itu kembali bertambah. 

Tepat dua minggu sebelum keberangkatannya menunaikan ibadah suci, sang ibu menyusul ayahnya. 

Sang ibu Hawani (48) meninggal dunia pada 15 April 2026.

Sejak saat itu, Afdhalul benar-benar sendiri.

Ia menjadi satu-satunya yang tersisa dalam keluarganya, setelah adiknya lebih dulu meninggal pada 2017. 

Kini, ia tinggal bersama sang nenek yang kemudian ia bawa untuk tinggal bersamanya.

Di tengah kesendirian itu, Afdhalul berusaha tetap tegar. 

Statusnya sebagai mahasiswa di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar menjadi salah satu pegangan untuk terus melangkah.

Perjalanan hajinya bukan sekadar ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat rindu dan mengirimkan doa terbaik bagi kedua orang tuanya.

“Sampai di Tanah Suci, yang pertama saya lakukan pasti mendoakan bapak dan ibu. Karena tanpa beliau, saya tidak mungkin bisa berangkat haji tahun ini,” jelasnya.

Di usianya yang masih sangat muda, ia tak hanya belajar tentang arti hidup, tetapi juga tentang menerima takdir dan melanjutkan perjuangan orang-orang yang telah lebih dulu pergi.

Afdhalul membawa doa, harapan, dan cinta yang tak lagi memiliki tempat pulang selain kepada Tuhan di Tanah Suci.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.