Kebangkitan Ducati Tak Bikin Marco Bezzecchi Gentar, Murid Rossi Masih Haus Kemenangan
Arif Tio Buqi Abdulah May 01, 2026 11:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Marco Bezzecchi, sang pemuncak klasemen sementara sekaligus jagoan Aprilia, akhirnya harus merelakan rekor kemenangan beruntunnya terhenti di Sirkuit Jerez, Spanyol, akhir pekan lalu.

Namun, bagi pembalap asal Italia ini, hilangnya catatan sejarah tersebut bukanlah akhir dari segalanya.

Bezzecchi memulai musim 2026 dengan mengendarai motor pabrikan Aprilia yang tengah naik daun, ia menyapu bersih tiga podium tertinggi.

Jika ditarik ke belakang, Bezzecchi sebenarnya telah mencatatkan lima kemenangan beruntun, termasuk dua kemenangan penutup di Portugal dan Valencia pada musim 2025.

Torehan ini sekaligus mengukir sejarah baru bagi Aprilia sebagai pabrikan yang paling dominan dalam sejarah modern MotoGP.

Tidak hanya soal kemenangan, Bezzecchi juga sempat memegang rekor fantastis dengan memimpin 121 putaran balap secara berturut-turut.

lihat foto
MARCO BEZZECCHI - Pebalap besutan Aprilia Racing, Marco Bezzecchi berhasil menyabet pole position MotoGP Mandalika 2025 di Sirkuit Mandalika, pada 4 Oktober 2025. Bezzecchi mengikis gap poin atas Pecco Bagnaia. (Foto: Laman Resmi MotoGP)

Catatan ini melampaui rekor lama milik legenda MotoGP, Jorge Lorenzo, yang dicetak pada musim 2015 silam.

Namun, tembok kokoh itu akhirnya runtuh di Jerez dipatahkan oleh pembalap Gresini, Alex Marquez, yang tampil menggila di depan publik sendiri.

Meski rekornya terhenti, ia masih mampu mengamankan posisi kedua, sebuah hasil yang membuktikan konsistensinya di tengah tekanan tinggi.

Tekanan yang Tak Pernah Berubah

Banyak pihak berspekulasi apakah terhentinya rekor ini akan mengurangi beban di pundak sang pembalap, atau justru menambah tekanan mental.

Menanggapi hal tersebut, Bezzecchi memberikan jawaban yang sangat dewasa namun tetap provokatif.

Baca juga: 3 Kandidat Juara Dunia MotoGP 2026 versi Dani Pedrosa: Marc Marquez di Belakang Marco Bezzecchi

"Tidak, saya rasa tidak ada yang berubah. Tapi sejujurnya, saya lebih suka finis pertama dan membiarkan semua orang bertanya kepada saya, 'Anda sudah menang 20 kali berturut-turut'," ujar Bezzecchi dengan nada bercanda melansir Crash.

"Pada akhirnya, tekanannya tetap sama. Maksud saya, saat Anda berada di grid pada hari Minggu, Anda merasakan tekanan yang besar, bahkan jika Anda memulai balapan dari posisi terakhir sekalipun."

"Sensasi yang Anda rasakan di dalam tubuh selalu sama, mulai dari balapan minibike pertama hingga balapan MotoGP terakhir." tambahnya.

Ia pun merefleksikan pencapaiannya dengan kepala dingin.

"Tentu saja, tiga balapan pertama adalah momen yang luar biasa bagi saya, memimpin di setiap putaran. Namun, adalah hal yang wajar jika pada suatu titik rekor ini harus berakhir.

"Untungnya, kami mengakhirinya dengan cara yang layak, dengan menjalani balapan yang bagus hari ini. Harapannya, kami bisa mencoba mempertahankan level performa ini," ujar MB72.

Menatap Masa Depan dan Regulasi 2027

Akhir pekan di Jerez sebenarnya menjadi momen yang campur aduk bagi Bezzecchi.

Selain kehilangan rekor kemenangan hari Minggu, ia juga mencatatkan kecelakaan ketiga dalam sesi sprint dari empat putaran yang telah berjalan.

Meski demikian, dewi fortuna masih berpihak padanya. Bezzecchi justru berhasil memperlebar jarak di klasemen menjadi 11 poin dari rekan setimnya, Jorge Martin.

Setelah drama di lintasan Jerez berakhir, perhatian kini beralih ke masa depan teknis MotoGP.

Aprilia baru saja menjadi pabrikan terbaru yang memperkenalkan prototipe mesin 850cc mereka.

Langkah ini diambil sebagai persiapan dini menyambut perubahan regulasi besar-besaran yang akan diterapkan pada musim 2027 mendatang.

(Tribunnews.com/Niken)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.