Heboh Pesta Pernikahan Lansia di Kotabaru Kalsel, Ketahui Manfaat dan Kerugian Kawin di Usia Senja
Mulyadi Danu Saputra May 02, 2026 12:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dua orang lanjut usia (lansia) di wilayah Cantung Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, langsungkan pernikahan.

Acara perkawinan keduanya diwarnai sorak sorai para tamu, karena menunjukkan kemesraan dari atas pelaminan.

Dilansir melalui unggahan akun Instagram @banjarku, Jumat (1/5/2026), pesta pernikahan pasangan lansia itu diselenggarakan pada akhir April 2026.

Layaknya pengantin yang menjadi raja dan ratu sehari, keduanya tampil memesona.

Baca juga: Pasangan Lansia Petani Singkong Asal Desa Tungkaran, Jadi Jemaah Calon Haji Tertua Kabupaten Banjar

Mereka mengenakan pakaian pengantin berupa setelan jas dan kebaya putih lengkap dengan mahkota dan rangkaian bunga melati yang menghiasi bagian kepala.

Keduanya duduk di atas kursi pelaminan dengan dekorasi bunga-bunga beragam warna yang kian menambah cantik ruangan.

Beberapa kali keduanya secara terang-terangan menunjukkan kemesraan dengan saling berpelukan dan bergantian mencium pipi satu sama lain.

Melihat aksi mesra kedua pengantin yang tak kalah dengan pasangan muda, terdengar suara ramai para tamu yang saling bersorak sorai.

“Pengantin terviral di kampung kami tadi malam,” terang unggahan video tersebut.

Aura kebahagiaan pun terpancar dari wajah kedua pengantin yang tak henti melontarkan senyum dan tawa pada para tamu undangan.

Untung Ruginya

Melansir Kompas.id dan Kompas TV, pernikahan sesama lanjut usia (lansia) kini semakin umum terjadi dan seringkali membawa kebahagiaan baru di usia senja. 

Meskipun terkadang masih dipandang negatif oleh sebagian masyarakat, pernikahan lansia memiliki landasan hukum yang sah jika rukun dan syarat dipenuhi.

Berikut analisis untung dan rugi pernikahan lansia berdasar hasil pencarian:

Keuntungan Pernikahan Lansia (Manfaat)

Peningkatan Kualitas Hidup: Lansia yang memiliki pasangan (menikah) cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan yang hidup sendiri.

Teman Hidup di Usia Senja: Memberikan pendampingan, mengurangi rasa kesepian, dan memberikan teman berbagi cerita (teman mengobrol).

Dukungan Emosional dan Psikologis: Memenuhi kebutuhan psikologis untuk memiliki dan dimiliki, serta meningkatkan kebahagiaan di usia lanjut.Saling 

Mengurus dan Merawat: Memiliki pasangan yang membantu mengurus keperluan sehari-hari, terutama jika salah satu pasangan sakit atau lemah.

Sah secara Agama dan Hukum: Memberikan kepastian status hubungan, menghindari zina, dan memberikan ketenangan batin.

Rujuk atau Melanjutkan Cinta: Memberikan kesempatan untuk hidup bersama pasangan yang tepat, bahkan setelah lama berpisah atau menjanda/duda.

Tantangan atau Kerugian Pernikahan Lansia

Potensi Konflik Aset/Warisan: Pernikahan kedua atau ketiga di usia lanjut berisiko menimbulkan tantangan terkait pengelolaan aset besar yang dimiliki salah satu atau kedua belah pihak.

Penyesuaian Kebiasaan: Penyesuaian dua karakter yang sudah lama hidup mandiri atau sendiri dapat memicu konflik jika tidak ada rasa toleransi yang tinggi.

Stigma Sosial: Masih ada pandangan tabu atau negatif dari sebagian masyarakat, terkadang dari pihak keluarga, terkait pernikahan di usia senja.

Penurunan Kondisi Fisik: Penurunan kondisi fisik maupun mental dapat menjadi kendala dalam menjalani peran suami-istri secara penuh.

Secara keseluruhan, pernikahan lansia lebih banyak membawa dampak positif dari sisi psikologis dan emosional, asalkan didasari atas rasa suka sama suka dan dukungan keluarga.

(Banjarmasinpost.co.id/Danti Ayu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.