*) Oleh: Dr Wahyu Khafidah
SETIAP peringatan Hari Pendidikan Nasional, kita kembali mengulang harapan besar: pendidikan yang memerdekakan, yang menumbuhkan manusia seutuhnya sebagaimana dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara.
Namun di balik seremoni dan slogan, ada ruang-ruang kelas yang belum sepenuhnya menjadi tempat aman bagi anak untuk bertumbuh.
Masih ada guru yang belum benar-benar menguasai kelas, bukan sekadar dalam arti mengendalikan suasana, tetapi memahami ritme belajar anak.
Kelas kadang diukur dari ketenangan dengan anak duduk diam, tidak rebut, padahal bisa jadi itu adalah tanda ketakutan atau ketidakberanian, bukan keterlibatan anak di dalam kelas mengikuti pembelajaran.
Anak-anak yang pemalu, yang butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi, sering kali justru tenggelam dalam keheningan. Mereka tidak terlihat bermasalah, tetapi juga tidak berkembang optimal.
Lebih dalam lagi, masih ditemukan guru yang belum memahami bahwa perkembangan anak itu berbeda-beda.
Ada anak yang cepat dalam kognitif tetapi lambat dalam psikomotor. Ada yang aktif bergerak tetapi belum mampu fokus.
Ada pula yang butuh pendekatan emosional sebelum bisa menerima pembelajaran.
Ketika semua anak dipaksa berada dalam satu standar yang sama, pendidikan kehilangan ruhnya: menghargai keunikan setiap individu.
Bahkan ada anak dari sekian banyak anak harus ditemani karena ketakutan dan ketidak beranian dalam mengikuti pembelajar dengan guru yang baru dikenalnya.
Anak ini butuh proses lebih lama dibandingkan anak lain seusianya untuk belajar dan bertumbuh, namun dia pasti bisa mengerjar ketertinggalannya.
Persoalan menjadi semakin kompleks ketika ada guru yang dipindahkan dari TK ke SD tanpa pembekalan yang memadai.
Anak kelas 1 SD bukanlah “siswa kecil” yang siap menerima pembelajaran formal secara penuh. Mereka masih berada dalam fase transisi dari dunia bermain ke dunia belajar terstruktur.
Mereka masih polos, masih butuh pendekatan yang lembut, masih belajar memahami aturan, emosi, dan interaksi sosial.
Ketika guru tidak memahami fase ini, yang terjadi adalah pemaksaan kedewasaan sebelum waktunya, anak dituntut duduk rapi, menulis cepat, memahami konsep abstrak, tanpa diberikan ruang untuk berproses.
Di tengah kondisi ini, ada anak-anak yang lebih rentan. Anak yang belum mandiri, yang masih bergantung pada orang tua, yang mungkin belum sepenuhnya siap secara emosional untuk bersekolah.
Anak seperti ini sering kali dilabeli “lambat”, “tidak siap”, bahkan “mengganggu”.
Padahal, yang mereka butuhkan bukan label, melainkan pendekatan yang lebih sabar, kolaboratif, dan manusiawi.
Di sinilah pentingnya kerja bersama. Guru tidak bisa berjalan sendiri. Orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya. Dan dinas pendidikan tidak cukup hanya membuat kebijakan di atas kertas.
Dibutuhkan kolaborasi nyata: Guru yang mau memahami karakter anak secara individu .
Orang tua yang terlibat aktif dalam proses belajar, Dinas pendidikan yang memastikan pelatihan guru sesuai kebutuhan lapangan
Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang kurikulum dan target capaian, tetapi tentang membantu anak mau datang ke sekolah dengan hati yang senang, merasa aman, dan percaya bahwa dirinya mampu belajar.
Hardiknas seharusnya menjadi momentum refleksi yang jujur.
Bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan hanya pada fasilitas atau teknologi, tetapi pada kesiapan manusia yang menjalankannya.
Guru yang memahami anak adalah kunci. Tanpa itu, ruang kelas hanya menjadi tempat mentransfer materi, bukan tempat menumbuhkan kehidupan.
Jika masih ada anak yang enggan ke sekolah, yang diam di sudut kelas, yang belum percaya diri untuk berbicara, maka tugas kita belum selesai.
Pendidikan belum sepenuhnya hadir untuk mereka. Dan mungkin, peringatan Hardiknas tahun ini perlu kita maknai bukan dengan tepuk tangan, tetapi dengan satu pertanyaan sederhana: Sudahkah kita benar-benar melihat pendidikan dari mata anak?
Untuk anak-anak hebat, mari terus bersekolah, mari belajar dan bertumbuh.
*) PENULIS adalah Ketua Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di Fakultas Agama Islam, Universitas Serambi Mekkah (USM).