TRIBUN-TIMUR.COM - Tanggal 1 Mei, Hari Buruh.
Tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan.
Dua hari berurutan.
Dua momentum besar.
Dua makna mulia.
Tetapi di Makassar, keduanya seperti punya satu tradisi yang sama: demo.
Awal Mei selalu terasa lain.
Mendebarkan polisi.
Mendebarkan aktivis.
Mendebarkan pengusaha.
Dan terutama mendebarkan pemerintah dan buruh. Tahun ini pun tak jauh berbeda.
Hujan turun di Jalan AP Pettarani, Jumat sore.
Asap menyengat menguar di simpang Alauddin.
Suara tuntutan bercampur dengan sirene dan teriakan.
Sebuah pola yang seperti berulang.
Biasanya jika di hari Buruh kurang memuaskan.
Apalagi jika ada gesekan dengan aparat, maka aksi berlanjut esok.
Maka Hari Pendidikan kadang berbaur dengan aksi protes atas kejadian pada aksi di Hari Buruh.
Begitulah seterusnya.
Maka eskalasi aksi demo, terutama di Makassar, termasuk berapa hari demo berlangsung, turut ditentukan oleh aparat.
Seolah ada semacam hukum tak tertulis: eskalasi aksi bukan hanya ditentukan oleh massa, tetapi juga oleh bagaimana ia direspons.
Jika aparat menghendaki aksi itu berlanjut esok, cukup beri gesekan pada aksi hari ini.
Begitulah cerminnya yang tak pernah retak.
Hari Buruh dan Hari Pendidikan di Makassar tahun 2026 ini telanjur dilabeli angker, panas dan rawan, oleh aparat.
Edaran Polda Sulsel yang melarang suporter menonton pertandingan PSM vs Bhayangkara di Stadion Gelora BJ Habibie Parepare memberi signal kuat bahwa aksi Hari Buruh dan Hari Pendidikan di Sulsel disetting berantai berhari-hari.
Pertandingan sepak bola, yang mestinya ruang hiburan publik, ikut terseret dalam logika kewaspadaan.
Padahal di tempat lain, pertandingan serupa tetap berjalan dengan kehadiran penonton.
Pertandingan PSM vs Bhayangkara digelar pada hari Senin, 4 Mei 2026., mulai pukul 16.30 wita.
Padahal pertandingan Bhayangkara vs Persib Bandung di Stadion Sumpah Pemuda Bandar Lampung dihadiri ribuan suporter.
Tak ada larangan dari polda untuk pertandingan itu. Meski digelar pada Kamis malam, 30 April 2026.
Di titik itu, publik mulai bertanya.
Apakah ini murni soal keamanan?
Ataukah ada kekhawatiran berlebih yang justru mempersempit ruang publik?
Terlihat janggal.
Bahkan terasa lucu.
Tetapi banyak orang memilih diam.
Karena suasana tidak sedang memberi ruang untuk tertawa.
Memang lucu.
Tapi orang takut menertawainya.
Wassalam!(*)