Masih Trauma PascaTabrakan KRL, Psikolog Beri Ulasan Hilangkan Rasa Kekhawatiran
Nur Nihayati May 02, 2026 06:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Tabrakan kereta besar terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 malam, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line. 

Peristiwa ini menewaskan setidaknya 156orang dan melukai lebih dari 80 penumpang.

Kecelakaan kereta Argo Bromo Vs KRL di Stasiun Bekasi Timur meninggalkan duka dan trauma para pengguna moda transportasi ini. 

Namun demikian sebagai ummat islam tetap berpulang pada takdir dalam perjalanan hidup ini.

Ramai di media sosial, penumpang KRL mengungkapkan rasa trauma mereka pada insiden tragis yang mengakibatkan 16 korban meninggal dunia. 

Diakui sebagian penumpang pengguna KRL, tak sedikit yang mengaku merasa was-was saat melintas di lokasi kejadian.

Atau jika pintu keretatertutup atau ketika kereta berhenti mendadak.

Ada postingan dari mereka yang bergantung dengan kereta api untuk menempuh perjalanan sehari-hari.

"Hallo st bektim ku tersayang tercinta, 2 hari ga bertemu karna pilumu hari ini akhirnya memberanikan diri berangkat dari sini lagi dengan rasa takut dan duka. Demi Tuhan, gemeter sebadan," tulisnya.  

Postingan ini langsung direspon pengguna Threads lainnya. 

Aku be******cha menceritakan perasaan yang sama.

Tak hanya merasakan getaran pilu di badan, ia juga mengaku menangis sesegukan saat melintas di Stasiun Bekasi Timur. 

"Kak, semalam aku pulang kantor turun bektim juga. Ngga kuat sesenggukan dan gemeter sebadan sampe ditenangin ibu-ibu," tulisya. 

Lemas sampai nyaris jatuh pun dirasakan penumpang KRL lainnya saat melintas di Bekasi Timur. 

"Aku jg sampe lemes mau jatoh ditahan mba2 belakang aku."

Penjelasan Psikolog 

Akun Threads lainnya f*****hnd menyarankan jika perasaan takut KRL masih melekat dan sampai mengganggu segera ke psikolog.

"halo ka, kalo perasaan takutnya sampai mengganggu bisa segera konsultasikan ke psikolog/profesional ya kak, kakak layak buat dapet ketenangan lagi."

Lantas, apa kata psikolog terkait trauma para penumpang KRL?

Apakah rasa takut tersebut normal?

Psikolog klinis Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., atau yang akrab disapa Nina, menegaskan bahwa reaksi tersebut merupakan hal yang wajar secara psikologis.

Terutama setelah seseorang terpapar informasi atau pengalaman yang dianggap mengancam.

“Ini memang tidak nyaman. Namun terus terang kondisi ini wajar terjadi. Ini adalah reaksi wajar setelah sebuah peristiwa besar yang dirasa tragis. Jadi ini belum tentu merupakan trauma,” jelas Nina saat dihubungi Tribunnews, Kamis (30/4/2026). 

Menurutnya, otak manusia bekerja dengan cara menghubungkan informasi yang diterima dengan pengalaman sehari-hari. 

Dalam kasus kecelakaan KRL, detail kejadian seperti kereta berhenti mendadak dan pintu yang tidak bisa dibuka menjadi pemicu munculnya rasa takut.

“Otak kita langsung menghubungkan informasi tersebut dengan kondisi kita sehari-hari, tanpa betul-betul menyadari bahwa kondisi tersebut sudah lewat. Rasa takut yang muncul sebetulnya adalah reaksi alamiah kita untuk melindungi diri kita,” paparnya.

Respons ini sebenarnya merupakan mekanisme perlindungan diri agar seseorang lebih waspada terhadap potensi bahaya di masa depan.

Berapa Lama Rasa Takut Itu Wajar Terjadi?

Pemerintah melalui Satgas Covid-19 melonggarkan aturan pemakaian masker di transportasi umum. 

MRT misalnya secara resmi mengumumkan bahwa pemakaian masker di armadanya kini tak lagi menjadi kewajiban. 

Sementara, commuter line atau KRL masih mewajibkan penggunaan masker bagi penumpang. 

Rasa takut atau was-was setelah kejadian besar biasanya tidak berlangsung selamanya. Nina menyebut, kondisi ini umumnya hanya terjadi dalam waktu singkat.

“Rasa takut dan was-was seperti ini sebetulnya wajar terjadi dalam beberapa hari setelah kejadian. Biasanya reaksi ini akan mereda, setelah 1-2 minggu,” jelasnya.

Namun, penting untuk memperhatikan jika rasa tersebut tidak kunjung membaik atau justru semakin intens.

“Namun jika ketakutan ini terus terjadi, bahkan semakin besar, ada kemungkinan individu ini perlu mendapatkan penanganan dari professional kesehatan jiwa seperti psikolog klinis atau psikiater,” tegas Nina.

Artinya, ada batas antara respons normal dan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.


Waspada atau Cemas Berlebihan? Ini Bedanya

Nina juga menjelaskan perbedaan antara rasa waspada yang sehat dan kecemasan berlebihan yang justru bisa mengganggu kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kewaspadaan yang sehat justru membantu seseorang tetap aman tanpa mengganggu aktivitas.

“Secara umum, kondisi waspada yang sehat adalah kondisi yang membuat kita lebih berhati-hati, namun tetap bisa berfungsi normal. Artinya kita tetap bisa bekerja, melakukan tugas-tugas kita, menjalankan keseharian kita,” jelasnya.

Sebaliknya, kecemasan berlebihan memiliki ciri yang lebih mengganggu, baik secara fisik maupun mental.

“Sementara itu kecemasan berlebihan adalah kondisi yang terus muncul, sulit dikendalikan, biasanya membuat tubuh kita jadi sangat tidak nyaman. Sehingga dapat berpengaruh pada kesulitan tidur atau berkurangnya nafsu makan,” ujarnya.

Tak hanya itu, kecemasan berlebih juga bisa berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup.

“Adanya kecemasan berlebihan biasanya juga ditandai adanya kesulitan untuk berfungsi normal. Misalnya jadi kesulitan berkonsentrasi untuk bekerja atau menyelesaikan tugas, jadi mimpi buruk, menghindari transportasi umum sama sekali walaupun sudah ada perbaikan dari pihak terkait,” tambahnya.

Jangan Abaikan Sinyal dari Tubuh

Rasa takut setelah kejadian besar bukan sesuatu yang harus langsung dianggap sebagai gangguan mental. 

Namun, memahami batas kewajaran menjadi penting agar seseorang tidak terjebak dalam kecemasan berkepanjangan.

Ketika rasa takut masih dalam batas wajar, itu berarti tubuh sedang bekerja untuk melindungi diri. 

Tetapi ketika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, itulah saatnya mencari bantuan profesional.

Pada akhirnya, mengenali respons diri sendiri menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental.

Terutama di tengah situasi yang tidak terduga seperti kecelakaan transportasi publik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.