Bawa Distorsi ke Jalanan, Panggung 'Gigs Para Buruh', Band Hardcore Bakar Semangat May Day Semarang
Rustam Aji May 02, 2026 09:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – "Siapa sih sekarang yang bukan buruh? Saya saja kerja.

Semua yang kerja ikut orang itu buruh," cetus Imam Masrukhin alias Mambo, vokalis band hardcore punk Dry Injektion, di tengah gemuruh distorsi gitar yang membelah kemacetan Jalan Pahlawan, Semarang, Jumat (1/5/2026) sore.

Pernyataan tegas tersebut menjadi ruh dari panggung "Gigs Para Buruh", sebuah inisiatif perdana dalam sejarah aksi May Day di Kota Semarang yang menghadirkan energi musik keras tepat di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Bukan sekadar hiburan, panggung jalanan ini menjadi medium baru bagi massa aksi—gabungan buruh dan mahasiswa—untuk menyuarakan keresahan kelas pekerja melalui dentuman drum dan lirik yang lugas.

Respons Kondisi Sosial Lewat Musik

Koordinator penampil dari Kamisan Semarang, Anton (25), mengungkapkan bahwa konsep gigs penuh dengan perangkat instrumen lengkap ini sengaja dipilih untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Baca juga: Jadwal Pertandingan Persijap Vs Persija Jakarta, Laskar Kalinyamat Waspadai Lini Serang Lawan

Jika tahun-tahun sebelumnya aksi hanya diwarnai musik akustik, tahun ini enam band lintas genre seperti Street Anthem, Kerra, hingga Dry Injektion tampil nonstop sejak pukul 14.00 hingga 17.00 WIB.

"Ini baru pertama kali gigs seperti ini digelar dalam peringatan Hari Buruh di Semarang dengan konsep penuh. Musik adalah sarana efektif untuk mengajak orang peduli karena konsumsinya tinggi," ujar Anton. Menurutnya, panggung ini adalah ruang terbuka untuk merespons kondisi kerja dan isu sosial yang kian menghimpit.

Lirik Keresahan Pekerja

Dalam penampilannya sekitar pukul 16.37 WIB, Dry Injektion membawakan sederet lagu yang memotret realitas pahit, mulai dari tekanan mahasiswa tingkat akhir hingga getirnya bekerja di sektor food and beverage (F&B).

Sang vokalis, Mambo, tampil penuh energi membakar semangat massa yang melingkari panggung jalanan tersebut.

Mambo mengaku ada kesamaan spirit antara panggung underground yang biasa ia selami dengan panggung perlawanan di jalanan. Baginya, setiap pekerja yang menggantungkan hidup pada orang lain adalah buruh yang memiliki kepentingan serupa dalam menuntut keadilan.

Aksi Long March dan Tuntutan Buruh

Sementara musik keras menghentak di depan Kantor Gubernur, orasi politik tetap bergema di depan Kantor DPRD Jawa Tengah. Dua energi ini—pidato perjuangan dan musik distorsi—berjalan berdampingan menciptakan atmosfer unik dalam peringatan Hari Buruh tahun ini.

Baca juga: May Day di Banyumas, Mahasiswa Soroti Rendahnya Upah Guru Honorer dan Kesejahteraan Buruh

Aksi yang diikuti ratusan buruh dari berbagai daerah di Jawa Tengah ini dimulai dengan konvoi dari Kantor Pos Johar. Selain membawa instalasi patung berkepala babi sebagai simbol kritik sosial, perwakilan massa juga melakukan audiensi langsung.

Dalam pertemuan tersebut, buruh menyampaikan sejumlah tuntutan krusial kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Salah satu poin utama yang disoroti adalah kondisi buruh di Sayung, Demak, yang kian terpuruk akibat banjir rob yang tidak kunjung teratasi hingga mengganggu stabilitas kerja dan ekonomi warga setempat.(rez)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.