Hari Pendidikan Nasional, dari Tana Tidung Bisa Belajar Arti Perjuangan
Budi Susilo May 02, 2026 10:10 AM

TRIBUNKALTIM.CO, TANA TIDUNG - Perjalanan tiga jam menggunakan speedboat dari Kota Tarakan menuju pelosok Tana Tidung, Kalimantan Utara adalah simbol dari tantangan nyata yang masih dihadapi pendidikan di berbagai penjuru Indonesia.

Di tengah keterbatasan akses dan sinyal yang tak selalu bersahabat, semangat untuk menghadirkan pendidikan berkualitas justru tumbuh semakin kuat.

Momentum Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan adalah kerja nyata yang harus terus diperjuangkan. 

Di Tana Tidung, semangat itu tercermin dari sosok Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Arman Jauhari.

Baca juga: Gerakan Literasi Balikpapan, Menyelami Makna Surat Kartini dan Beranda Instagramnya Maryam

Baginya, membangun pendidikan bukan soal menunggu kondisi ideal, melainkan tentang keberanian untuk bergerak dan hadir langsung di tengah tantangan.

Katanya, secara geografis memang tidak mudah. Ada kecamatan yang harus ditempuh berjam-jam menggunakan speedboat.

"Kita harus hadir, bertemu guru dan siswa, memberi semangat secara langsung,'' ujarnya.

Menguatkan Fondasi Sejak Dini

20260502_TF2
Hari Pendidikan Nasional, Dari Tana Tidung, Kita Belajar Arti Perjuangan

Sejak 2021, upaya peningkatan mutu pendidikan di Tana Tidung diperkuat melalui kolaborasi dengan Tanoto Foundation.

Pendampingan yang awalnya difokuskan pada jenjang SMP kini mulai menunjukkan hasil, terutama dalam peningkatan kapasitas guru dan pemanfaatan data.

Di Hari Pendidikan Nasional ini, refleksi penting muncul: bahwa kualitas pendidikan tidak bisa dibangun hanya dari satu jenjang saja. Fondasi harus dimulai sejak awal.

Karena itu, pemerintah daerah kini mulai memperluas fokus ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

'PAUD adalah fondasi. Di sinilah karakter dan kebiasaan belajar mulai dibentuk.

"Kita ingin memastikan para pendidiknya juga mendapatkan pendampingan dan penguatan kapasitas,'' jelas Arman.

Komitmen ini turut diperkuat oleh dukungan Bunda PAUD Tana Tidung, Vamelia Ibrahim Ali, yang aktif mendorong pengembangan layanan PAUD berkualitas di daerah.

Literasi sebagai Gerakan Bersama

20260502_TF3
Hari Pendidikan Nasional, Dari Tana Tidung, Kita Belajar Arti Perjuangan

Hari Pendidikan Nasional juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya literasi sebagai fondasi pembelajaran sepanjang hayat.

Di Tana Tidung, literasi tidak hanya menjadi program, tetapi gerakan bersama.

Dinas Pendidikan menggandeng berbagai pihak untuk membangun budaya baca, termasuk melalui 32 Taman Baca Masyarakat yang kini aktif di berbagai wilayah.

“Literasi bukan sekadar membaca, tapi membentuk cara berpikir dan membuka wawasan. Ini harus menjadi gerakan bersama,” ungkap Arman.

Upaya ini mulai menunjukkan hasil. Sejumlah guru berhasil meraih penghargaan di tingkat kabupaten hingga nasional, sebuah indikator bahwa peningkatan kompetensi mulai berjalan ke arah yang positif.

Namun, bagi Arman, capaian tersebut bukanlah tujuan akhir.

''Penghargaan itu bukan garis finis. Itu tanda bahwa kita sedang berada di jalur yang benar.''

Semangat Perintis di Tengah Keterbatasan

20260502_TF4
Hari Pendidikan Nasional, Dari Tana Tidung, Kita Belajar Arti Perjuangan

Di balik tantangan geografis, ada tantangan lain yang tak kalah besar: membangun pola pikir.

Hari Pendidikan Nasional mengingatkan bahwa pendidikan juga tentang membangun harapan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang.

''Kita harus ubah cara pandang. Keterbatasan bukan hambatan, tapi sumber semangat. Kita ini perintis, bukan pewaris,''tegas Arman.

Kalimat itu menjadi semangat kolektif bagi para pendidik di Tana Tidung, bahwa mereka bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi sedang membuka jalan bagi generasi masa depan.

Kolaborasi untuk Masa Depan Pendidikan

20260502_TF5
Hari Pendidikan Nasional, Dari Tana Tidung, Kita Belajar Arti Perjuangan

Dalam semangat Hari Pendidikan Nasional, satu hal menjadi semakin jelas: pendidikan tidak bisa dikerjakan sendiri.

Dukungan dari pemerintah daerah, Bunda PAUD, legislatif, hingga mitra pembangunan menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan program.

Komitmen alokasi anggaran pendidikan, termasuk pemenuhan mandatory 20 persen dari APBD, menjadi bukti nyata keseriusan daerah.

Ke depan, kolaborasi dengan Tanoto Foundation diharapkan terus berlanjut dan semakin diperluas.

''Kita ingin saling melengkapi. Kami menyiapkan kebutuhan di daerah, dan melalui pendampingan yang berkelanjutan, kita berharap kualitas pendidikan di Tana Tidung terus meningkat,'' tutupnya.

Di Hari Pendidikan Nasional ini, kisah dari Tana Tidung menjadi pengingat bahwa pendidikan Indonesia dibangun bukan hanya di kota-kota besar, tetapi juga di daerah yang harus ditempuh lewat sungai dan jarak yang panjang.

Karena masa depan pendidikan Indonesia tidak diwariskan, ia diperjuangkan.

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.