TRIBUNNEWS.COM - Cerita perjuangan guru di daerah terpencil selalu menjadi kisah yang menggetarkan hati.
Seorang guru honorer bernama Yustina Yuniarti, harus berjalan kaki sejauh enam kilometer untuk mengajar kelas lima di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia berjalan kaki melewati jalan berbatu, perbukitan, hutan hingga pinggiran jurang, demi tiba di sekolah yang berada di wilayah terpencil.
11 tahun lamanya Yustina mengajar di SDK Wukur.
"Saya mengajar di SDK Wukur ini sudah 11 tahun. Saya tinggal di Sikka, jadi setiap pagi saya berjalan kaki menuju sekolah melewati jalan berbatu, rusak, hutan, bahkan pantai. Jaraknya sekitar 6 kilometer," ujarnya, Sabtu (2/5/2026), dikutip dari TribunFlores.com.
Di balik perjuangannya, ada fakta yang cukup mengiris hati, Yustina hanya digaji Rp150 ribu per bulan.
Gaji tersebut, didapatkannya dari iuran komite sekolah, bahkan saat awal ia mengajar, Yustina hanya digaji Rp15 ribu per bulan.
"Gaji kami Rp150 ribu per bulan dari komite. Kami tidak mendapat gaji dari dana BOS,"
"Banyak orang tidak mau mengajar di daerah terpencil seperti ini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan," jelasnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Yustina tetap berbesar hati untuk tetap mencerdaskan bangsa di wilayah terpencil.
Ia berharap, sekolah tempatnya mengabdi bisa menjadi sekolah negeri, supaya lebih banyak guru yang bisa mengajar.
Baca juga: Pembunuhan Guru Ponpes di Banjarbaru Kalsel: Polisi Tangkap 2 Pelaku
Yustina juga berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk membangun rumah bagi para guru yang tinggal jauh dari sekolah.
Terakhir, ia berharap Presiden Prabowo Subianto untuk memperhatikan kondisi kesejahteraan guru dan pendidikan di wilayah terpencil.
Di sekolah tempat Yustina mengajar, hanya ada 34 siswa dan delapan pendidik.
Dari delapan orang tersebut, satu orang berstatus ASN dan tujuh lainnya adalah guru honorer dengan gaji Rp150 ribu per bulan.
Dari NTT, kita terbang ke Berau, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Seorang guru bernama Reza Novri Pahlawan (26), guru honorer yang mengabdi di Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kaltim tak punya status kepegawaian setelah dihapuskannya guru honorer.
Ia kini berhadapan dengan ketidakpastian seiring penerapan kebijakan nasional penataan tenaga non-ASN.
Mengutip Kompas.com, Reza kini menghadapi ketidakpastian status kepegawaiannya karena pemerintah yang menghapus status honorer atau pegawai tidak tetap.
"Sekarang ini yang diakui pemerintah hanya tiga status, yaitu PNS, PPPK penuh waktu, dan PPPK paruh waktu,"
"Tidak ada lagi honorer atau pegawai tidak tetap," kata Reza.
Menurutnya, kebijakan tersebut membuat guru honorer yang masih aktif mengajar tak lagi memiliki kepastikan administratif seperti surat keputusan (SK).
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Ki Hajar Dewantara, Sosok di Balik Hari Pendidikan Nasional
Meski begitu, ia tetap diminta untuk mengisi kekosongan tenaga pendidik di sekolah.
Reza mengatakan, awalnya, gajinya Rp3,3 juta per bulan yang bersumber dari dana bantuan operasional sekolah daerah (BOSDA).
Namun sejak 2025, pembayaran dialihkan melalui dana bantuan operasional sekolah.
"Sekarang sekitar Rp 2,45 juta per bulan. Bahkan sempat tertahan selama empat bulan," kata Reza.
Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ia pun bekerja sampingan sebagai pengemudi ojek online sepulang mengajar di sekolah.
Diketahui, kebijakan baru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terkait status tenaga pendidik non-ASN memicu reaksi keras di dunia pendidikan.
Dalam Surat Edara (Edaran) nomor 7 Tahun 2026 tersebut, sekolah negeri dilarang menugaskan guru honorer mulai tahun 2027.
Jadi, para guru honorer non-ASN hanya bisa mengajar maksimal sampai 31 Desember 2026.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunFlores.com, Arnol Welianto)(Kompas.com, Pandawa Borniat)