TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Bukan sekadar pertunjukan seni, bagi Baltazar Oka (30), menari selama 24 jam tanpa henti adalah perjalanan batin mengenal diri dan mensyukuri tubuh yang dimilikinya.
Guru seni budaya asal Tangerang, Provinsi Banten ini menjadi salah satu peserta dalam event Banyumas 24 Jam Ngibing yang digelar dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia.
Ia mengaku keikutsertaannya bukan semata-mata karena agenda seni, melainkan panggilan hati setelah sempat vakum dari kegiatan serupa.
"Ini sebenarnya panggilan hati. Saya ingin kembali mengolah tubuh, mengenal lebih jauh, dan menikmati serta mensyukuri apa yang Tuhan berikan.Karena tubuh adalah aset utama kita," ujar Baltazar saat ditemui Tribunbanyumas.com, di sela kegiatan.
Ia mengungkapkan, dirinya pernah mengikuti kegiatan serupa di Solo pada 2023.
Namun setelah itu, ia sempat tidak aktif mengikuti peringatan Hari Tari karena kesibukan.
Keikutsertaannya di Banyumas menjadi pengalaman kedua menjalani tantangan menari selama 24 jam.
Baca juga: Hampir 1.000 Penari Ramaikan Banyumas Ngibing 24 Jam: Libatkan 90 Komunitas, Ada dari Mancanegara
"Dulu di Solo, sekarang di Banyumas. Sebenarnya euforianya sama karena ini bagian dari Hari Tari Dunia. Tapi di sini suasananya berbeda, teman-temannya juga berbeda, jadi lebih luas pengalaman saya," katanya saat sedang menari di halaman belakang, Taman Sari, Pendopo Kecamatan Banyumas, Sabtu (2/5/2026).
Ia juga menyebut kehadirannya di Banyumas sekaligus menepati janji kepada seniman Tari Banyumas, Rianto, yang sebelumnya telah mengajaknya datang.
Dalam menghadapi tantangan fisik dan mental selama 24 jam, Baltazar menekankan pentingnya persiapan yang matang, terutama terkait stamina dan kesehatan.
"Yang paling utama itu stamina dan kesehatan. Selain itu, menjaga fokus juga penting, karena selama 24 jam ini mengatur mood itu luar biasa sulit. Jadi harus benar-benar fokus," jelasnya.
Meski tidak memiliki ritual khusus sebelum tampil, Baltazar menempatkan restu orang tua sebagai hal yang paling utama.
Ia mengaku selalu berkomunikasi dengan orang tuanya sebelum mengikuti kegiatan penting.
Meski kali ini orangtuanya tidak dapat hadir, ia tetap membawa doa dan dukungan sebagai kekuatan selama tampil.
"Saya tidak punya ritual khusus, tapi yang paling penting restu orangtua. Mereka sebenarnya ingin ikut, tapi tidak bisa karena ada kegiatan lain. Tapi doa dan dukungan tetap saya dapatkan," tuturnya.
Baca juga: Banyumas Ngibing 2026 Siap Guncang Kota Lama, 24 Jam Menari Nonstop Libatkan Seniman Mancanegara
Selama pertunjukan berlangsung, Baltazar tidak sepenuhnya sendiri.
Ia didampingi oleh tim dan beberapa kru yang turut membantu dan memastikan kebutuhannya terpenuhi.
"Mereka selalu mengawasi, mendampingi, bahkan sekadar ngobrol untuk support. Jadi benar-benar dijaga selama 24 jam," katanya.
Terkait kebutuhan pribadi seperti ke kamar kecil, salat, maupun mandi, Baltazar menyebut semua tetap dilakukan seperti biasa.
Namun, ia berusaha menjaga esensi dan 'marwah' dari konsep menari 24 jam tersebut.
"Semua tetap dilakukan seperti biasa, tapi saya berusaha menjaga kekhusyukan dan kesakralannya. Jadi walaupun tidak terlihat, saya tetap menari dari dalam diri selama 24 jam," ungkapnya.
Bagi Baltazar, Banyumas 24 Jam Ngibing bukan hanya panggung ekspresi, tetapi juga ruang penting bagi para seniman untuk menunjukkan karya kepada masyarakat luas.
Ia berharap kegiatan ini dapat terus berlangsung dan menjadi tolok ukur perkembangan seni tari, sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
"Setiap karya dan tarian pasti punya makna. Harapannya masyarakat bisa lebih memahami, dari yang tidak tahu menjadi tahu tentang seni tari," pungkasnya. (jti)