TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Berangkat dari persoalan sederhana yang kerap terabaikan, I Kadek Kamardiyana justru mampu menghadirkan solusi inovatif yang berdampak luas.
Berkat gagasannya mengolah limbah sisa upacara keagamaan Hindu Bali menjadi pakan ternak, ia dianugerahi penghargaan Citra Karya Raksita 2026 dari Pemkab Gianyar.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh I Made Mahayastra belum lama ini di Alun-Alun Gianyar, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Kamardiyana yang menjabat sebagai Kepala Lingkungan Panglan, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, mengembangkan metode pengolahan limbah berbasis fermentasi.
Baca juga: KISAH Pilu Kakak Beradik Yatim Piatu di Bukit Tuntung, Juni & Agus Bertahan Hidup dari Uluran Tangan
Bahan bakunya berasal dari sisa-sisa upacara keagamaan yang selama ini kerap terbuang tanpa pemanfaatan optimal.
Ia menuturkan, ide tersebut muncul saat pandemi Covid-19 melanda, ketika harga pakan ternak meningkat tajam dan membebani masyarakat.
“Limbah upacara di Bali cukup banyak dan belum dikelola maksimal. Dari situ saya mencoba mengolahnya menjadi pakan ternak melalui proses fermentasi,” ujarnya.
Berbekal rasa ingin tahu dan referensi yang ia pelajari secara mandiri, Kamardiyana mulai melakukan berbagai percobaan.
Prosesnya tidak mudah—kegagalan demi kegagalan sempat ia alami hingga akhirnya menemukan formulasi yang tepat.
Kerja keras tersebut kini membuahkan hasil nyata. Limbah upacara seperti penek dan jaje sarad yang sebelumnya tidak bernilai, kini dapat diolah menjadi pakan ternak bernilai ekonomis.
Selain menekan biaya produksi bagi peternak, inovasi ini juga membantu mengurangi volume sampah di lingkungan.
Lebih jauh, upaya ini turut mendorong lahirnya kesadaran kolektif masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.
Tak berhenti di situ, Kamardiyana juga mendirikan komunitas Mai Organic yang fokus pada pengembangan sistem pertanian terintegrasi.
Konsep ini menggabungkan sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan dalam satu ekosistem berkelanjutan, bahkan mulai diarahkan sebagai potensi pariwisata edukasi.
Melalui komunitas tersebut, ia aktif melibatkan generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian organik sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.
Kini, inovasi pengolahan limbah upacara tidak hanya menghadirkan nilai ekonomis, tetapi juga menjadi solusi konkret dalam menjawab persoalan sampah di Bali.
Bagi Kamardiyana, penghargaan yang diraih bukan sekadar simbol prestasi, melainkan pengingat bahwa perubahan besar bisa berawal dari langkah kecil yang dikerjakan dengan kesungguhan.
“Dari persoalan sederhana, jika dikerjakan dengan serius, bisa menghasilkan dampak yang besar,” tegasnya. (*)