TRIBUNJAMBI.COM - Kabar duka yang menyelimuti dunia medis tanah air atas berpulangnya dr. Myta Aprilia Azmi menyisakan ruang hampa bagi banyak pihak.
Sebelum takdir membawanya mengabdi sebagai Dokter Internship di RSUD Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, Sosok almarhumah ternyata telah menanam benih kesan yang begitu mendalam di hati para sejawatnya saat masih menempuh pendidikan.
Kepergian dr. Myta meninggalkan duka yang tak terlukiskan bagi keluarga dan rekan sejawat.
Terutama bagi mereka yang pernah menyaksikan langsung bagaimana dedikasinya tumbuh semasa menjalani masa Dokter Koas (Co-Assistant) di RSUD Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.
Sosok Ceria yang Menghangatkan Bangsal
Salah satu kenangan paling menyentuh datang dari dr. Hendra Cipta, dokter pembimbing yang mendampingi dr. Myta selama masa koasnya.
Melalui sebuah unggahan video di akun Instagram pribadinya, @hendracipta_surg, pada Sabtu (2/5/2026), ia membagikan kepingan memori kebersamaan mereka di rumah sakit.
Dalam video tersebut, dr. Myta Aprilia tampak begitu hidup dan bersemangat saat menjalankan tugasnya.
Baca juga: Pernyataan IDI Sumsel soal Kematian Dokter Lulusan Unsri yang Magang di RSUD Tanjabbar Jambi
Baca juga: Kronologi Penggerebekan Kos di Simpang IV Sipin, Berawal Istri Cari Suami
Narasi dalam unggahan itu melukiskan kepribadian almarhumah sebagai sosok yang tidak hanya kompeten secara medis, tetapi juga kaya akan empati.
"Dokter Myta waktu koas pernah stase bedah di RSUD Sekayu. Sosoknya sangat ceria, supel, baik hati, dan sangat care dengan pasien," tulis narasi dalam video yang dibagikan dr. Hendra Cipta.
Bagi dr. Hendra, Myta bukan sekadar murid, melainkan pribadi luar biasa yang dedikasinya layak dihormati.
Meskipun tugas internsipnya di Jambi kini terhenti selamanya, keceriaan dan cara dr. Myta memperlakukan pasien dengan penuh kasih sayang akan selalu menjadi teladan bagi rekan-rekan seprofesinya.
Melalui keterangan singkat yang sarat akan makna mendalam, sang dokter pembimbing menuliskan pesan perpisahan dalam bahasa Inggris:
"Greatly missed, forever respected" (Sangat dirindukan, dihormati selamanya).
Unggahan tersebut menjadi saksi bisu bahwa meski raga dr. Myta Aprilia Azmi telah tiada, jejak kebaikannya tetap hidup di bangsal-bangsal rumah sakit tempat ia pernah mengabdi, dari Sekayu hingga ke tanah Jambi.
Pihak RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, telah memanggil beberapa pihak untuk menggali keterangan terkait kematian dr Myta Aprilia Azmy, dokter lulusan Unsri yang sedang penugasan internship atau magang di RSUD tersebut.
Dokter Myta meninggal dunia diduga dipaksa bekerja saat sakit.
Direktur RSUD KH Daud Arif, Sahala Simatupang, menyatakan telah memanggil dokter yang sering berkomunikasi dengan dokter Myta.
Dari hasil meminta keterangan kepada dokter tersebut, Sahala menyebut bahwa dokter Myta sudah lama sakit batuk disertai sesak napas.
Baca juga: Sosok Dokter Myta Aprilia yang Meninggal saat Jalani Internship di RSUD Daud Arif Tanjabbar Jambi
Baca juga: Kesaksian Ketua RT di Telanaipura Soal Penggerebekan Dosen di Jambi, Bermula Ibu Cari Suaminya
"Sudah lama sakitnya. Dia itu masuk rumah sakit 11 Maret," katanya melalui ponsel, Sabtu (2/5/2026).
Terkait dugaan perundungan terhadap dokter Myta, Sahala membantahnya.
"Kalau di-bully, itu tidak benar. Saya sudah panggil dokter. Komite medik juga sudah saya panggil. Semua saya panggil," ujarnya.
Dokter Myta mengembuskan napas terakhir setelah kritis dan menjalani perawatan intensif di RSMH Palembang.
Baca juga: DK Dosen yang Digerebek Istrinya di Jambi, Dinonaktifkan dari Jabatan Wakil Dekan
Baca juga: Trump Sebut Narasi Kekalahan AS dari Iran Sebagai Bentuk Pengkhianatan
Baca juga: Pelanggaran Kode Etik, Peradi Jambi Bekukan Izin Beracara Rahmad Cs