TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menunjukkan tren peningkatan di sejumlah daerah di Provinsi Riau.
Dalam beberapa hari terakhir, titik api terpantau muncul di Dumai hingga Rokan Hilir (Rohil).
Atas kondisi ini, tim Manggala Agni turun tangan melakukan pemadaman.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengungkapkan, salah satu lokasi yang sempat menjadi fokus penanganan adalah di Bangsal Aceh, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai.
“Untuk di Dumai, tepatnya di Bangsal Aceh, operasi pemadaman berlangsung selama lima hari. Saat ini kondisi di lokasi tersebut sudah dinyatakan padam,” ujar Ferdian, Sabtu (2/5/2026).
Ia menyebutkan, luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.
Dalam proses pemadaman, sebanyak 30 personel dikerahkan untuk memastikan api benar-benar terkendali.
Selain Dumai, titik kebakaran juga dilaporkan muncul di wilayah Pulau Mendol.
Namun, berdasarkan informasi yang diterima, kebakaran di sana masih dapat ditangani secara mandiri oleh masyarakat setempat.
Sementara itu, kebakaran juga sempat terjadi di Kabupaten Rokan Hilir, tepatnya di wilayah Pasir Limau Kapas.
Namun, kondisi di lapangan menjadi tantangan tersendiri karena minimnya sumber air.
“Di Rohil kemarin kami hanya melakukan pemantauan ke lokasi, karena kondisi di lapangan tidak tersedia sumber air. Penanganan dilakukan melalui water bombing oleh Satgas Udara,” jelasnya.
Untuk memperkuat upaya pemadaman di Rohil, pihaknya juga mengerahkan tambahan tim dari Labuhanbatu, Sumatera Utara, yang sebelumnya tengah melakukan operasi di wilayah Panai Tengah.
“Kami minta tim dari Labuhanbatu yang sedang bertugas di Panai Tengah untuk bergeser ke Pasir Limau Kapas. Jaraknya sekitar 10 kilometer, jadi bisa cepat membantu penanganan,” tambah Ferdian.
Ia juga menegaskan bahwa upaya penanganan Karhutla tidak hanya dilakukan melalui jalur darat dan udara, tetapi juga didukung dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang hingga kini masih terus berjalan.
“Dukungan operasi modifikasi cuaca masih terus dilakukan. Kami memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk membantu wilayah-wilayah yang saat ini mulai mengalami penurunan tinggi muka air tanah (TMAT),” ungkapnya.
Dengan kondisi cuaca yang mulai kering di sejumlah daerah, Ferdian mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla yang dapat kembali meluas.
Ia menegaskan bahwa sinergi antara tim gabungan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah serta menanggulangi Karhutla di Riau.
(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)