Oleh: Dr Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy SE MM
Praktisi Keuangan sekaligus Dosen Universitas Islam Nusantara
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di tengah keluhan daya beli yang melemah, satu hal justru tumbuh cepat: keramaian. Event lari penuh, konser sold out, festival dipadati ribuan orang. Pertanyaannya sederhana—kalau ekonomi sedang sulit, uang sebanyak ini sebenarnya mengalir ke mana?
Dalam beberapa tahun terakhir, kota-kota besar di Indonesia dipenuhi oleh berbagai event—mulai dari lari maraton, konser musik, hingga festival kuliner dan budaya. Jika dulu acara seperti ini hanya dianggap sebagai hiburan, kini perannya mulai bergeser menjadi penggerak ekonomi yang signifikan.
Fenomena ini terlihat jelas dari tingginya animo masyarakat. Event lari, misalnya, tidak lagi sekadar aktivitas olahraga, tetapi telah berkembang menjadi gaya hidup. Ribuan peserta rela datang dari luar kota, bahkan luar negeri, hanya untuk berpartisipasi. Hal serupa juga terjadi pada konser dan festival, yang mampu menarik massa dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Namun, pertanyaannya: apakah event-event ini benar-benar berdampak pada ekonomi, atau hanya sekadar euforia sesaat?
Dari Start Line ke Cash Flow
Setiap event besar menciptakan efek ekonomi berantai. Ketika sebuah maraton digelar, hotel-hotel di sekitar lokasi mengalami lonjakan okupansi. Restoran, kafe, hingga pelaku usaha kecil seperti pedagang kaki lima ikut merasakan peningkatan pendapatan.
Efek ini dalam ekonomi dikenal sebagai multiplier effect—di mana satu aktivitas memicu pergerakan di berbagai sektor sekaligus. Dalam konteks ini, event bukan hanya konsumsi, tetapi juga distribusi pendapatan.
Ekonomi Pengalaman (Experience Economy)
Perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda, turut memperkuat fenomena ini. Saat ini, konsumsi tidak lagi berfokus pada barang, tetapi juga pengalaman.
Mengikuti konser, lari di event bergengsi, atau hadir di festival tertentu memberikan nilai emosional dan sosial yang tidak bisa digantikan oleh produk fisik. Inilah yang dikenal sebagai experience economy—di mana pengalaman menjadi komoditas utama.
Peluang Besar bagi UMKM
Di balik gemerlap event, terdapat peluang besar bagi pelaku UMKM. Booth makanan, merchandise lokal, hingga jasa dokumentasi menjadi bagian dari ekosistem yang terus berkembang.
Namun, tantangannya adalah memastikan UMKM tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi benar-benar mendapatkan manfaat ekonomi yang signifikan.
Euforia atau Strategi Ekonomi?
Meski memiliki dampak positif, penting untuk memastikan bahwa event tidak berhenti pada euforia. Tidak sedikit event yang ramai secara pengunjung, tetapi minim dampak ekonomi berkelanjutan.
Menuju Mesin Ekonomi Baru
Ke depan, event memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di sektor ekonomi kreatif dan pariwisata.
Penutup
Pada akhirnya, event bukan lagi sekadar hiburan—ia telah berevolusi menjadi instrumen ekonomi.
Di tengah tekanan daya beli, masyarakat tidak berhenti belanja. Mereka hanya mengalihkan cara membelanjakan uangnya.
Dan di situlah event menemukan momentumnya: bukan sekadar keramaian, tetapi ruang baru bagi ekonomi untuk terus bergerak.