Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di tengah kabar Pusat Grosir Solo (PGS) akan dijual, sebagian pedagang yang sudah pindah ke pusat perdagangan lain seperti Beteng Trade Center dan Pasar Klewer justru mengaku ingin kembali ke PGS.
Kondisi pasar di lokasi baru yang sama-sama lesu menjadi alasan utama mereka.
Meski sempat berpindah, sejumlah pedagang kini justru menilai kondisi PGS masih lebih baik dibanding pusat perdagangan lain.
“Banyak yang pengen balik. Tempat lain pun sepi juga seperti BTC, Klewer. Sepinya juga minta ampun. Masih lebih baik kondisi PGS. Pengunjungnya masih ada dan niat beli. Berharapnya investor yang baru bisa meneruskan konsep yang sudah ada,” kata Hendra Fendi, salah satu pedagang batik, Sabtu (2/5/2026).
Isu penjualan Pusat Grosir Solo (PGS) sendiri tengah ramai diperbincangkan di kalangan pedagang.
Informasi mengenai rencana pergantian pengelola disebut sudah beredar dalam beberapa waktu terakhir.
Baca juga: Banyak Pedagang Angkat Kaki Pasca Pusat Grosir Solo Dijual, Tak Kuat Sewa Stand Rp70-100 Juta/tahun
Salah satu pedagang batik, Hendra Fendi, mengaku telah menerima informasi tersebut dan menyebut komunikasi terkait pergantian pengelola sudah berjalan.
“Dalam 1-2 bulan ini mungkin. Ada komunikasi. Dari owner lama tidak meneruskan. Masa sewanya sudah habis,” ungkapnya.
Di tengah ketidakpastian ini, pedagang berharap investor baru mampu menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak, terutama dalam hal harga sewa kios.
“Kita berharapnya investor baru bisa lebih bijak pengelolaannya. Terjangkau sesuai dengan kondisi. Yang relevan yang masuk akal,” terangnya.
Selama ini, lonjakan harga sewa menjadi keluhan utama. Banyak pedagang terpaksa hengkang karena tidak mampu menanggung biaya yang melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat.
Baca juga: Agenda Solo 2 Mei 2026 : Festival Kuliner, Night Market hingga Expo Seru Saat Long Weekend
“Semua pedagang PGS tidak ada yang mau pindah. Cuma kan terpaksa pindah harga yang ditawarkan nggak masuk akal. Bisa 2-3 kali lipat dari harga normal. Satu stand bisa sampai Rp 70-100 juta untuk satu tahunnya. Apalagi kondisi yang tambah menurun,” terangnya.
Sebagai solusi sementara, pengelola sebelumnya sempat menawarkan skema sewa jangka pendek yang dinilai lebih ringan.
“Waktu itu sempat kontrak 20 tahun sudah habis. Sebagian pertama kali harganya tinggi pedagang banyak yang melanjutkan. Ternyata disewakan lagi dengan jangka waktu lebih pendek jadi lebih terjangkau. Sampai saat ini sudah berjalan seperti biasa. Saya perpanjang sampai 6 bulan, sampai Juli. Sampai mencari investor baru,” tuturnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa masa depan PGS sangat bergantung pada kebijakan pengelola baru, terutama dalam menjaga keseimbangan antara biaya sewa dan keberlangsungan usaha pedagang.