TRIBUNJAKARTA.COM, KALIDERES - Puluhan tahun menekuni usaha produksi tempe, Kasnoto (61) mengaku baru kali ini alami kenaikan harga plastik yang cukup drastis.
Yang makin mengherankannya lantaran kenaikan plastik itu merupakan dampak perang yang tengah terjadi di Timur Tengah.
"Jujur baru kali ini plastik bisa naik drastis. Makin kaget lagi ternyata karena dampak perang," kata Kasnoto saat ditemui TribunJakarta.com di tempat produksi tempe miliknya di Komplek Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) di kawasan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (2/5/2026).
Dikatakan Kasnoto, kenaikan harga plastik terjadi dua bulan terakhir atau sejak memanasnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Ia mengungkapkan kenaikan harga plastik saat ini sudah di luar kewajaran. Kasnoto menyebut istilah "ganti harga" karena lompatannya yang mencapai dua kali lipat.
"Kenaikan harga plastik itu bukan naik lagi, tapi ganti harga. Dulu harganya Rp 28 ribu sampai Rp 29 ribu, sekarang sudah Rp 55 ribu sampai Rp 56 ribu per kilonya," ujar Kasnoto.
Ia menjelaskan, selisih kenaikan harga plastik tersebut sangat signifikan bagi pengrajin kecil sepertinya.
Sebab, jika ia membeli plastik dalam jumlah besar, akumulasi kenaikannya bahkan setara dengan biaya untuk menggaji seorang karyawan.
"Kenaikannya itu bisa buat bayar karyawan, Pak. Kita beli 10 kilo saja, selisih naiknya sudah Rp 250 ribu. Padahal kita butuh plastik itu bukan cuma satu-dua kwintal," ujarnya.
Imbas dari mahalnya plastik dan fluktuasi harga kedelai membuat Kasnoto terpaksa mengambil langkah pahit yakni memangkas jumlah produksi.
Pria yang biasanya mampu mengolah hingga 1 ton kedelai per hari ini, kini hanya berani memproduksi setengahnya.
"Biasanya kita satu ton, sekarang cuma 5 kuintal. Kita kurangi produksinya karena daya beli masyarakat juga turun drastis.
Ada kenaikan harga sedikit saja, pembeli langsung nggak ada," tuturnya.
Tak hanya produksi yang menyusut, Kasnoto juga terpaksa mengurangi jumlah karyawan demi menjaga dapur tetap ngepul.
"Biasanya omzet itu Rp 1 juta sehari, sekarang karena produksi turun, omzet juga paling Rp 500 ribu, bahkan Rp 300 ribu," tuturnya.
Selain harga yang mahal, mendapatkan stok plastik pun kini bak mencari jarum dalam jerami.
Para pedagang plastik mengaku kesulitan mendapatkan pasokan dari pabrik, sehingga pengrajin harus memesan terlebih dahulu.
"Sekarang agak susah stoknya, mesti pesen dari jauh-jauh hari karena pedagangnya enggak berani nyetok banyak takut harganya besok turun, jadi mereka juga main aman," kata Kasnoto.
Ia pun mengkritik imbauan pemerintah yang meminta untuk beralih menggunakan daun pisang sebagai pengganti plastik.
"Pemerintah bilang suruh ganti pakai daun, lah ladangnya daun pisang itu dari mana? Satu ikat daun saja Rp 15 ribu, itu cuma jadi berapa lonjor tempe? Harganya jadi lebih mahal lagi nanti," tegasnya.
Selain plastik, harga bahan baku kedelai impor asal Amerika Serikat yang naik bertahap juga menjadi tantangan lain bagi para pengrajin tempe seperti Kasnoto.
“Naiknya memang cuma sekitar Rp 1000 per kilogram atau Rp 100 ribu per kuintal. Dari Rp 950 ribu sekarang Rp1,1 juta. Tapi tetap aja kalau enggak dikendalikan nanti makin tinggi harganya,” ujarnya.
Selain itu, harga gas yang naik dan ketersediaan kayu bakar yang semakin sulit juga menambah beban produksi.
"Sekarang gas juga naik. Kita di sini udah enggak pakai kayu bakar karena cari kayunya juga udah susah," tuturnya.
Kasnoto pun berharap pemerintah segera turun tangan memperhatikan nasib pengrajin tahu dan tempe.
Sebagai penyedia makanan rakyat yang paling terjangkau, ia khawatir tempe akan hilang dari pasaran jika beban biaya produksi terus membengkak.
"Tolonglah pengrajin tahu tempe diperhatikan. Ini makanan merakyat, makanan pokok. Harapan saya harga kacang diturunkan dan harga-harga lain distabilkan," paparnya.